Hadapi Ancaman Hidrometeorologi, AKBP Panji Ajak Optimalkan Destana

BACATODAY.COM — Pemerintah Kota Batu bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperkuat kesiapsiagaan kolektif dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 yang bertempat di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 tersebut diikuti oleh sekitar 150 personel gabungan dari berbagai instansi, lembaga, serta relawan kebencanaan.
Apel siaga ini dihadiri langsung oleh Walikota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., Wakil Walikota Batu Heli Sutanto, S.H., M.H., Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi. Bayu Nugroho, S.Hub.Int., M.I.P., Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa, S.H., S.I.K., M.A.P., serta jajaran pejabat utama (PJU) Polres Batu dan pimpinan kepala perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Batu.

Turut hadir perwakilan dari unsur Perhutani KPH Malang, BPBD Kota Batu, Dinas Perhubungan, Dinas Damkar, Dinas Kesehatan, Dinsos, Satpol PP, serta berbagai elemen organisasi dan relawan seperti Orari, Rapi, Senkom, dan Tagana.

Bertindak sebagai pimpinan apel, Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa dalam amanatnya menyampaikan bahwa saat ini wilayah Indonesia, termasuk Kota Batu, tengah mengalami masa transisi dari musim kemarau panjang menuju musim penghujan. Peralihan cuaca ini membawa ancaman nyata berupa bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.

“Melalui Apel Gelar Pasukan ini, saya tekankan lima poin krusial yang harus segera kita pedomani dan laksanakan bersama: pemetaan wilayah rawan bencana hingga tingkat desa, mitigasi risiko yang efektif, kesiapan personel dan peralatan agar siap pakai saat darurat, sosialisasi jalur evakuasi yang aman, serta sinergi dan kolaborasi antarsektoral yang solid,” tegas Kapolres Batu.

Untuk mengantisipasi dan meminimalisir dampak risiko, ada lima poin krusial yang harus segera dipedomani dan dilaksanakan bersama oleh seluruh stakeholder terkait yaitu:

1. Pemetaan Wilayah Rawan (Mapping): Memetakan kembali secara presisi titik-titik rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang hingga tingkat desa dan kelurahan, serta mengaktifkan kembali Destana (Desa Tangguh Bencana).
2. Mitigasi Risiko yang Efektif: Melakukan langkah-langkah preventif sedini mungkin demi melindungi keselamatan warga serta infrastruktur vital.
3. Kesiapan Personel dan Peralatan: Memastikan seluruh sarana prasarana (sarpras) dan personel berada dalam kondisi siap pakai (ready to use) sewaktu-waktu dibutuhkan dalam situasi darurat.
4. Sosialisasi Jalur Evakuasi: Mempersiapkan dan menyosialisasikan jalur evakuasi yang aman serta titik lokasi penampungan pengungsi yang layak dan terkoordinasi.
5. Sinergi dan Kolaborasi Antarsektoral: Membangun SOP yang jelas terkait pembagian tugas (siapa berbuat apa) serta memperkuat rantai komando yang solid dan responsif.

Dalam arahannya, Kapolres juga memaparkan data perbandingan kejadian bencana di wilayah hukum Polres Batu yang menunjukkan peningkatan eskalasi dari tahun sebelumnya.

“Data peningkatan kejadian bencana yang kita miliki menegaskan bahwa ancaman bencana bukan hanya soal jumlah, tetapi soal kesiapan sistem, sinergi antarinstansi, dan partisipasi aktif masyarakat,” ujar AKBP Panji.

“Sepanjang Tahun 2025: Tercatat ada 73 kejadian, yang didominasi oleh tanah longsor (52 kejadian), banjir (9 kejadian), serta angin kencang dan pohon tumbang (12 kejadian) dan pada tahun 2026 saat ini  Tercatat ada lonjakan signifikan menjadi 122 kejadian, yang meliputi Kebakaran Hutan dan Lahan/Karhutla (20 kejadian), tanah longsor (52 kejadian), banjir (11 kejadian), serta angin kencang/puting beliung (39 kejadian),” jelas Kapolres Batu.

Data tersebut menegaskan bahwa ancaman bencana menuntut kesiapan sistem yang matang, kecepatan bertindak, serta kepedulian dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

“Saya berharap melalui apel kesiapsiagaan ini, kita semua tidak hanya siap secara fisik dan peralatan, tetapi juga memiliki kesamaan persepsi, kecepatan bertindak, serta kepedulian yang tinggi. Mari kita niatkan tugas kemanusiaan ini sebagai pengabdian terbaik bagi masyarakat Kota Batu,” harapnya, Rabu (4/11/2026).

Pelaksanaan apel gelar pasukan ini menjadi momentum strategis dalam memastikan kesiapsiagaan tanggap darurat menghadapi puncak musim hujan untuk periode 2026–2027. Sinergi lintas sektoral yang terjalin erat diharapkan mampu meningkatkan respons cepat, terpadu, dan tepat sasaran dalam penanganan bencana alam di Kota Batu.

Sebagai langkah lanjutan, jajaran terkait diimbau untuk terus menjaga koordinasi intensif antar daerah termasuk dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan BPBD serta menyiagakan petugas beserta alat berat di jalur-jalur rawan bencana, guna mengantisipasi segala kemungkinan darurat secara cepat. (Dod)