Musim Hujan Picu Ancaman Hantavirus, Dosen Kedokteran UMM Jelaskan Gejala dan Pencegahannya

Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., saat memaparkan materi terkait penyakit hantavirus. (ist)

BACATODAY.COM – Tingginya curah hujan yang memicu genangan air dan banjir di sejumlah daerah tak hanya meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga penyakit berbahaya lain yang ditularkan hewan pengerat, yakni hantavirus.

Penyakit ini perlu diwaspadai karena memiliki gejala awal yang mirip DBD dan dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru maupun ginjal apabila terlambat ditangani.

Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang disebabkan bakteri, hantavirus merupakan infeksi virus yang penularannya dapat terjadi melalui cairan tubuh hingga udara.

“Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung hewan pengerat. Bahkan penularannya juga bisa melalui aerosol akibat paparan udara yang mengandung partikel virus dari kotoran tikus yang terhirup manusia,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Secara klinis, Febri menjelaskan infeksi hantavirus terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan.

Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun, seiring waktu pasien dapat mengalami sesak napas, perdarahan, hingga muncul ruam kulit yang khas.

“Yang membedakan dengan DBD biasanya muncul ruam-ruam di kulit disertai gangguan ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, itu sudah masuk kondisi serius dan sebaiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” jelasnya.

Hingga kini, belum ditemukan obat maupun vaksin spesifik untuk hantavirus. Penanganan medis masih berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien tetap stabil.

Menurut Febri, risiko penularan meningkat saat musim hujan dan banjir karena tikus keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut rumah yang lembap.

“Karena virus ini belum memiliki pengobatan spesifik, maka yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” terangnya.

Masyarakat pun diimbau tetap waspada tanpa panik dengan mengedepankan langkah preventif. Upaya pencegahan dapat dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area lembap, serta menjaga pola makan dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya. (him/red)