- Oleh: Agustinus Tedja Bawana
September 2026
Terinspirasi dari gagasan Byung-Chul Han dalam Vita Contemplativa, serta kegelisahan tentang pemerintahan, korupsi, bencana, dan kemerdekaan berpikir.
Kepekaan kritis dan keberanian untuk mengkritik adalah tanda bahwa kehidupan intelektual suatu masyarakat belum mati. Kritik bukan sekadar ngedumel. Ia dapat menjadi bentuk kepedulian ketika lahir dari keberanian untuk melihat kenyataan, memeriksa fakta, dan mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap sudah sewajarnya.
Di sinilah gagasan Vita Contemplativa dari Byung-Chul Han terasa relevan. Kehidupan modern bergerak begitu cepat. Kita dituntut untuk bereaksi, berkomentar, bekerja, menghasilkan, tampil, dan mempertahankan eksistensi. Dalam keadaan seperti itu, manusia memiliki semakin sedikit kesempatan untuk berhenti, mengamati, mendengarkan, dan memahami.
Padahal, diam tidak selalu berarti pasif.
Kontemplasi justru dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap kehidupan yang memaksa kita untuk terus bereaksi.
Ketika Negara Terlalu Sibuk Mendengar Kebisingan
Pemerintahan bisa tampak ambigu ketika terlalu banyak mendengar suara, tetapi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana pengetahuan, mana kepentingan, mana ketakutan, dan mana ego.
Demokrasi memang membutuhkan banyak suara. Namun, banyak suara tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Di tengah kebisingan opini massa, algoritma media sosial, kepentingan politik, kepentingan modal, pencitraan, serta pertarungan eksistensi kelompok, masyarakat akhirnya seperti penonton sebuah panggung besar. Kita melihat begitu banyak orang berbicara, tetapi semakin sulit mengetahui siapa yang benar-benar mendengarkan.
Kebebasan kemudian menjadi paradoks.
Kita merasa bebas berbicara, tetapi pikiran kita dapat diarahkan oleh apa yang paling sering muncul di layar. Kita merasa bebas memilih, tetapi pilihan-pilihan itu dapat dibentuk oleh algoritma, kepentingan ekonomi, afiliasi kelompok, dan emosi massa.
Maka, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan sekadar kebebasan berbicara. Kemerdekaan adalah kemampuan untuk tidak membiarkan pikiran kita dikendalikan oleh kebisingan.
Korupsi dan Keberanian Melawan Arus
Perang melawan korupsi juga tidak cukup dijadikan slogan.
Korupsi hidup bukan hanya melalui uang yang berpindah secara ilegal. Ia dapat memperoleh kekuatan dari budaya diam, kompromi kepentingan, loyalitas kelompok, ketakutan kehilangan posisi, serta normalisasi terhadap perilaku yang sebenarnya diketahui keliru.
Karena itu, orang yang sungguh-sungguh melawan korupsi sering menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar menemukan siapa mengambil apa.
Ia sedang berhadapan dengan sebuah ekosistem.
Di sinilah kontemplasi menjadi tindakan politis. Manusia perlu memiliki jarak dari kepentingannya sendiri agar mampu bertanya:
«Apakah yang saya bela benar-benar kepentingan masyarakat, atau sebenarnya hanya kepentingan kelompok saya sendiri?»
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa jauh lebih mengganggu kekuasaan daripada seribu slogan.
Bencana Alam Membuka Kedok Pencitraan
Pengalaman kebencanaan memberi pelajaran yang lebih keras lagi.
Gempa di NTT, aktivitas Lewotobi, Anak Krakatau, maupun gunung-gunung api Indonesia lainnya mengingatkan bahwa alam tidak mengikuti konferensi pers, kepentingan politik, ataupun kebutuhan pencitraan manusia.
Namun, satu hal penting harus dijaga: kritik terhadap penanganan bencana tetap harus berpijak pada ilmu pengetahuan.
Gempa susulan yang lebih besar, misalnya, tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seorang ilmuwan berbohong atau tidak kompeten. Ilmu kebumian bekerja dengan probabilitas dan ketidakpastian. Justru pemerintah dan para ahli berkewajiban mengomunikasikan ketidakpastian tersebut secara jujur.
