BACATODAY.COM – Universitas Negeri Malang (UM) terus memperluas kiprah internasionalnya di bidang pendidikan melalui penyelenggaraan 7th International Summer Course Program 2026. Mengusung tema “Beyond Sustainability: Orchestrating Regenerative Tourism for a Thriving Future”, kegiatan yang digelar Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM ini berlangsung selama 24 Agustus hingga 4 September 2026.
Program tersebut diikuti sebanyak 245 peserta yang berasal dari 24 negara di kawasan Asia, Eropa, dan Afrika. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang negara menjadikan Summer Course sebagai sarana untuk memperluas pertukaran wawasan sekaligus membangun jejaring akademik di tingkat global.
Mengusung konsep Global Knowledge Exchange, kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan akademisi serta praktisi internasional untuk membahas perkembangan pariwisata regeneratif. Materi pembelajaran dibagi ke dalam empat bahasan utama, yakni Circular Economy in Hospitality, Indigenous Wisdom, Carbon-Positive Travel, serta AI and Smart Technology in Modern Travel.
Ketua Pelaksana 7th International Summer Course Program 2026, Elya Kurniawati, S.T.P., S.E., M.M., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang tidak sekadar memperkenalkan konsep keberlanjutan. Para peserta juga diajak memahami bagaimana sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Elya, Summer Course ini dihadirkan sebagai ruang pertukaran pengetahuan global yang mendorong pergeseran cara pandang dari sekadar menjaga lingkungan menuju upaya aktif untuk memulihkan dan menghidupkan kembali ekosistem serta komunitas yang berkaitan dengan pariwisata.
Dalam pelaksanaannya, program menghadirkan 18 narasumber yang berasal dari tujuh negara, meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Uni Emirat Arab, dan Filipina. Kolaborasi juga dibangun bersama sejumlah institusi pendidikan tinggi dari berbagai negara, seperti Universiti Kuala Lumpur, Universiti Sains Malaysia, University of the Immaculate Conception, University of Oradea, Universiti Teknologi Malaysia, St. Mary’s College of Tagum, Central Philippines State University, serta Urdaneta City University.
Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi dua format. Tahap pertama digelar secara daring pada 24–28 Agustus 2026. Pada tahap ini, peserta mengikuti berbagai sesi akademik, diskusi, dan pertukaran pengalaman untuk mendapatkan pemahaman mengenai konsep serta praktik pariwisata regeneratif dari perspektif internasional.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan secara tatap muka pada 31 Agustus hingga 4 September 2026. Sesi luring dikemas melalui rangkaian kunjungan lapangan atau field trip sehingga peserta dapat menghubungkan materi yang diperoleh selama pembelajaran dengan praktik pengelolaan destinasi secara langsung.
Sejumlah lokasi di Malang dan wilayah sekitarnya menjadi bagian dari kegiatan lapangan tersebut. Peserta antara lain berkunjung ke lingkungan UM untuk melihat penerapan konsep Green Campus, Gunung Bromo, Clungup Mangrove Conservation (CMC), Pujon Kidul, Kampung Warna-Warni, hingga Kampung Heritage Kayutangan.
Setiap destinasi memberikan pengalaman dan sudut pandang berbeda bagi peserta. Mereka dapat mempelajari pengelolaan kawasan wisata, upaya pelestarian lingkungan, peran masyarakat dalam pengembangan destinasi, penguatan ekonomi lokal, hingga pentingnya menjaga nilai budaya dalam aktivitas pariwisata.
Elya menyampaikan bahwa pengalaman di lapangan menjadi salah satu elemen penting dalam proses pendidikan yang dikembangkan melalui Summer Course. Menurutnya, pembelajaran tidak seharusnya hanya berlangsung melalui materi di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan lingkungan serta masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan acara perayaan yang menghadirkan pertunjukan musik dan tarian tradisional Indonesia. Selain menjadi penanda berakhirnya program, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi peserta, pembicara, panitia, dan mitra internasional untuk merefleksikan berbagai pengalaman yang telah dilalui sekaligus mempererat hubungan lintas budaya.
Penyelenggaraan 7th International Summer Course Program 2026 juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Dari sisi pendidikan, program ini mendukung SDG 4 tentang Quality Education melalui proses pembelajaran dan pertukaran pengetahuan yang melibatkan peserta dari berbagai negara.
Kolaborasi UM dengan berbagai perguruan tinggi internasional turut mencerminkan semangat SDG 17, yakni Partnerships for the Goals. Sementara itu, pembahasan mengenai pariwisata regeneratif, pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi lokal juga memiliki keterkaitan dengan SDG 8, SDG 11, dan SDG 13.
Melalui pelaksanaan Summer Course tersebut, UM tidak hanya memperluas jaringan kerja sama akademik di tingkat internasional, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran yang memadukan teori, praktik lapangan, isu lingkungan, teknologi, keberlanjutan, dan keberagaman budaya.(nrl/yog)












