BACATODAY.COM – Seorang pria berinisial AF (32) ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di kediamannya di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, atas dugaan keterlibatan dalam jaringan teroris Jamaah Anshor Daulah (JAD). AF diketahui aktif menyebarkan propaganda ekstremis melalui media sosial dan telah lama berada dalam radar pengawasan karena keterpaparannya sejak duduk di bangku kuliah.
AF, yang merupakan mantan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), disebut mulai mengadopsi paham radikal saat masih berstatus mahasiswa sebelum akhirnya dikeluarkan dari kampus. Ironisnya, pria ini berasal dari keluarga besar aparat kepolisian—termasuk jenderal dan perwira menengah—yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga ideologi kebangsaan.
Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, yang pernah menangani AF, menuturkan bahwa latar belakang keluarga aparat tidak menjamin seseorang bebas dari pengaruh radikal. Ia mencontohkan pula kasus Bripda Nesti Ode Sami dan Sofyan Tsauri, dua anggota kepolisian yang sebelumnya terpapar paham serupa dan terbukti berafiliasi dengan jaringan teroris.
“AF dulu bahkan sempat mengancam akan membunuh kedua orang tuanya dan memaksa mereka mengungsi. Ia membuat surat wasiat dan mengecat rumah dengan kalimat tauhid, tanda bahwa ia siap bergabung dalam perjuangan ekstremis ke luar negeri,” ujar Ken.
Setelah sempat menjalani proses pemulihan dan dipindahkan ke Sumatra oleh pihak keluarga agar menjauh dari lingkungan yang memicunya, AF kembali menunjukkan gejala keterpaparan paham radikal. Hal ini berujung pada penangkapannya oleh Densus 88.
Ken mengingatkan masyarakat bahwa radikalisme bisa mengintai siapa saja, tanpa memandang latar belakang pendidikan, usia, maupun profesi. Ia juga menyoroti minimnya sosialisasi bahaya radikalisme dalam beberapa tahun terakhir akibat pemangkasan anggaran program deradikalisasi oleh pemerintah.
“Masyarakat harus peka dan tidak ragu melapor bila menemukan indikasi penyebaran paham ekstrem. Radikalisme tak mengenal batas dan bisa masuk ke rumah siapa saja—termasuk rumah aparat,” tegas Ken.
Penangkapan AF menambah daftar panjang pemuda Indonesia yang terjerat ideologi kekerasan dan jaringan terorisme. Densus 88 pun intensif melakukan operasi di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir guna meredam potensi ancaman serupa. (had)












