
BACATODAY.COM – Randrianirina sendiri naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada Oktober tahun lalu, menyusul gelombang demonstrasi besar yang digerakkan kelompok muda bertajuk Gen Z Madagascar. Namun, tak lama setelah itu, kelompok tersebut merasa kecewa karena sejumlah pejabat yang ditunjuk dinilai masih berasal dari lingkaran elite lama.
Dalam pernyataannya kepada media, Randrianirina menegaskan bahwa penggunaan poligraf akan menjadi alat utama untuk menilai integritas calon pejabat. Ia menyebut metode ini sebagai cara paling efektif untuk memastikan siapa yang layak membantu pemerintahan dan siapa yang berpotensi mengkhianati perjuangan rakyat, khususnya generasi muda.
Rencananya, susunan kabinet baru akan diumumkan dalam waktu dekat. Presiden juga menekankan bahwa dirinya tidak mencari sosok yang sepenuhnya bersih, tetapi setidaknya memiliki tingkat integritas yang memadai untuk membangun negara.
Gelombang protes yang melatarbelakangi perubahan kekuasaan bermula pada September tahun lalu akibat krisis listrik dan air, lalu berkembang menjadi tuntutan reformasi politik total. Data United Nations mencatat sedikitnya 22 korban jiwa dalam fase awal demonstrasi.
Pada 11 Oktober, pasukan elite militer Capsat yang dipimpin Randrianirina menyatakan dukungan kepada demonstran. Sehari kemudian, presiden saat itu, Andry Rajoelina, dilaporkan meninggalkan negara menuju Dubai. Setelah itu, Randrianirina dilantik sebagai presiden sementara dengan janji menggelar pemilu pada 2027.
Meski demikian, kebijakan penggunaan poligraf menuai kritik dari aktivis. Mereka meragukan keakuratan alat tersebut yang dinilai belum terbukti secara ilmiah. Walau begitu, sebagian aktivis mengakui adanya perbaikan dibandingkan pemerintahan sebelumnya dan masih menaruh harapan pada kabinet baru.
Saat ini, Madagascar masih termasuk negara dengan tingkat kemiskinan tinggi, dengan PDB per kapita sekitar US$545 pada 2024 menurut World Bank. Ironisnya, negara ini kaya sumber daya alam seperti vanila dan batu mulia yang kerap disebut dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab. Dalam indeks persepsi korupsi 2025 yang dirilis Transparency International, Madagaskar berada di peringkat 148 dari 180 negara.(nrn/yog)











