Desa yang Ditumpulkan

Pietra Widiadi (Founder Pendopo Kembangkopi, tempat belajar membangun warga, Sosiolog, Praktisi dan Fasilitator Pendidik Pembangunan Warga). (ist)

 

Oleh : Pietra Widiadi

 

Dalam beberapa waktu ini, penulis bolak-balik ke desa-desa di pulau-pulau kecil di Selat Madura. Perjalanan ini, mengemban kegiatan mendukung Lembaga Swadaya Masyarakat, atau disebut juga organisasi non pemeintah (NGO) di pulau Sapudi, pulau Raas, pulau Mandangin, pulau Gili Raja dan Gili Genting. Perjalanan atas nama Dial, Pusat pembelajaran metode pendamping masyarakat di Gunung Kawi.

 

Mengunjungi desa-desa di beberapa pulau yang berbeda, seperti masuk dalam lapisan labirin. Desa-desa ini unik, prosperity dengan kekayaan alam dan tradisi. Salah satunya adalah sistem pemeliharaan sapi untuk karapan sapi di Sapudi. Sapi dan kambing pedaging di Raas, serta ikan Kembung di Mandangin.

 

Pulau-pulau Berpagarkan Selat Madura

 

Mulai dari Pulau Raas, merupakan 1 kecamatan yang terdiri dari 9 desa, dan pulau yang benar-benar panas di mana ekosistem hayati, tanaman hijau dan hewan liar hampir tidak ditemui lagi. Pulau ini mulai mengalami krisis ekosistem lingkungan. Menurut orang-orang di sana dalam suatu pertemuan, dulu tanaman (pohon) Asem Jawa dan Sukun cukup mendominasi.

 

Selain itu, pertanian tergantung hujan dan penampung air bukan pada saat kemarau untuk pertanian. Sementara air tawar bersih masih bisa ditemui, mungkin sisa-sisa penyimpanan dari pohon besar pelindung air, seperti Asem Jawa dan Sukun.

 

Di barat pulau Raas, membentang pulau Sapudi berjarak 1 jam dengan kapal kayu. Alam yang dibayangkan kering dan panas menyengat serta batuan kapur bukan dominasi di Sapudi. Pulau ini terdapat 2 kecamatan dengan 18 desa, dengan 1 kecamatan menjadi pusat lalu – lalang warga belanja kebutuhan sehari-hari, yaitu Desa Gayam, Kecamatan Gayam. Di pulau ini, ada tiga dermaga untuk lalu – lalang kapal peumpang atau kapal barang. Sudah ada beberapa penginapan kecil yang dikelola secara rumahan.

 

Pulau ini disejukkan oleh begitu banyaknya Pohon Asam dan Sukun yang makin hari makin berkurang. Panas dan sejuk karena semilir angin perpaduan yang mengherankan. Misalnya di Astana (makam) Adi Poday, tokoh leluhur yang memulai kehidupan di pulau itu dilestarikan, di situ, Sukun dan Asam Jawa berpadu menaungi permukiman yang sebagian kecil masih mempertahankan model Tanea Lajeng.

 

Ke arah Barat, dengan kapal kayu motor, ada gugusan pulau Gili Genting dan Gili Raja, lalu menuju Mandangin, pulau kecil hanya satu desa, dengan kepadatan yang sangat rapat, yaitu 12.000 jiwa per kilo meter persegi. Mungkin Mandangin, salah satu pulau yang menyaingi Haiti sebuah negara pulau kecil berhimpit dengan Amerika. Sekitar pulau cukup bersih, karena warga menyediakan tempat sampah dari bekas galon khusus untuk mewadahi sampah plastik.

 

Di 3 pulau ini, sampah plastik berserakan di sepanjang pantai, mereka bilang kalau itu sampah yang dibawa arus, bukan sampah lokal. Sehingga pulau-pulau itu seperti kue tart yang dihiasi rumbai-rumbai dari pastik warna-warni.

 

Mereka, warga pulau kewalahan menghadapi sampah kiriman ini. Mereka juga kewalahan mengatasi sampah plastik yang mereka produksi sendiri. Kalau di Pulau Jawa, masyarakat Madura perantauan jawara menjadi pengelola sampah, di 3 guguan pulau tersebut seolah-olah mereka tak berdaya dengan plastik bekas itu.

 

Klèbun Ujung Tombak Perubahan

 

Hubungan yang nampak kental adalah model patron—client. Model ini memang bergaya feodal, bahwa pimpinan selalu benar, kaya, dan dipatuhi. Termasuk di dalamnya Pak Klebun. Klèbun merupakan bahasa Madura yang secara harfiah memiliki difinisi dan makna yang sama dengan kepala desa.

 

Jabatan ini merujuk pada pimpinan pemerintahan tingkat desa. Posisi itu sekarang dapat diduduki seseorang melalui proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Madura, Klebun bukan sekadar jabatan administratif pemerintah. Posisi ini menempatkan klebun sebagai sosok elite lokal yang sangat dihormati, dituakan, dan menjadi rujukan utama warga dalam menyelesaikan berbagai masalah.

 

Klebun adalah tokoh yang berkembang dari perpaduan antara kekuatan formal (sebagai kepala desa) dan karisma/pengaruh kultural. Dalam kultur Madura, seorang tokoh yang menjadi klebun biasanya memiliki beberapa karakteristik kuat. Seorang klebun yang disegani seringkali memiliki latar belakang atau afiliasi kuat dengan budaya blater, yaitu tokoh informal yang dihormati karena keberanian, pengaruh sosial, ketangkasan fisik, dan karisma. Meski sekarang ketangkasan fisik tidak lagi jadi ukuran.

