Oleh: Agustinus Tedja Bawana
Curcol Pagi Hare
17 Agustus 2026 memiliki sebuah pertemuan simbolik yang menarik. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini jatuh pada Senin Legi, dengan neptu 9.
Dalam budaya Jawa, angka tidak semata-mata dipahami sebagai angka. Hari, pasaran, watak, dan peristiwa dapat dibaca sebagai sasmita—isyarat untuk melakukan perenungan.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan dengan bijak. Neptu 9 bukanlah neptu tinggi jika dilihat semata-mata dari jumlah angkanya. Justru, nilai simboliknya dapat dibaca sebagai sesuatu yang sederhana tetapi utuh: bukan besar karena angka, melainkan besar karena makna yang dibawanya.
Dari sinilah Senin Legi pada Hari Kemerdekaan dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kembali makna kepemimpinan bangsa.
Senin: Memulai Kembali Perjalanan
Dalam tradisi Jawa, Senin memiliki neptu 4.
Senin dapat dibaca sebagai simbol wiwitan—permulaan.
Kemerdekaan bukan sekadar mengenang bahwa bangsa Indonesia pernah memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka. Kemerdekaan seharusnya selalu menghadirkan pertanyaan:
Sudahkah kita memulai kembali kehidupan berbangsa dengan jiwa yang semakin matang?
Setiap peringatan kemerdekaan sebenarnya bukan hanya tentang melihat ke belakang, tetapi juga mengajak kita menatap ke depan.
Bangsa yang hanya bangga kepada masa lalu dapat berhenti bertumbuh. Sebaliknya, bangsa yang melupakan masa lalu akan kehilangan akar.
Karena itu, kemerdekaan membutuhkan keseimbangan antara eling lan waspada:
Eling terhadap sejarah.
Waspada terhadap masa depan.
Legi: Rasa Manis yang Tidak Boleh Kehilangan Keadilan
Pasaran Legi memiliki neptu 5.
Dalam rasa budaya Jawa, Legi berkaitan dengan rasa manis. Tetapi “manis” dalam kepemimpinan bukan sekadar pandai berkata-kata.
Manis yang sejati adalah kemampuan menghadirkan kehidupan yang membuat rakyat merasa dihargai, didengar, dilindungi, dan diperlakukan dengan adil.
Karena itu, Senin Legi pada Hari Kemerdekaan dapat dibaca sebagai pesan budaya:
Kemerdekaan harus melahirkan kehidupan yang semakin manis bagi rakyat, bukan sekadar semakin manis dalam pidato para pemimpinnya.
Inilah kritik budaya yang halus, tetapi penting.
Sebab kekuasaan dapat terlihat gagah di atas panggung. Namun, ukuran sebenarnya selalu berada di bawah: bagaimana rakyat menjalani kehidupan sehari-hari.
Neptu 9: Tidak Besar Angkanya, tetapi Besar dalam Kesatuan
Senin 4 dan Legi 5 menghasilkan neptu 9.
Jangan terburu-buru membaca angka 9 sebagai “neptu tinggi”. Dalam konteks ini, lebih menarik jika angka tersebut dilihat sebagai kesatuan dua unsur:
4 + 5 = 9.
Ada dua unsur yang berbeda, tetapi ketika bertemu menghasilkan satu kesatuan.
Bukankah Indonesia juga demikian?
Indonesia dibangun bukan oleh satu warna, satu suku, satu pemikiran, atau satu generasi. Indonesia menjadi Indonesia karena berbagai perbedaan bersedia hidup dalam satu rumah kebangsaan.
Maka, Senin Legi dapat menjadi perlambang sederhana:
Yang membuat bangsa besar bukan besarnya satu unsur, melainkan kesediaan berbagai unsur untuk berjalan menuju satu tujuan.
Belajar dari Para Bapak Bangsa
Para bapak bangsa memiliki karakter, zaman, pemikiran, dan cara perjuangan yang berbeda. Mereka tidak selalu sepakat. Bahkan, perbedaan di antara mereka terkadang sangat tajam.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perbedaan itu:
Indonesia.
