Teknologi Pirolisis Jadi Solusi Pengolahan Sampah Berbasis Energi di Bali

Kasad dukung pengelolaan sampah dengan teknologi pirolisis di Bali.(Foto : Instagram)

BACATODAY.COM – Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan komitmen TNI AD dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan di Bali melalui penerapan teknologi pirolisis yang dinilai lebih cepat, efektif, dan ramah lingkungan.

Pernyataan tersebut disampaikan Maruli saat melakukan kunjungan kerja di Rumah Jabatan Gubernur Bali Jaya Sabha, Denpasar, Jumat, bersama Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto.

Kunjungan itu dilakukan untuk mengikuti rapat koordinasi sekaligus meninjau lokasi pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) beserta rencana lokasi PSEL baru di Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam penjelasannya, Maruli menyebut teknologi pirolisis memiliki sejumlah keuntungan, seperti tidak memerlukan investasi dari pemerintah, proses pengolahan sampah yang lebih singkat, tanpa subsidi pemerintah, serta menggunakan sistem yang minim emisi terbuka dan lebih ramah lingkungan. Operasional fasilitas tersebut ditargetkan mulai berjalan pada April 2027.

Kasad juga menegaskan kesiapan TNI AD membantu sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah di Bali agar penanganan sampah dapat dilakukan secara terpadu dan lebih cepat.

Ia menambahkan, program tersebut membutuhkan beberapa dukungan, mulai dari kelengkapan administrasi, penyediaan lahan sekitar lima hektare untuk kapasitas pengolahan 100 ton sampah per hari, kepastian penjualan solar hasil olahan sebagai energi terbarukan, hingga kerja sama jangka panjang selama 30 tahun.

Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster menilai persoalan sampah menjadi tantangan besar bagi Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional dan pusat budaya nasional.

Menurut Koster, kebersihan lingkungan dan kelestarian ekosistem harus tetap dijaga di tengah meningkatnya produksi sampah dari masyarakat maupun sektor pariwisata.

Ia menekankan pembangunan PSEL harus berlangsung secara terbuka, dapat dipertanggungjawabkan, serta melibatkan masyarakat sekitar dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan proyek.

Koster juga menjelaskan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik masih berada pada tahap pembangunan dan ditargetkan mulai beroperasi pada Desember 2027 sebagai solusi jangka panjang untuk persoalan sampah sekaligus mendukung ketahanan energi Bali.

Sementara itu, Staf Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Neni, memaparkan pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019.

Ia menjelaskan pemilahan sampah harus dimulai dari rumah tangga, baik sampah organik, plastik bernilai ekonomis, maupun limbah lainnya.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun, buah, dan sayuran dapat dimanfaatkan menjadi kompos, pupuk cair, hingga budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF).

Penerapan teknologi PSEL dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar minyak terbarukan dinilai dapat membantu mengatasi kondisi darurat sampah di kawasan Denpasar Raya sekaligus mengurangi beban TPA Suwung.

Bali pun ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan penerapan teknologi pirolisis bersama sejumlah kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Bogor, dan Semarang, dengan dukungan TNI AD serta tim lintas kementerian dan lembaga.(nrl/yog)