BACATODAY.COM – Momentum Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei kembali menjadi pengingat pentingnya perjuangan hak-hak pekerja dan keadilan sosial di Indonesia. Ketua Forum Pemuda NTT, Philipus Oskar Api Oa, menilai suara buruh, tani, dan mahasiswa masih menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Dalam keterangannya, Philipus mengatakan bahwa solidaritas perjuangan selama ini lahir dari kelompok masyarakat yang masih menjaga nilai kejujuran dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.
> “Solidaritas ini selalu timbul dan muncul dari kalangan buruh, tani, dan mahasiswa. Mereka inilah yang disebut aktivis,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, peringatan May Day bukan sekadar agenda tahunan, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih dirasakan para pekerja di berbagai sektor.
> “May Day adalah hari buruh, di mana di seluruh Indonesia aktivis buruh dan mahasiswa turun ke jalan mencari keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Philipus juga menyoroti pemerintah dan partai politik yang dinilai mulai menjauh dari semangat sosialisme Indonesia sebagaimana pernah digagas Presiden Soekarno.
> “Pemerintah harus menyadari bahwa alarm ini terus berbunyi setiap tahun saat May Day. Ini mengingatkan kita bahwa ideologi sosialisme Indonesia perlu direkonstruksi ulang sebagaimana diterapkan di jalan politik Presiden Soekarno saat itu,” tegasnya.
Ia menilai saat ini semangat sosialisme lebih banyak disuarakan oleh kalangan buruh dan mahasiswa dibanding elite politik.
> “Sosialisme hari ini hanya terdengar diteriakkan oleh kawan-kawan buruh dan mahasiswa. Pemerintah bahkan partai politik hampir tidak ada yang meneriakkan sosialisme Indonesia,” lanjutnya.
Selain itu, Philipus menekankan bahwa persoalan upah tidak layak tidak hanya terjadi di lingkungan pabrik, tetapi juga di berbagai sektor informal yang sering luput dari perhatian pemerintah.
> “Semua elemen masyarakat harus menyadari bahwa upah tidak layak itu tidak hanya terjadi di pabrik-pabrik saja. Di luar pabrik juga ada, misalnya mempekerjakan orang kemudian memberi upah yang tidak sesuai. Ini harus didorong agar terbentuk regulasi yang benar-benar memanusiakan manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, May Day memiliki akar sejarah panjang dalam perjuangan kaum pekerja secara global. Karena itu, momentum ini seharusnya menjadi refleksi bersama untuk memahami sejarah dan memperkuat gerakan keadilan sosial di Indonesia.
> “May Day mempunyai akar sejarah yang kuat tentang perjuangan buruh. Ini bisa dimaknai bagi siapa saja yang mau membaca sejarah asal-usul buruh hingga landasan pergerakan buruh secara global,” pungkasnya. (yog/red)












