Ratusan Penonton Ikuti Nobar Film “Semua Akan Baik-Baik Saja”, Rayakan Semangat Kesetaraan

Penyandang disabilitas, komunitas kreatif, dan pegiat budaya memenuhi Mopic Cinema, Kota Malang, Minggu (7/6/2026), untuk mengikuti nonton bareng (nobar) film Semua Akan Baik-Baik Saja. (ist)

BACATODAY.COM – Suasana hangat dan penuh antusiasme mewarnai Mopic Cinema Kota Malang, Minggu (7/6/2026). Ratusan penyandang disabilitas, komunitas kreatif, serta pegiat budaya berkumpul dalam kegiatan nonton bareng (nobar) film Semua Akan Baik-Baik Saja, sebuah film yang mengangkat kisah perjuangan dan harapan bagi mereka yang kerap menghadapi berbagai keterbatasan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah para peserta, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat hadir dan ikut menyaksikan film yang diputar serentak di tujuh kota di Indonesia tersebut. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Indonesia Creative Cities Network (ICCN), RANS, serta berbagai mitra daerah yang memiliki kepedulian terhadap isu inklusivitas dan pengembangan ekosistem kreatif.

Sebelum pemutaran film dimulai, peserta mengikuti sesi live greeting nasional yang menghadirkan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, sutradara film Baim Wong, serta Ketua Umum ICCN Fiki Satari.

Dalam kesempatan itu, Wahyu Hidayat menyampaikan apresiasi kepada Baim Wong atas hadirnya film yang dinilai mampu menyuarakan semangat dan perjuangan penyandang disabilitas melalui medium yang dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, film tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sarana edukasi yang mengajak publik melihat bahwa penyandang disabilitas memiliki mimpi, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Film ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Anak-anak istimewa ini memiliki semangat luar biasa. Mereka ingin diakui, diberi kesempatan, dan mampu menunjukkan bahwa mereka juga bisa berkarya seperti siapa pun,” ujar Wahyu.

Ia menilai pesan utama film tersebut sangat relevan bagi penyandang disabilitas, yakni tentang keberanian menghadapi tantangan hidup tanpa kehilangan harapan dan rasa percaya diri.

“Perjuangan mereka tidak mudah. Karena itu kami berharap film ini menjadi penyemangat agar mereka tetap optimistis, terus berkembang, dan percaya bahwa mereka mampu meraih cita-cita yang diinginkan,” katanya.

Lebih jauh, Wahyu menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang terus berupaya membangun kota yang inklusif dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas, untuk terlibat dalam berbagai aktivitas kreatif dan produktif.

Komitmen tersebut, lanjutnya, sejalan dengan posisi Kota Malang sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO bidang Media Arts yang menjunjung kolaborasi, inovasi, dan keberagaman.

“Di Kota Malang tidak boleh ada yang merasa tertinggal. Siapa pun yang memiliki kreativitas dan kemampuan harus mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang. Tugas pemerintah adalah memastikan ruang itu tersedia,” tegasnya.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Malang Creative Fusion (MCF), Kawan-Kawan Spesial, komunitas kreatif, dan para pegiat budaya yang selama ini aktif memperjuangkan terciptanya ruang kreatif yang ramah bagi semua kalangan.

Melalui nobar ini, para peserta tidak hanya menikmati sebuah karya film, tetapi juga merasakan ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai komunitas dalam semangat empati, kesetaraan, dan kolaborasi. Sebuah pesan sederhana namun kuat bahwa kreativitas tidak mengenal batas, dan setiap orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkarya, dan menginspirasi. (had)