AS Pecat Menteri Angkatan Laut di Tengah Konflik Iran dan Gejolak Internal Pentagon

Pemerintah AS mencopot Menteri Angkatan Laut di tengah konflik dengan Iran, menambah gejolak kepemimpinan di Pentagon serta memperumit situasi gencatan senjata dan negosiasi damai.(CNN Indonesia)

BACATODAY.COM – Kementerian Perang Amerika Serikat—yang sebelumnya dikenal sebagai Kementerian Pertahanan—memberhentikan Menteri Angkatan Laut John Phelan di tengah konflik bersenjata dengan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, keputusan mencopot Phelan menjadi bagian dari rangkaian perubahan besar di Pentagon selama masa perang. Langkah ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengganti pejabat tinggi di Angkatan Darat AS.

Dalam keterangan resminya, Pentagon menyatakan bahwa Phelan “telah meninggalkan jabatannya efektif segera,” tanpa penjelasan rinci. Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Phelan selama bertugas dan mendoakan kelanjutan kariernya.

Sebagai pengganti sementara, Wakil Menteri Angkatan Laut Hung Cao akan menjalankan tugas kepemimpinan. Sebelumnya, pada awal April, Hegseth juga mencopot Kepala Staf Angkatan Darat AS Randy George, yang disebut-sebut berkaitan dengan ketegangan internal bersama Menteri Angkatan Darat Daniel Driscoll.

Pergantian pejabat ini menambah daftar gejolak di tubuh Pentagon, menyusul sejumlah perubahan penting lainnya, termasuk pencopotan Ketua Kepala Staf Gabungan sebelumnya, C.Q. Brown, serta pejabat tinggi di Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Situasi ini berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran. Washington bahkan meningkatkan kehadiran armada lautnya di kawasan Timur Tengah untuk memperkuat tekanan terhadap Teheran.

Militer AS kini mengandalkan kekuatan laut guna menjalankan blokade terhadap Iran. Strategi ini diharapkan Presiden Donald Trump dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan dan menerima syarat yang diajukan AS.

Namun, proses diplomasi masih menemui hambatan. Iran belum bersedia menghadiri putaran kedua negosiasi damai di Islamabad, yang semestinya digelar awal pekan ini. Ketidakpastian tersebut mendorong Trump memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 22 April, dengan alasan memberi waktu tambahan bagi Iran menyusun proposal.

Langkah itu kontras dengan sikap Trump sebelumnya yang sempat melontarkan ancaman baru terhadap Iran. Analis kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, menilai perpanjangan gencatan senjata ini sebagai upaya menutup situasi yang kurang menguntungkan bagi AS.

Menurut Slavin, posisi Trump saat ini cukup sulit karena konflik tidak berjalan sesuai rencana awal. Ia juga menyoroti bahwa Iran memperoleh keunggulan tawar melalui kendalinya atas Selat Hormuz.

Ia menyarankan agar Amerika Serikat mulai melonggarkan tuntutan dan menunjukkan keseriusan dalam mencari solusi damai dengan Iran.(nrn/yog)