UM Bedah Buku Irian Barat, Bahas Intrik Global dan Dinamika Sejarah Indonesia

Dari Irian Barat hingga Geopolitik Global, UM Buka Ruang Dialog Sejarah.(Foto : um.id)

BACATODAY.COM – Universitas Negeri Malang (UM) mengadakan kegiatan bedah buku Irian Barat: Intrik Global dalam Bayang-Bayang Pembunuhan Kennedy karya Yusron Ihza Mahendra. Acara tersebut berlangsung di Ruang Baca Du Xiu Shu Fang, Perpustakaan UM, Senin (5/10), mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., pembahas Indah Wahyu Puji Utami, serta Nora Titahning Ayudha yang bertugas sebagai moderator. Forum ini menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk membahas sejarah Irian Barat dengan mengaitkannya pada perkembangan geopolitik serta perubahan situasi politik dunia.

Karya Yusron mengulas perjalanan sejarah Irian Barat dengan mengambil latar masa Perang Dingin, ketika persaingan ideologi serta kepentingan politik dan ekonomi antarnegara turut memengaruhi berbagai peristiwa dunia. Buku tersebut memadukan unsur sejarah dan fiksi untuk membangun cerita yang menghubungkan sejumlah kejadian di Indonesia dengan perkembangan politik internasional.

Salah satu peristiwa global yang turut disinggung dalam buku itu adalah pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada 1963. Melalui pendekatan tersebut, pembaca diajak melihat bahwa berbagai peristiwa sejarah tidak selalu berdiri sendiri, melainkan dapat memiliki hubungan dengan kondisi politik dan kekuatan global pada masa yang sama.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. mengapresiasi karya Yusron Ihza Mahendra yang dinilai mampu menawarkan sudut pandang berbeda kepada pembaca. Menurutnya, karya seperti ini dapat membantu memperluas wawasan sehingga suatu persoalan tidak hanya dilihat dari satu sisi atau dalam lingkup yang sempit.

“Bagaimana kita bisa mengembangkan cakrawala kalau cakrawala kita masih sempit,” kata Prof. Hariyono.

Ia kemudian mencontohkan persoalan Irian Barat yang menurutnya menarik untuk dikaji dalam perspektif yang lebih luas. Permasalahan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hubungan antara Papua dan pemerintah pusat, tetapi juga dapat dilihat dengan mempertimbangkan kepentingan serta pengaruh berbagai kekuatan global.

Prof. Hariyono turut menyoroti posisi perguruan tinggi dalam membangun kebiasaan berpikir kritis. Menurutnya, keberhasilan sebuah kampus tidak cukup hanya diukur melalui posisi dalam pemeringkatan perguruan tinggi. Institusi pendidikan juga perlu berkontribusi terhadap perkembangan wacana publik serta membantu masyarakat memahami persoalan nasional dalam kaitannya dengan dinamika dunia.

“Ketika kita ingin UM menjadi kampus besar, kampus yang ikut berpengaruh dalam wacana, problemnya bukan hanya kita masuk peringkat berapa, tetapi bagaimana kita memahami kekuatan global yang bermain,” ujarnya.

Di sisi lain, Yusron Ihza Mahendra menerangkan bahwa buku Irian Barat disusun dengan menggabungkan data dan referensi sejarah bersama elemen fiksi. Ia memperkirakan sekitar 65 hingga 70 persen isi novel berasal dari berbagai sumber sejarah dan referensi, sementara sisanya merupakan bagian fiksi yang digunakan untuk menyusun alur cerita.

“Tanpa fiksi, bagaimana saya bisa membangun ceritanya,” jelas Yusron.

Latar belakang Yusron sebagai wartawan selama kurang lebih sepuluh tahun, peneliti, sekaligus penulis turut memberikan pengaruh dalam proses penyusunan karya tersebut. Ia mengakui bahwa menulis novel memiliki tantangan berbeda karena fakta sejarah harus diolah menjadi cerita yang menarik tanpa kehilangan pijakan referensinya.

Menurut Yusron, keberadaan referensi menjadi unsur penting dalam proses kreatifnya. Karena itu, sejumlah bagian dalam novel dilengkapi dengan catatan kaki dan sumber rujukan sebagai pendukung informasi yang digunakan dalam cerita.

Bedah buku yang digelar UM tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan karya yang menggabungkan sejarah dan sastra. Diskusi juga berkembang pada berbagai persoalan yang berkaitan dengan sejarah Indonesia, ekonomi politik, investasi asing, hingga pengaruh kekuatan global terhadap suatu peristiwa.

Kegiatan tersebut sekaligus mendukung penerapan Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Bermutu. Melalui forum diskusi dan literasi seperti ini, sivitas akademika didorong untuk terus memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan membaca secara kritis, serta mengembangkan pola pikir yang tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas.

Melalui penyelenggaraan bedah buku tersebut, UM kembali memperkuat perannya sebagai ruang akademik yang mendorong budaya membaca dan pertukaran gagasan. Buku Irian Barat diharapkan tidak hanya dipahami sebagai sebuah karya sastra sejarah, tetapi juga dapat memicu sivitas akademika untuk lebih kritis dalam membaca berbagai persoalan serta melihat hubungan antara peristiwa nasional dan dinamika global.(nrl/yog)