Festival Muria Raya #6: Ketika Tradisi Berjalan, Bertemu, dan Menemukan Bentuk Baru

Pembukaan Festival Muria Raya (FMR) #6, 5 Agustus 2026. (ist)

Belasan musisi dari Prancis memainkan gamelan di Desa Menawan, Kudus, pada pembukaan Festival Muria Raya (FMR) #6, 5 Agustus 2026. Tabuhan gamelan berpadu dengan saxophone, trombone, dan terompet, sementara tiga penari Indonesia bergerak di antara komposisi musik tersebut.

Mereka adalah Compagnie Kotekan, kelompok gamelan asal Prancis, yang tampil bersama Gayam 16 Yogyakarta. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu penampilan yang mencolok karena mempertemukan gamelan dengan instrumen musik modern dalam sebuah kolaborasi lintas budaya.

Secara artistik, Compagnie Kotekan dipimpin musisi sekaligus komponis Jean-Pierre “Pawak” Goudard. Hubungannya dengan gamelan bermula ketika ia belajar gamelan di Bali sekitar tahun 2000. Setelah itu, ia membawa gamelan ke Prancis dan mengajak musisi, teman, serta murid untuk mempelajarinya.

“Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama,” kata Sarah Andrieu, Presiden Compagnie Kotekan.

Pada pembukaan tersebut turut hadir komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus dan Yuta Kuroki dari Jepang. Yuta membawakan Kijin Kagura, tari ritual dari Shiiba, Miyazaki. Berasal dari garis keturunan penari Kagura, Yuta juga mengikuti program residensi bersama seniman dan masyarakat Muria.

Menapak dalam Sebuah Lingkaran

FMR #6 berlangsung sepanjang 5–30 Agustus 2026. Setelah pembukaan melalui Tepuk Gelang di Desa Menawan pada 5 Agustus, perjalanan berlanjut ke Desa Japan pada 21 Agustus melalui Tumapaking Cakra Manggilingan. Rangkaian kemudian mencapai babak akhir di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati, pada 29–30 Agustus.

Tema “Tepuk Gelang” menggambarkan dua ujung yang bertemu dan membentuk sebuah lingkaran. Bagi Brian Trinanda K. Adi, Ketua Yayasan Festival Muria Raya, lingkaran tersebut menjadi simbol persaudaraan.

Kandidat doktor di Amsterdam School for Cultural Analysis (ASCA), University of Amsterdam, itu menjelaskan, “Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antarsesama manusia dan juga dengan sesama makhluk serta elemen alam, termasuk tumbuhan, binatang, air, angin, tanah, dan api, sekaligus saling mendoakan.”

Perjalanan semacam ini telah menjadi bagian dari sejarah FMR. Festival tersebut pertama kali berlangsung di Pati pada 2020, kemudian bergerak ke Jepara dan Kudus dengan rute mengelilingi Gunung Muria atau pradaksina.

Bagi Brian, perjalanan tersebut merupakan sebuah “perjalanan spiritual” untuk mengikat persaudaraan masyarakat se-Muria Raya agar tidak terputus.

Ketika Desa Menjadi Ruang Belajar

Di Desa Japan, proses tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Shafira Onky Parasmita atau Rara mengajarkan tembang macapat kepada anak-anak dan remaja Desa Japan. Ia juga terlibat dalam musik untuk kolaborasi Yuta Kuroki dengan anak-anak sekolah dasar setempat.

Salah satu seniman lokal yang terlibat adalah Cucu Khabib Yahya. Ia tampil dengan wayang kulit Bedhol Kayon, lakon Ngguyang Sengkolo, kemudian dilanjutkan Tari Bujang Ganong.

Pengalaman berproses bersama seniman lain membuatnya melihat kesenian tidak semata-mata sebagai pekerjaan panggung.

“Dari mereka saya belajar bahwa seni tidak semata-mata soal uang, melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan,” ungkapnya.

Perjumpaan tersebut juga memberi pengaruh kepada M. Choirul Anam, pemuda Desa Japan. Ia memperoleh pengetahuan mengenai pengarsipan sejarah desa dan terdorong untuk menelaah kembali kondisi lingkungan sosial di sekitarnya.

Tradisi yang Berani Berubah

Salah satu contoh bagaimana tradisi menemukan bentuk baru adalah Gatotkaca, Gamelan Total Kaca. Karya yang dikembangkan melalui perjalanan FMR tersebut kembali hadir dalam FMR #6 melalui Nyai Murbeng Lungit, bersama Gempur Sentosa dari Subang dan Jawara Squad.

Gatotkaca diciptakan dari limbah kaca yang dilebur dalam tungku khusus. Prosesnya melewati berbagai tahapan, mulai dari riset, pengembangan organologi, hingga menghasilkan instrumen yang dapat dimainkan sebagai perangkat musik.

