
BACATODAY.COM – Pesan pelestarian hutan dan perlindungan sumber air dikemas dalam pertunjukan seni yang menghibur melalui musikal kolosal Wana Malawa. Digelar selama dua hari, pada 30–31 Oktober 2026 di Transformer Center, Kota Batu, pertunjukan ini berhasil menjual 500 tiket kepada penonton.
Tak sekadar menyuguhkan drama musikal, Wana Malawa mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan keluarga, memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam melalui kisah persahabatan, konflik, dan perjuangan para satwa hutan.
Cerita berpusat pada Candapinggala, sang raja harimau, dan Nandaka, seekor kerbau yang hadir sebagai sahabat sekaligus membawa perubahan dalam cara pandang sang raja. Ketika hutan dilanda krisis air, para satwa harus menghadapi persoalan iri hati, kecurigaan, hingga perebutan pengaruh.
Di tengah konflik tersebut, mereka dituntut belajar membangun kepercayaan, bekerja sama, dan mengambil keputusan demi kepentingan bersama.
Kisah fabel itu menjadi refleksi atas persoalan lingkungan yang relevan dengan kondisi Kota Batu. Sebagai daerah yang memiliki kawasan hutan dan sumber mata air penting, keberlanjutan lingkungan di wilayah ini menghadapi tantangan, mulai dari risiko kebakaran hutan hingga kekhawatiran terhadap penurunan debit mata air.
Sutradara Yusak Santoso mengatakan, pesan ekologis menjadi bagian penting dari keseluruhan pertunjukan. Menurutnya, kerusakan hutan tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
“Melalui Wana Malawa, kami ingin mengajak penonton memahami bahwa hutan bukan hanya tempat tinggal satwa, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia. Ketika hutan rusak dan sumber air terancam, dampaknya tidak berhenti pada alam, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat,” ujar Yusak.
Ia berharap kisah para satwa tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kepedulian, kebijaksanaan, dan kerja sama.
Pesan tersebut juga diterjemahkan melalui tata panggung yang mengedepankan pemanfaatan material daur ulang. Salah satu elemen utamanya berupa instalasi pohon setinggi tujuh meter yang dibuat dari kardus bekas oleh seniman Sugeng Klemin.
Selain memperkuat suasana hutan dalam pertunjukan, instalasi tersebut menunjukkan bahwa bahan yang dianggap tidak terpakai masih dapat diolah menjadi karya kreatif bernilai seni. Dengan demikian, semangat mengurangi sampah tidak hanya disampaikan melalui cerita, tetapi juga diterapkan dalam produksi pertunjukan.
Libatkan 60 Talenta Muda dalam Kolaborasi Seni
Wana Malawa melibatkan sekitar 60 talenta dari kelas akting Good Play dan Sanggar Tari Tribhuwana. Para peserta menjalani proses pembelajaran dan latihan selama tiga bulan, mencakup akting, koreografi, hingga musik.
Perpaduan dialog, tari, musik, dan permainan ansambel menghadirkan pertunjukan yang dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia. Proses produksi ini sekaligus menjadi ruang bagi talenta muda untuk mengasah kreativitas, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik.
Bagi penulis naskah sekaligus asisten sutradara, Lingga Galih Permadi, tantangan terbesarnya adalah menyampaikan persoalan lingkungan yang kompleks melalui cerita yang tetap dekat dengan dunia anak-anak.
Wana Malawa juga berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai kehidupan dalam kisah fabel yang terinspirasi dari relief candi, kemudian mengemasnya agar relevan dengan pengalaman masyarakat masa kini.
“Tantangannya adalah bagaimana membawakan tema yang menurut saya cukup berat, seperti persoalan hutan dan kelestarian alam, agar bisa dipahami oleh semua orang, tetapi tetap berada dalam ruang lingkup dunia anak-anak,” kata Lingga.
Ia menjelaskan, tema persahabatan dipilih sebagai pintu masuk untuk menyampaikan pesan lingkungan. Melalui konflik dan perjalanan para tokoh, anak-anak diharapkan dapat mengikuti alur cerita sekaligus memahami pentingnya menjaga alam.
Musik turut menjadi elemen penting dalam membangun suasana dan menghidupkan cerita. Lagu-lagu yang dibawakan para pemain dengan komposisi musik karya Joel Tampeng membantu memperkuat emosi tokoh sekaligus menyampaikan pesan dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
“Musik membantu kami menyampaikan gagasan yang mungkin terasa berat menjadi pengalaman yang lebih hidup, dekat, dan menyenangkan bagi penonton,” tambahnya.
Hadirkan Festival Seni Sekaligus Ruang Promosi UMKM
Tak hanya berfokus pada pertunjukan, Wana Malawa juga dirancang sebagai ruang pertemuan bagi komunitas seni, keluarga, dan pelaku usaha lokal di Kota Batu.
Produser Dece Dyah mengatakan, antusiasme penonton selama dua hari penyelenggaraan menunjukkan bahwa pertunjukan seni dapat menjadi sarana berkumpul sekaligus memperluas ruang kreativitas masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih luas daripada menonton pertunjukan, dengan melibatkan komunitas dan memberi ruang bagi kreativitas serta produk lokal Kota Batu untuk dikenal lebih banyak orang,” ujar Dece.
Untuk menambah daya tarik acara, penyelenggara menghadirkan sejumlah kegiatan pendamping, mulai dari lomba menggambar, pertunjukan musik atau gigs, hingga penampilan tari K-pop.
Rangkaian kegiatan tersebut menciptakan suasana festival yang terbuka bagi berbagai kalangan, terutama anak-anak, remaja, dan keluarga.
Sejumlah stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga turut meramaikan area acara dengan menawarkan beragam produk khas Kota Batu. Kehadiran pelaku usaha lokal ini membuka peluang interaksi langsung dengan pengunjung sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas.
Melalui Wana Malawa, penyelenggara berharap pertunjukan seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi lingkungan dan penguatan ekosistem kreatif lokal.
Kisah para satwa hutan tersebut menyampaikan pesan bahwa hutan dan sumber air merupakan bagian penting dari kehidupan bersama. Keduanya perlu dijaga melalui kesadaran dan keputusan yang bijaksana agar manfaatnya tetap dirasakan oleh generasi mendatang. (yog)











