UB Raih Penghargaan “Universitas Pelopor AI” di Ketik Award 2026

Wakil Rektor V Prof Unti Menerima Penghargaan dari CEO Ketik Kiagus Firdaus.(Foto : ub.ac.id)

BACATODAY.COM – Universitas Brawijaya (UB) mendapat penghargaan sebagai “Universitas Pelopor AI” dalam ajang “9.9 Ketik Award 2026” yang menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-4 Ketik.com bertajuk “Melesat Hebat”. Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara yang berlangsung di Auditorium Mercure Surabaya Grand Mirama, Surabaya, Rabu (9/9/2026).

Penghargaan untuk UB diterima oleh Wakil Rektor V Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak. Pengakuan ini diberikan atas kiprah UB dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di berbagai lingkungan universitas.

CEO Ketik.com, Kiagus Firdaus, mengatakan pemberian penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada individu maupun institusi yang dinilai telah menghadirkan inovasi serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, apresiasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi yang telah dilakukan, tetapi juga dapat mendorong penerimanya untuk terus menghasilkan karya yang berdampak positif.

“Penghargaan ini kami berikan sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh dan lembaga yang telah memberikan kontribusi, inovasi, serta dampak nyata di tengah masyarakat,” ujar Kiagus Firdaus.

Ia menambahkan, Ketik.com ingin ikut membangun ruang kolaborasi yang dapat mendorong berbagai tokoh dan institusi di daerah untuk terus menghadirkan karya serta inovasi yang bermanfaat.

Dalam kesempatan tersebut, Kiagus juga menyoroti Malang Raya yang menurutnya memiliki banyak figur dan institusi dengan kontribusi positif. Universitas Brawijaya menjadi salah satu perguruan tinggi yang dinilai konsisten mengembangkan berbagai inovasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan penghargaan itu. Ia menilai pengakuan yang diberikan kepada sejumlah tokoh dan lembaga merupakan bentuk penghormatan terhadap pihak-pihak yang selama ini bekerja untuk kepentingan publik.

Akhmad Munir juga menyebut para penerima penghargaan sebagai pihak yang memiliki peran dalam memberikan pelayanan dan manfaat kepada masyarakat.

“Harus kita yakini dan sadari bahwa para penerima penghargaan hebat ini adalah pengabdi-pengabdi terhadap kepentingan publik. Penerima penghargaan ini adalah pelayan publik, maka rakyat sebagai pelanggan akan merasa bermanfaat,” tuturnya.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi AI di lingkungan Universitas Brawijaya memang telah diterapkan dalam berbagai aktivitas. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung proses pembelajaran dan membantu tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa.

Penggunaan AI di UB juga tidak terbatas pada kegiatan akademik di ruang kelas. Sejumlah peneliti memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan sebagai salah satu perangkat pendukung dalam menjalankan penelitian. Teknologi tersebut juga mulai dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas lain di lingkungan kampus.

Meski demikian, pemanfaatan AI di UB tidak diarahkan untuk menggantikan peran manusia. Mahasiswa, tenaga kependidikan, dosen, peneliti, serta unsur lain di lingkungan universitas tetap dituntut untuk terlibat secara aktif dalam setiap proses yang dijalankan.

AI ditempatkan sebagai teknologi pendukung yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Dengan demikian, kecerdasan buatan bukan menjadi penggerak utama seluruh aktivitas universitas, melainkan menjadi alat yang melengkapi peran manusia.

Penerapan AI secara tepat dan proporsional tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Brawijaya memperoleh penghargaan “Universitas Pelopor AI” dalam ajang “9.9 Ketik Award 2026”.(nrl/yog)