Karya tersebut menjadi antitesis dari anggapan bahwa menjaga tradisi berarti tidak boleh mengubah apa pun. Tradisi juga dapat hidup melalui perubahan, percobaan, dan proses adaptasi.

Dalam eksperimen tersebut, pengetahuan tentang gamelan bertemu dengan material yang tidak lazim. Yang dipertahankan bukan semata-mata bentuk bendanya, melainkan kemungkinan agar pengetahuan lama tetap menemukan cara baru untuk digunakan.

Lingkar Persaudaraan yang Terus Meluas

Menjelang babak akhir di Jepalo, jejaring FMR memperlihatkan bentang yang semakin luas. Program residensi melibatkan sejumlah seniman, antara lain Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad.

Lingkar perjumpaan itu juga diisi seniman dari berbagai daerah, antara lain Pepep D.W. dari Bandung, Welda Sanavero dari Blora, Gempur Sentosa dari Bandung, Subang Nyeni dari Sumbang, serta Sigit Febrianto bersama Jawara Squad dari Bandung.

Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa FMR tidak hanya mempertemukan satu jenis kesenian atau satu wilayah, tetapi juga seniman dan kelompok dengan latar belakang yang beragam.

Pada 29–30 Agustus, berbagai proses tersebut dipresentasikan di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, melalui Gelar Cakra Manggilingan. Pameran menghadirkan karya dari program Artists and Experts in Residence, Bala-Bala Muria, dan para seniman kolaborator.

Malam 29 Agustus menghadirkan Langgeng Culture Center, Rendra Bagus Pamungkas, Mawlana Jawi, Deny Dumbo, Danar Agung, Gatotkaca, Sutanto Mendut, Y. Agung Wibowo, Rara Kencana, Mbah Lawu Warta, Subang Nyeni, Lakonika, Cucu Khabib Yahya bersama seniman residensi, serta Yuta Kuroki.

Pada 30 Agustus, rangkaian berlanjut dengan Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta, Temu Cakap Desa, dan SVRNSA dari Blora. Rangkaian tersebut sekaligus menjadi penutup perjalanan FMR #6 sepanjang Agustus.

Prasasti Batu sebagai Simbol Persaudaraan

Ada pula Prasastu, sebuah batu yang menjadi salah satu penanda perjalanan FMR. Batu tersebut dipahat dengan Aksara Waja dan dibawa dalam rangkaian kegiatan sebagai simbol persaudaraan antara festival dan masyarakat.

Maliyana Nur Rahma, bagian dari Tim Media Festival Muria Raya, melihat FMR sebagai sesuatu yang melampaui agenda pertunjukan.

“Festival Muria Raya bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa,” ujarnya.

Setiap babak, menurutnya, menjadi “laboratorium perjumpaan dan jembatan persaudaraan”. Baginya, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bekal bagi masa depan. Perjumpaan, karya, dan dialog menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

Ke Mana Perjumpaan Akan Berlanjut?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika sebuah festival yang tumbuh dari masyarakat telah menyelesaikan satu putaran. Jika FMR mampu mempertemukan seniman, warga, anak-anak, pengetahuan lokal, dan jejaring dari berbagai daerah, apa yang diperlukan agar hubungan tersebut tidak berhenti ketika festival berakhir?

Kerja kebudayaan semacam ini membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Negara memiliki sekolah, lembaga kebudayaan, arsip, kebijakan, dan jaringan yang dapat memperkuatnya. Sementara itu, inisiatif masyarakat tetap menjadi sumber energi yang membuatnya tumbuh.

Tantangannya adalah menemukan bentuk hubungan yang saling menguatkan: dukungan yang memperluas kemungkinan, tetapi tidak mengambil alih sesuatu yang sejak awal tumbuh dari bawah.

Cakra Manggilingan menggambarkan kehidupan seperti air yang mengalir dari mata air menuju sungai dan samudra, kemudian kembali dalam sebuah siklus. Dalam gagasan FMR, demikian pula warisan leluhur: diterima oleh generasi sekarang untuk kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya.

Enam edisi FMR memperlihatkan bahwa perjalanan kebudayaan tidak harus selalu berjalan lurus. Gamelan dapat dimainkan musisi Prancis dan dipertemukan dengan saxophone, trombone, serta terompet. Kagura Jepang dapat bertemu dengan anak-anak Muria. Gamelan dapat dibuat dari kaca. Cerita desa dapat mulai diarsipkan.

Yang menentukan bukan hanya apakah sebuah festival dapat digelar kembali, tetapi apakah perjumpaan yang diciptakannya menghasilkan sesuatu yang dapat diteruskan.

Di Jepalo, satu putaran FMR #6 telah selesai.

Putaran berikutnya kini berada di tangan mereka yang meneruskannya. (*)