Musisi Pro-Palestina Gelar Konser Tandingan Eurovision di Brussels

Boikot Eurovision, Musisi dan Aktivis Gelar Konser Tandingan.(Foto : hidayatullah.com)

BACATODAY.COM – Gelombang protes terhadap Israel terus muncul dalam berbagai bentuk kreatif. Salah satunya dilakukan para musisi dan aktivis pro-Palestina melalui konser alternatif Eurovision bertajuk “United for Palestine” yang digelar di Brussels pada Selasa malam.

Dalam acara tersebut, penyanyi dan penulis lagu Palestina Bashar Murad tampil membawakan lagu “I Wish I Knew How It Would Feel to Be Free” milik Nina Simone dalam bahasa Inggris dan Arab. Penampilannya yang penuh emosi mendapat sambutan meriah dari penonton dan menjadi salah satu sorotan utama konser.

Konser ini merupakan bagian dari gerakan protes terhadap Eurovision Song Contest yang tahun ini merayakan ulang tahun ke-70 dengan slogan “United by Music.” Para pengkritik menilai slogan tersebut tidak sejalan dengan situasi yang dialami rakyat Palestina akibat konflik yang masih berlangsung.

Tahun ini, lima negara yakni Spanyol, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Islandia memutuskan memboikot Eurovision karena partisipasi Israel. Meski begitu, peserta dari negara lain tetap mengikuti kompetisi yang digelar di Wina.

Aksi solidaritas serupa juga berlangsung di sejumlah negara Eropa lain seperti Austria, Jerman, Italia, Slovenia, dan Spanyol. Para aktivis berharap tekanan publik dapat mendorong penyelenggara Eurovision kembali pada nilai persatuan dan inklusi yang selama ini diusung.

Murad sendiri hampir menjadi wakil Islandia di Eurovision 2024. Ia berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia musik dan perjuangan budaya Palestina. Ayahnya diketahui ikut mendirikan grup musik Palestina, Sabreen.

Tekanan terhadap penyelenggara Eurovision juga datang dari kelompok hak asasi manusia. Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard, meminta Israel dikeluarkan dari kompetisi, seperti yang pernah dilakukan terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022.

Menurut Murad, banyak masyarakat dunia kini merasa Eurovision telah kehilangan makna aslinya. Karena itu, konser alternatif seperti “United for Palestine” diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa musik seharusnya membawa pesan persatuan dan kemanusiaan.(nrl/yog)