Ancaman Kemakmuran di “Republik” Sapudi

Tokoh masyarakat setempat menyebutkan, setiap minggu sedikitnya tiga truk ganda dengan kapasitas sekitar enam ton per truk mengangkut kayu keluar pulau untuk industri arang, melewati jalur laut. (ist)

Oleh : Pietra Widiadi

Pulau Sapudi memiliki luas sekitar 130 kilometer persegi. Pulau ini terletak di Selat Madura sisi Timur Pulau Madura dan masuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Secara administratif pulau terbagi menjadi dua kecamatan: Kecamatan Gayam di selatan dan Kecamatan Nonggunong di Utara. Sapudi merupakan pulau terbesar kedua di gugusan Kepulauan Madura setelah Pulau Kangean.

Pulau ini terkenal sebagai pusat peternakan sapi Madura berkualitas tinggi. Sapudi menjadi sentra sapi dengan kepadatan populasi tertinggi di Madura, mencapai sekitar 175 ekor per kilometer per segi. Sapi Sapudi memiliki kualitas kulit yang baik sehingga diminati pengrajin produk kulit premium di luar negeri. Pulau ini juga menjadi tempat pembibitan sapi lokal yang dikenal memiliki kemampuan berlari cepat.

Di kawasan laut dangkal, ekosistem Padang Lamun menjadi habitat terumbu karang dan tempat mencari makan ikan kecil. Produksi ikan melimpah dan menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat pesisir, meski panen hanya diperoleh pada bulan tertentu. Di pesisir yang terbuka, Mangrove tumbuh cukup baik dan berfungsi sebagai pelindung daratan dari abrasi dan erosi. Mangrove juga memiliki kapasitas besar menyerap karbon.

Kapasitas penyerapan karbon Mangrove merupakan aset besar untuk masa depan. Selain Mangrove, beberapa pohon perkebunan dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan dan konservasi sumber daya alam. Dua pohon dengan kapasitas besar sebagai pelindung air atau konservasi air adalah Asam dan Sukun. Tanaman lain yang berkembang antara lain Jati, Sawo, Nyamplung, dan Johar.

Hancurnya Asam Jawa yang Manis

Dari sekian banyak pohon pelindung air, Asam Jawa dikenal memiliki kemampuan sangat baik menyerap dan menyimpan air tanah. Sistem perakarannya yang kuat membantu menjaga cadangan air dan mencegah erosi, sehingga efektif sebagai pohon pelindung. Akar asam mengikat dan menyimpan air bawah tanah dalam jumlah besar sehingga tanah di sekitarnya tetap lembab dan subur. Pohon ini juga tahan cuaca panas dan membantu menahan longsor.

Meski penting secara ekologis, keberadaan pohon asam di Sapudi menghadapi tekanan serius. Pohon asam di lahan milik warga banyak ditebang dan dijual sebagai bahan baku arang karena nilai ekonominya cepat dan mudah diperoleh. Penurunan jumlah pohon asam mengurangi fungsi resapan air, meningkatkan erosi, serta menghilangkan sumber pendapatan musiman dari buahnya. Berkurangnya tegakan asam berpotensi memperbesar kerentanan desa terhadap krisis air.

Pohon asam di sepanjang jalan relatif lebih terlindungi karena pengawasan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Namun perlindungan itu belum mengimbangi laju penebangan di lahan warga. Akses transportasi laut jalur Sapudi–Jangkar–Asembagus, Situbondo, memudahkan pengangkutan kayu asam keluar pulau. Sebagian besar kayu dipakai industri arang di Situbondo dan sekitarnya. Jika berlanjut tanpa konservasi dan penanaman kembali, masyarakat akan kehilangan aset ekologis dan sumber penghidupan jangka panjang.

Menurut tokoh masyarakat setempat, setiap minggu sedikitnya tiga truk ganda dengan kapasitas sekitar enam ton per truk mengangkut kayu keluar pulau untuk industri arang. Tekanan terhadap tegakan asam dan vegetasi lain tergolong sangat tinggi. Pemanfaatan kayu berpotensi melampaui kemampuan regenerasi alami sehingga mempercepat degradasi tutupan vegetasi, mengurangi fungsi daerah resapan air, dan memperburuk krisis air.

