BUMDes Bejo, Desa Tulungrejo, Budidaya Ayam Petelur Dana Desa Tak Cukup Harapkan Harga Pakan Subsidi dari Pemerintah

BACATODAY.COM – Program ketahanan pangan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu sukses mengembangkan usaha dengan budidaya ayam petelur.

Inisiatif strategis yang didanai oleh Dana Desa (DD) ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan protein hewani, seperti telur dan daging yang bergizi dan terjangkau, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong kemandirian bagi perekonomi desa.

Komponen utama program pengelolaan budidaya ayam petelur oleh BUMDes Bejo bersumber dari Dana Desa (DD) dengan memanfaatkan alokasi minimal 20 persen, yang diwajibkan untuk program ketahanan pangan dan hewani bagi warga masyarakat setempat.

Direktur BUMDes Bejo, Suprianto menjelaskan, bahwa ini merupakan program prioritas desa yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan pangan bergizi, sekaligus menciptakan unit usaha desa yang berkelanjutan.

Budidaya Ayam Petelur

“Usaha budidaya ayam petelur ini dengan jumlah ternak sebanyak 800 ekor ayam petelur. Fasilitas yang disediakan meliputi kandang baterai, pakan, serta sarana pendukung lainnya. Melalui usaha ayam petelur ini, diharapkan mampu menyediakan pasokan telur secara berkelanjutan, terutama bagi warga masyarakat Desa Torongrejo,” terangnya kepada awak media, pada Kamis (9/7/2026).

Namun, disisi lain pihak pengelola BUMDes Torongrejo mengaku kesulitan dikarenakan harga pakan ayam yang naik, sementara harga telur turun.

“Ya, pada awalnya kita beli DOC berkisar usia 16 minggu, tapi untuk produksi mulai usia 20 minggu. Berarti 4 minggu ke depan kita masih beli pakan tapi belum produksi,” ungkap Suprianto.

Ia menyebut, bahwa tingkat perawatan ayam yang dirawat pada saat ini telah mencapai di atas 90 persen.

“Itu artinya masih dalam kategori yang baik, sebab tidak semudah merawat ayam jenis lainnya, disamping tingkat setres ayam juga tinggi. Belum lagi untuk perawatan ayam kita sediakan vitamin dan obat-obatan. Jadi  yang terpenting saat ini kami berharap agar pemerintah menyediakan pakan ternak bersubsidi,” harapnya.

Harga Telur Turun, Namun Harga Pakan Naik

Menurutnya, kendala utama pada saat ini yang dihadapi peternak yakni ketidakseimbangan antara harga jual telur dengan harga biaya pakan ayam.

“Yang saya sayangkan harga telur turun, tapi justeru harga pakan malah naik. Maka dari itu, kami mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk menyediakan pakan ternak bersubsidi. Karena di pasaran, harga telur Rp 20.000. Sementara harga pakan dulu 1 ton Rp 6.900.000 sekian, dan sekarang 1 ton sudah Rp 7.700.000 sekian,” paparnya.

Di tempat yang sama, pengawas BUMDes Bejo, Supadi juga menyampaikan, bahwa untuk 800 ekor ayam yang saat ini dirawat, kebutuhan akan pakan ternak diakuinya saat ini juga melambung tinggi.

“Karena dengan total ayam yang mencapai 800 ekor yang kami beri pakan setiap pagi dan sore, itu mencapai 80-85 kilogram per harinya. Sehingga 1 ton pakan ayam itu hanya cukup untuk 12 hari saja,” ungkapnya.

Program Ketahanan Pangan, Telan Anggaran Rp 238 Juta

Menurutnya, usaha budidaya peternakan ayam petelur yang dimaksud, merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang ada di Desa Torongrejo.

“Dana Desa untuk program ketahanan pangan yang diberikan kepada kami saat itu sebesar Rp 238 juta. Tentu saja itu kurang, karena kami tidak pernah mendapatkan insentif, apalagi dengan anak kandang (yang merawat-red) juga tidak pernah mendapatkan insentif berkaitan dengan jerih payah kami selama ini merawat. Apalagi, harga pakan ternak juga naik, sementara harga telur turun. Maka dari itu, kami mengharapkan agar Dana Desa ditambah dan harga pakan ternak disubsidi oleh pemerintah,” harapnya.

Pengawasan Aktif 24 Jam

Berkaitan dengan kandang, pihaknya juga selalu aktif 24 jam dalam pengontrol perkembangan semua ayam petelur.

“Kami sediakan CCTV untuk mengantisipasi pencurian ayam. Dari Dana Desa itu kami belikam kandang baterai, DOC, sebagai pengawas kami juga selalu mengikuti. Sehingga dalam mengontrol pengeluaran selaku transparan, seperti harus ada nota berapapun laporan nominalnya, ongkos produksi seperti perawatan, vitamin dan juga obat-obatan sebagai sarana dan prasarana penunjang budidaya ternak ayam petelur ini,” tegas Supadi.

Butuh Tambahan Modal dan Keseimbangan Harga Pakan Ayam

Pihaknya kini berharap, bahwa ke depam ada tambahan dukungan modal dan stabilitas harga pakan ternak yang bersubsidi.

“Informasi yang saya terima dari Bapak Kepala Desa Torongrejo, Takin selaku komisaris, untuk Dana Desa tahun 2026 ini cuma Rp 70 juta saja. Barangkali kalau Rp 70 juta itu untuk pengembangan saya kira jelas kurang, karena memang tidak cukup,” ungkapnya lagi.

Pihaknya juga berharap, ada kebijakan dari pemerintah terkait dengan harga pakan ternak yang bersudsidi.

“Terus terang, kami menginginkan adanya keseimbangan antara harga telur dengan pakan ternak. Artinya, kalau harga pakan naik, harga telur harus turun, agar dapat seimbang,” uarainya.

Meski begitu, ia menilai pengelolaan sudah berjalan baik. Pasaonya, pada awal usaha, yakni tepatnya bulan kedua atau ketiga, BUMDes Bejo masih bisa mendapat sisa uang sekitar Rp 12 juta saja per bulan.

“Grafiknya memang naik turun. Pakan ternak satu tahun 12 hari. Ketika bulan 3 beli 3 kali, bulan berikutnya beli dua kali. Sehingga grafik untuk sisa atau laba bersih itu jadi naik turun. Tapi, ya itu tadi yang saya sampaikan kendalanya yaitu harg telur yang sekarang ini turun, disisi lain justeru harga pakan ternak malah naik,” tandas Supadi sembari berharap kepada pemerintah, agar menyediakan pakan ternak bersubsidi. (Dod)