Di sinilah kita perlu memberikan kritik secara budaya, bukan dengan kebencian.
Jawa mengenal konsep ngudari rembug—mengurai persoalan melalui pembicaraan. Bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Justru perbedaan perlu ada.
Tetapi perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang membuat tujuan bersama hilang dari pandangan.
Para pemimpin masa kini dapat belajar dari semangat tersebut.
Pemimpin tidak harus selalu benar. Namun, pemimpin harus mampu mendengarkan ketika ada kemungkinan bahwa dirinya keliru.
Inilah salah satu ukuran kematangan kepemimpinan.
Kritik Jawa: “Aja Dumeh”
Budaya Jawa memiliki ungkapan sederhana:
Aja dumeh.
Jangan karena memiliki kekuasaan lalu merasa boleh melakukan apa saja.
Jangan karena memiliki jabatan merasa lebih tinggi daripada rakyat.
Jangan karena memiliki banyak pendukung merasa tidak perlu mendengar suara yang berbeda.
Jabatan adalah amanah, bukan peningkatan derajat kemanusiaan.
Orang yang duduk di kursi kekuasaan tetap manusia biasa yang dapat salah membaca keadaan.
Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin penting baginya memiliki sikap andhap asor.
Bukan rendah diri, melainkan kemampuan menempatkan diri secara tepat.
Kepemimpinan Senja: Kekayaan Pengalaman
Dalam konteks “pasangan senja dan muda”, kepemimpinan senja dapat dimaknai sebagai generasi yang telah melewati banyak musim kehidupan.
Ia membawa pengalaman, ingatan sejarah, jaringan, kebijaksanaan, kemampuan membaca risiko, serta pemahaman terhadap konsekuensi sebuah keputusan.
Namun, pengalaman juga memiliki satu bahaya: pengalaman dapat berubah menjadi kebiasaan.
Orang yang terlalu lama berada dalam sebuah sistem dapat merasa bahwa cara lama adalah satu-satunya cara yang benar. Padahal, zaman terus berubah.
Karena itu, kepemimpinan senja membutuhkan satu sikap penting:
mau mendengar.
Senja yang bijaksana bukan senja yang ingin menguasai seluruh masa depan.
Senja yang bijaksana adalah senja yang menyiapkan matahari pagi.
Kepemimpinan Muda: Energi Masa Depan
Generasi muda membawa sesuatu yang tidak selalu dimiliki generasi sebelumnya: keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Anak muda lebih mudah melihat perubahan teknologi, sosial, ekonomi, maupun cara berpikir.
Namun, energi muda juga memiliki risiko.
Kecepatan dapat mengalahkan kedalaman. Keberanian dapat berubah menjadi ketidaksabaran. Idealitas dapat berbenturan dengan kenyataan.
Karena itu, kepemimpinan muda juga membutuhkan eling lan waspada.
Muda bukan berarti harus menolak yang lama.
Tua bukan berarti harus menolak yang baru.
Keduanya harus bertemu.
Pasangan Senja dan Muda: Bukan Senior Mengendalikan Junior
Di sinilah gagasan pasangan senja dan muda menjadi menarik.
Hubungan keduanya seharusnya bukan:
Yang tua memerintah, yang muda mengikuti.
Dan bukan pula:
Yang muda mengambil alih, yang tua disingkirkan.
Hubungan yang lebih sehat adalah:
Yang senja memberikan kedalaman, yang muda memberikan arah ke depan.
Yang senja menjaga agar bangsa tidak kehilangan akar.
Yang muda memastikan bangsa tidak kehilangan masa depan.
Yang senja bertanya:
“Apa akibatnya?”
Yang muda bertanya:
“Mengapa tidak kita coba?”
Jika keduanya mau saling mendengar, lahirlah keseimbangan.
Kritik Budaya terhadap Pola Kepemimpinan
Masyarakat perlu berhenti melihat pemimpin hanya dari siapa yang paling kuat, paling populer, paling banyak pendukung, atau paling pandai membangun citra.