Praktik pemanfaatan kayu untuk arang perlu perhatian serius karena mengancam keberlanjutan sumber daya alam dan ketahanan air pulau. Diperlukan penguatan pengawasan, pengelolaan berbasis masyarakat, serta program konservasi dan penanaman kembali pohon lokal seperti asam dan Randu yang berfungsi menyimpan air. Upaya ini penting agar kebutuhan ekonomi terpenuhi tanpa mengorbankan fungsi ekologis penopang kehidupan masyarakat Sapudi.

Sukun Sang Superfood

Selain asam, Sukun juga berkembang baik di Sapudi. Buah Sukun kini dikenal sebagai superfood karena kandungan nutrisinya lengkap, ramah kesehatan, dan mendukung ketahanan pangan masa depan. Sukun merupakan nutrisi padat dan bebas gluten sehingga aman bagi penderita Celiac. Tepung sukun populer sebagai pengganti tepung gandum. Sukun kaya karbohidrat kompleks yang menyediakan energi stabil dan tahan lama, sehingga baik sebagai alternatif nasi, kentang, atau gandum.

Sukun memiliki nilai gizi tinggi dan berpotensi menjadi sumber pangan sehat. Kandungan seratnya baik untuk kesehatan pencernaan, melancarkan metabolisme, dan memberi rasa kenyang lebih lama. Sukun juga mengandung protein dengan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan. Kandungan ini menjadikan sukun tidak hanya sumber karbohidrat, tetapi juga pangan pendukung nutrisi harian.

Dari sisi kesehatan, sukun bermanfaat untuk pencegahan penyakit tidak menular. Karbohidrat sukun dicerna bertahap sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah drastis, baik untuk mengendalikan kadar gula darah dan mengurangi risiko diabetes. Kalium yang cukup tinggi berperan menjaga keseimbangan tekanan darah, mendukung fungsi otot dan saraf, serta kesehatan jantung. Dengan keunggulan itu, sukun layak dikembangkan sebagai pangan lokal yang mendukung ketahanan pangan dan kualitas kesehatan masyarakat.

Pohon sukun tangguh karena tumbuh baik di wilayah tropis relatif kering, tahan perubahan iklim, dan tidak butuh perawatan rumit. Selain manfaat ekologis sebagai peneduh dan pelindung tanah, sukun potensial sebagai sumber pangan karena satu pohon menghasilkan banyak buah setiap tahun. Satu buah sukun berukuran besar dapat mencukupi kebutuhan satu keluarga, sehingga penting untuk ketahanan pangan dan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Makin Dibiarkan, Hancurlah Sudah

Sapudi tidak seharusnya dipandang seperti gambaran umum Madura yang kering dan miskin pangan. Sapudi memiliki aset alam kaya: laut, peternakan, serta vegetasi lokal seperti asam jawa, sukun, dan tanaman perkebunan yang menjaga ketersediaan air, pangan, dan keseimbangan lingkungan. Pohon-pohon itu bukan sekadar tanaman, melainkan kekuatan utama penopang ketahanan ekologis dan kehidupan masyarakat Sapudi.

Kerusakan lingkungan Sapudi tidak hanya akibat penebangan pohon pelindung dan Mangrove, tetapi juga pola tanam yang kurang memperhatikan keseimbangan ekologi. Pengembangan tanaman cepat tumbuh seperti Sengon, Jabon, Waru, dan sejenisnya tanpa perencanaan tepat berpotensi menekan ketersediaan air karena kebutuhan airnya tinggi. Konservasi perlu diarahkan pada penghentian kerusakan sekaligus pemilihan jenis tanaman yang menjaga fungsi lingkungan dan ketahanan sumber daya air pulau dalam jangka panjang.

*) Penulis : Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang; Praktisi Sosiolog, alumni Universitas Airlangga dan PhD sosial-budaya Universitas Merdeka Malang.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis