Maudy Ayunda Disorot Netizen Usai Bahas Cara Hadapi Derasnya Pemberitaan Negatif

Kenapa Maudy Ayunda Dirujak Netizen, Disebut Tone Deaf, Enggak Napak Tanah.(Foto : instagram)

BACATODAY.COM – Video Maudy Ayunda yang membicarakan bagaimana dirinya menghadapi derasnya informasi dan pemberitaan buruk kembali menjadi sorotan di media sosial. Pembahasan tersebut awalnya berfokus pada pentingnya mindfulness, tetapi belakangan justru memunculkan perdebatan setelah sejumlah netizen menilai bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk mengambil jarak dari masalah yang sedang berlangsung.

Video bertajuk “Mindfulness in the Age of Bad News – Maudy Ayunda” tersebut sebenarnya telah dipublikasikan di kanal YouTube Maudy pada 21 Agustus 2026. Meski sudah beberapa pekan berlalu sejak pertama kali diunggah, potongan maupun isi pembahasannya kembali ramai diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir.

Dalam tayangan itu, Maudy mengungkapkan keresahannya terhadap banyaknya informasi negatif yang muncul hampir setiap hari. Ia menyebut kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan berbagai peristiwa internasional, tetapi juga persoalan yang terjadi di Indonesia.

Menurut Maudy, seseorang dapat mengalami kesulitan secara emosional ketika harus menerima begitu banyak kabar buruk dalam waktu yang berdekatan. Informasi yang terus berdatangan membuat proses memahami sekaligus menerima berbagai peristiwa menjadi semakin berat.

“Aku tuh berasa kayak ya udah beberapa bulan ini. Malah mungkin udah setahun terakhir ini ya kita tuh kayak dibombardir dengan banyaknya berita buruk secara internasional tapi juga mungkin khususnya berita lokal juga di sini, di Indonesia,” ujar Maudy.

Meski demikian, Maudy menegaskan bahwa kepedulian terhadap berbagai persoalan tidak seharusnya hilang. Ia lebih menyoroti bagaimana seseorang dapat tetap memiliki rasa peduli, tetapi pada saat bersamaan tetap menjaga kondisi dirinya agar tidak ikut tenggelam dalam tekanan akibat informasi yang diterima setiap hari.

“Aku ngerasa kayaknya penting gitu untuk ngomongin itu khususnya kayak gimana buat kita bahkan melangkah, gimana caranya kita tetap peduli, dan juga bisa menjaga diri kita sendiri itu,” lanjutnya.

Maudy juga menceritakan pengalaman pribadinya ketika terlalu banyak menerima berita negatif. Ia mengaku pernah berada dalam situasi ketika berbagai persoalan yang datang secara bersamaan membuat dirinya merasa kesulitan untuk memproses semuanya.

Menurutnya, kondisi tersebut bahkan sempat memunculkan perasaan tidak berdaya. Beban emosional yang dirasakan juga membuatnya mengalami berbagai reaksi, mulai dari menangis hingga merasa marah.

“Di mana kayak ngerasa, ‘ya ampun, ini bolak-balik banget’ gimana aku memproses ini, karena buat aku pribadi berat banget sih dan ada kecenderungan ngerasa nggak berdaya. Terus ada masa-masa di mana jadi kayak mewek, nangis, marah,” kata Maudy.

Ketika kembali menjadi pembahasan di media sosial, pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan yang beragam. Ada pengguna media sosial yang memahami sudut pandang Maudy dan menganggap menjaga kesehatan mental di tengah derasnya informasi memang penting.

Namun, tidak sedikit pula netizen yang memberikan kritik. Mereka mempertanyakan gagasan mengenai mengambil jarak dari pemberitaan, terutama jika isu yang dibicarakan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan berdampak terhadap kondisi mereka sehari-hari.

Salah satu kritik disampaikan pengguna X dengan akun @pandaleezasol. Pengguna tersebut bahkan mengaku mulai mempertimbangkan untuk berhenti mengikuti Maudy karena merasa pandangan yang disampaikan sang artis kurang menunjukkan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

“aku unsubs Maudy beneran deh keknya, she’s not spreading positivity anymore, she’s just becoming tone deaf,” tulis akun tersebut.

Dalam unggahannya, pengguna itu juga membawa latar belakang pendidikan Maudy ke dalam kritiknya. Ia menyinggung pengalaman Maudy yang pernah menempuh pendidikan di kampus Ivy League serta terlibat dalam kegiatan sosial.

Pengguna tersebut mempertanyakan apakah pengalaman itu semestinya membuat Maudy lebih memahami kondisi masyarakat secara langsung, termasuk persoalan yang terjadi di tingkat akar rumput.

“kak masa kamu nulis puluhan-ratusan esai sampe lulus di Ivy League, pernah jadi volunteer juga kan, pernah kan ngeliat kondisi grass root itu kayak gimana?” tulisnya.

Kritik tersebut kemudian dikaitkan dengan posisi Maudy sebagai figur publik yang mempunyai jumlah pengikut cukup besar. Menurut pengguna tersebut, popularitas dan jangkauan yang dimiliki Maudy sebenarnya dapat digunakan untuk ikut menyampaikan suara mengenai berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

“justru dg mega platform dan capasity yg kamu punya kamu malah milih diam? kenapa?” sambungnya.

Komentar bernada serupa juga muncul dari pengguna X lainnya. Salah satu netizen menilai bahwa Maudy selama ini cenderung mengambil posisi yang aman ketika membahas isu sosial maupun politik.

Ia menganggap kondisi masyarakat berbeda dengan orang yang memiliki pilihan untuk mengurangi paparan terhadap berita buruk. Bagi sebagian masyarakat, mengikuti perkembangan isu tersebut dianggap penting karena keputusan dan kebijakan yang diberitakan dapat memberikan dampak langsung terhadap kehidupan mereka.

“Maudy dari dulu lebih suka main aman. Kalo ditanya kita juga capek tiap hari disuguhi berita jelek, bedanya kita ga punya pilihan selain ikut bersuara krn hidup kita sgt terdampak kebijakan2 ini,” tulis akun tersebut.

Sementara itu, kritik lain muncul karena ada netizen yang menangkap pesan video tersebut sebagai bentuk dorongan agar masyarakat terlalu menjauh dari persoalan yang sedang terjadi.

Seorang pengguna X bahkan membandingkan antara sikap memilih tidak ikut campur dengan pesan yang dianggap mengajak orang lain untuk mengurangi kepedulian.

“Seeing comment ‘You’ll probably do the same if you were her’. Masalahnya doi bukan lagi minding her own business tapi bener bener ngajak yang lain untuk ‘segapeduli itu,’” tulis akun tersebut.

Pendidikan Maudy di luar negeri kembali menjadi bahan pembicaraan dalam komentar lainnya. Seorang netizen memberikan kritik singkat dengan menulis, “alumni top luar negeri tp outputnya nothing. useless.”

Ramainya komentar tersebut akhirnya membuat video Maudy kembali mendapat perhatian luas. Pembahasan yang sebelumnya berfokus pada mindfulness dan cara menjaga diri di tengah derasnya kabar negatif kini berkembang menjadi perdebatan mengenai batas antara menjaga kesehatan mental dan tetap menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial.

Meski menuai kritik, isi video Maudy sendiri pada dasarnya tidak secara langsung mengajak seseorang untuk mengabaikan berbagai masalah di sekitarnya. Ia lebih banyak membagikan pengalaman pribadi tentang bagaimana menghadapi banjir informasi negatif, sekaligus mencari keseimbangan agar tetap peduli tanpa terus-menerus merasa terbebani secara emosional.(nrl/yog)