Yang patut dikritik adalah ketika ketidakpastian ilmiah dipoles menjadi kepastian demi menenangkan publik.
Ketika retakan, aktivitas seismik, kerentanan bangunan, atau indikator risiko menunjukkan keadaan yang perlu diwaspadai, negara seharusnya tidak hanya hadir dalam bentuk pernyataan.
Mitigasi bukan sinema publik.
Ia harus terlihat dalam kesiapan evakuasi, pemetaan risiko, jalur pengungsian, logistik, perlindungan kelompok rentan, komunikasi yang transparan, kesiapan SAR, serta keberanian mengambil keputusan sebelum korban berjatuhan.
Bantuan kepada korban pun jangan berubah menjadi panggung angka. Besar-kecilnya bantuan harus dibaca melalui kebutuhan nyata para penyintas dan dampaknya, bukan berdasarkan seberapa mengesankan nominal tersebut terdengar di depan kamera.
Alam Tidak Membutuhkan Pengakuan Manusia
Gunung meletus tanpa meminta persetujuan kita.
Bumi bergeser tanpa membaca pernyataan pejabat.
Laut naik tanpa mengetahui siapa yang sedang berkuasa.
Ada sesuatu yang sangat kontemplatif dalam kenyataan tersebut: alam meruntuhkan ilusi bahwa manusia adalah pusat segala sesuatu.
Barangkali, inilah salah satu pesan yang dapat kita tarik dari Vita Contemplativa. Manusia modern begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat.
Kita mengukur keberhasilan dari aktivitas: berapa rapat dilakukan, berapa kunjungan dilaksanakan, berapa unggahan diterbitkan, berapa bantuan diumumkan.
Padahal, pertanyaan masyarakat jauh lebih sederhana:
«Apakah penderitaan berkurang?
Apakah korban terlindungi?
Apakah korupsi berkurang?
Apakah kebijakan benar-benar bekerja?»
Jika tidak, kesibukan hanyalah kesibukan.
Masyarakat Sedang Membuka Tabir Kemerdekaan
Eksekutif, legislatif, yudikatif, akademisi, media, ilmuwan, aktivis, bahkan masyarakat sendiri tidak boleh ditempatkan di luar kritik.
Namun, kritik yang matang juga tidak boleh berubah menjadi kebencian.
Kritik harus memiliki keberanian untuk memeriksa fakta, termasuk fakta yang ternyata bertentangan dengan keyakinan kita sendiri.
Sebab, masyarakat Indonesia sedang belajar membuka satu tabir penting tentang kemerdekaan: ternyata merdeka secara politik belum tentu berarti merdeka dalam berpikir.
Kita dapat terjajah oleh uang.
Kita dapat terjajah oleh jabatan.
Kita dapat terjajah oleh algoritma.
Kita bahkan dapat terjajah oleh ego dan keyakinan kita sendiri.
Karena itu, mungkin revolusi yang kita perlukan tidak selalu dimulai dari keramaian. Sebagian justru bermula dari kesanggupan manusia untuk berhenti sejenak—melihat lebih lama, mendengar lebih dalam, membaca data dengan sabar, dan bertanya sebelum mengikuti arus.
Vita contemplativa bukan ajakan untuk melarikan diri dari dunia.
Ia dapat dibaca sebagai ajakan untuk kembali kepada dunia dengan kesadaran yang lebih jernih.
Sebab, negara tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cepat bertindak. Negara membutuhkan manusia yang cukup tenang untuk mengetahui kapan harus bertindak, mengapa harus bertindak, dan untuk siapa tindakan itu dilakukan.
Dan ketika kekuasaan mulai terlalu sibuk berbicara tentang apa yang telah dikerjakannya, mungkin tugas masyarakat adalah tetap cukup hening untuk bertanya:
«“Yang telah dilakukan itu sesungguhnya untuk menyelesaikan penderitaan rakyat, atau sekadar agar terlihat sedang bekerja?”»
Di situlah kritik menemukan martabatnya.
Di situlah kontemplasi berubah menjadi keberanian.
Dan mungkin, di situlah kemerdekaan berpikir sesungguhnya dimulai.