Budaya Jawa mengajarkan ukuran yang lebih dalam:
Sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Bukan berarti pemimpin tidak boleh mempunyai kepentingan. Tetapi kepentingan pribadi tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat.
Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang selalu dipuji.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang berani mengambil keputusan yang benar, sekalipun keputusan tersebut tidak selalu menghasilkan tepuk tangan.
Rakyat pun perlu belajar sesuatu.
Jangan menjadikan pemimpin sebagai tokoh yang harus selalu dibela.
Pemimpin tetap harus dikritik.
Namun, kritik harus diarahkan kepada tindakan dan kebijakan, bukan berubah menjadi kebencian terhadap pribadi.
Itulah kritik yang berbudaya.
Kemerdekaan: Dari “Merdeka dari” Menjadi “Merdeka untuk”
Makna kemerdekaan perlu terus diperbarui.
Dahulu, bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka dari penjajahan.
Sekarang pertanyaannya lebih dalam:
Merdeka untuk apa?
Merdeka untuk membangun keadilan.
Merdeka untuk meningkatkan pendidikan.
Merdeka untuk menciptakan kesejahteraan.
Merdeka untuk memastikan hukum tidak kehilangan rasa keadilan.
Merdeka untuk memberikan ruang kepada generasi muda.
Merdeka untuk membuat orang tua merasa bahwa pengalaman hidupnya masih dihargai.
Dan merdeka untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak menjadi milik segelintir orang.
Senin Legi sebagai Sasmita
Jika 17 Agustus 2026 kita baca secara budaya sebagai Senin Legi, kita dapat mengambil sebuah sasmita sederhana:
Senin — wiwitan.
Kita harus berani memulai.
Legi — rasa manis.
Kemerdekaan harus menghasilkan kehidupan yang semakin manusiawi.
9 — kesatuan.
Bangsa ini tidak akan kuat apabila generasi, kelompok, dan kepentingan berjalan sendiri-sendiri.
Maka, pesan budayanya dapat dirumuskan:
Wiwit maneh kanthi rasa, nyawiji kanggo bangsa.
Memulai kembali dengan rasa, menyatukan diri untuk bangsa.
Senja Tidak Harus Takut kepada Pagi
Barangkali inilah perlambang paling indah dari pasangan senja dan muda.
Senja tidak perlu iri kepada pagi.
Senja memiliki tugasnya sendiri: memberikan keteduhan, pengalaman, dan perenungan.
Pagi pun tidak perlu meremehkan senja.
Pagi membutuhkan cahaya pengalaman agar tidak tersesat dalam kegembiraan memulai sesuatu yang baru.
Dalam kepemimpinan bangsa, keduanya harus bertemu dalam satu prinsip:
Yang tua memberikan kebijaksanaan, yang muda memberikan keberanian.
Yang satu menjaga akar.
Yang satu membuka cabang baru.
Tetapi keduanya harus tumbuh dari tanah yang sama:
Indonesia.
Merdeka dengan Rasa
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang dikibarkan setiap 17 Agustus.
Kemerdekaan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk terus memperbaiki dirinya tanpa kehilangan jati dirinya.
Senin Legi dapat kita jadikan sebagai cermin budaya.
Bukan ramalan.
Bukan pula pembenaran terhadap siapa yang sedang berkuasa.
Melainkan sasmita untuk bercermin.
Kepada pemimpin, ia berpesan:
Aja dumeh.
Kepada generasi tua:
Aja wedi marang owah-owahan.
Jangan takut terhadap perubahan.
Kepada generasi muda:
Aja lali marang oyod.
Jangan melupakan akar.
Dan kepada seluruh rakyat:
Beda pandangan boleh. Beda tujuan jangan sampai.
Sebab pada akhirnya, senja dan muda bukan dua kekuatan yang harus saling mengalahkan.
Mereka adalah dua waktu yang berbeda dalam satu perjalanan.
Dan perjalanan itu bernama:
Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka bukan hanya dari penjajahan, tetapi merdeka untuk menghadirkan keadilan, martabat, dan masa depan.