 

Saat ini, memiliki kemampuan ekonomi lebih utama dari pada ketangkaan fisik. Mereka, biasanya punya usaha atau seorang pengusaha atau saudagar. Kemampuan ekonomi yang kuat, bisa dilihat dari klebun di Desa Alasmalang dan Desa Guwa-guwa atau Desa Tonduk di Pulau Putri. Mereka adalah pemilik Madura Mart di Jawa, pengusaha ekspor ikan laut, atau pengusaha transportasi. Umumnya mereka cukup inovatif dalam membangun desa, meski itu dibangun karena kemampuan jaringan ekonomi yang dimiliki.

 

Ujung yang Tumpul

 

Sejak era periode Jokowi, desa-desa dimanjakan dengan guyuran skema Dana Desa, yang besarnya sekitar Rp 1 miliar, tiap desa. Mereka digembleng untuk mempertanggungjawabkan dana yang terima dalam tata kelola pemerintahan yang baik. Di mana prinsip partisipasi, transparansi dan tanggung gugat jadi pegangan. Mendadak tahun 2026 ini, dana turun drastis hanya menjadi Rp 300 juta. Menurut salah satu klebun, duit segitu, hanya cukup untuk urusan administrasi dan pembanguan yang terbatas manfaatnya.

 

Selain dana desa (DD), desa-desa ini menerima skema Alokasi Dana Desa (ADD) yang merupakan bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dari Pemerintah Kabupaten, atau kucuran lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari provinsi. Kesempatan lain bisa diperoleh kalau mereka memiliki kreativitas dalam mendapatkan Pendapatan Desa (PD). Mereka hidup berdampingan dengan wilayah pengeboran minyak yang dikelola oleh vendor dari SKK-Migas yang disebut dengan mitra pengadaan Kontrak Kontraktor Kerjasama (K3S).

 

Kedekatan ini, desa-desa ini disebut masuk dalam area ring 1, terdampak operasional yang dilakukan oleh K3S tersebut. Dengan demikian pembangunan publik, atau penguatan kapasitas masyarakat dapat diperoleh atas dukungan dana CSR atau dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Jadi desa mendapatkan dukungan pembangunan dan pendapatan desa dari beberapa skema tadi.

 

Ada kepala desa membandingkan apa yang mereka terima dengan kepala SPPG, satuan pelayanan pemenuhan gizi yang menerima, yang memperoleh Rp 6 juta setiap bulan. Lebih dari itu, klebun ini membandingkan dengan kepala juru masak SPPG yang mendapat hak sekitar Rp 3 juta/bulan. Maka sebagai klebun, dirinya setara dengan kepala juru masak, sebesar Rp 3 juta. Mereka dapat bersih, kalau klebun gak bisa.

 

Permasalahan desa bukan hanya soal dana Rp 300 juta, atau dana PPM, program pelibatan dan pengembangan masyarakat dari SKK Migas, katanya. Tapi juga soal perceraian, keributan rumah tangga, sengketa lahan dan waris. Soal kerugian saat panen gagal. Jadi klebun harus digdaya, jauh melebih pejabat manapun. “Kami ujung tombak, tapi kebijakan yang ada membuat kami tumpul,” terangnya.

 

“Kami diminta jujur tapi pendapatan kami sangat kecil, sedangkan kami punya keluarga yang juga diurus. Maka jujur hanya jejalan jajanan yang gak bergizi. Kejujuaran tidak akan bisa bertahan, apalagi kami menanggung beban biaya pembangunan. Sedangkan kegiatan desa saat ini, seperti ngantor di kota. Kalau jam 12 setelah jam makan siang, kami tidak hadir lagi di kantor desa maka kami dianggap pemalas, tidak disiplin bahkan dianggap membangkang,” jelasnya.

 

“Salah satu jalan misalnya kami akan memadukan proses pendanaan PPM SKK Migas, dalam skema PTK-017/2025 dengan musrenbang yang merujuk pada Permendagrib114/2014. Tentu dalam pendanaan seperti ini, pertanggungjawaban bisa dipisah atau disatukan tergantung dari pemberi dana. Sementara jangkauan kami dalam pembangunan desa, tidak bisa sampai dengan pembuat kebijakan di SKK Migas,” tukasnya.

 

Keindahan pulau-pulau ini, kehebatan para perantaunya yang menjadi jawara saudagar sarungan karena mempunyai inovasi dengan menciptakan Madura Mart, yang buka 25 jam dan tutup saat kiamat, lambat laun akan pudar. Di Raas saja hampir 50% penduduk merantau ke Bali sebagai pedagang asesori, di Jakarta dan sekitarnya membuka Masura Mart. Sehingga desa-desa di Raas, di pulau Sapudi juga banyak ditemukan rumah-rumah bak istana kosong, atau dihuni oleh para lansia atau anak-anak yang ditinggal merantau.

 

Ini seperti sebuah taman yang tidak dirawat, kejujuran yang tergadaikan dan penelantaran fasilitas publik dan kerusakan ekosistem lingkungan karena dimusnahkan. Seperti sebuah era tanpa perhatian pada warganya. Klebun tidak mengeluh, tetap saja bekerja ngantor meski tidak full, karena warga dilayani dari kediaman mereka. Sehingga perangkat diijinkan pulang setelah istirahat siang, karena harus memberi makan ternak dan ngolah lahan yang masih produktif atau ke laut mencari ikan. Kecukupan yang menjadi subsisten, semuanya dilakukan hanya untuk mencukup diri dan keluarga.

 

 

*) Penulis : Pietra Widiadi (Founder Pendopo Kembangkopi, tempat belajar membangun warga, Sosiolog, Praktisi dan Fasilitator Pendidik Pembangunan Warga)

 

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis