
BACATODAY.COM – Sebanyak 987 murid baru mengikuti Kegiatan Cinta Sekolah (KCS) atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK PGRI 3 Malang tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Garda Swarna” itu diawali dengan opening ceremony di halaman Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (2/7/2026).
Kepala SMK PGRI 3 Malang, Dr. Moch. Lukman Hakim, ST, MM mengatakan tingginya jumlah peserta menjadi bukti kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang dipimpinnya. “Kami berharap anak-anak menjadi garda terdepan yang memiliki jiwa emas untuk menyongsong Indonesia Emas,” tutur dia.
“Mereka tidak hanya memiliki kompetensi dan keterampilan, tetapi juga karakter serta akhlakul karimah sesuai visi sekolah,” ujarnya. Selama beberapa hari pelaksanaan KCS, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang berfokus pada pembentukan karakter, penguatan mental dan fisik, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Menurut Lukman, seluruh rangkaian kegiatan dirancang menanamkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari hidup disiplin, rajin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, beribadah, hingga mampu berbaur dengan masyarakat.
“Sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, SMK PGRI 3 Malang juga akan membagikan 1.000 tumbler kepada masyarakat di wilayah Malang Raya,” terangnya.
Program tersebut diharapkan menjadi kebiasaan baru bagi siswa untuk membawa botol minum sendiri dan mengurangi sampah plastik. Selain itu, sekolah akan memberikan penguatan karakter yang selaras dengan budaya industri.
Program tersebut didukung oleh Astra Daihatsu Motor sebagai mitra dunia usaha dan industri dalam pembentukan karakter siswa yang siap memasuki dunia kerja. Lukman juga menegaskan pelaksanaan KCS tidak hanya menjadi tanggung jawab pengurus OSIS, melainkan melibatkan seluruh guru sebagai pendamping.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan aman, nyaman, serta sesuai dengan prinsip sekolah ramah anak. “Kami mengedepankan mitigasi risiko sehingga seluruh aktivitas tetap aman bagi peserta didik,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, KCS juga menghadirkan berbagai narasumber dari sejumlah instansi. Mulai Polresta Malang Kota memberikan materi tentang keselamatan berlalu lintas, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengenai bahaya narkoba dan minuman keras, Kejaksaan Negeri Malang tentang kesadaran hukum dan antiperundungan, serta Komnas HAM Anak terkait perlindungan hak-hak anak.
Usai pembukaan, para peserta langsung mengikuti pengenalan lingkungan sekolah dan bengkel sesuai jurusan masing-masing. Pada hari berikutnya, mereka akan mengikuti berbagai kelas pembinaan yang menghadirkan para narasumber dari instansi tersebut.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian dalam pembukaan KCS adalah penuangan air ke atas kanvas putih. Lukman menjelaskan, kanvas putih melambangkan peserta didik yang masih siap dibentuk, sedangkan air menjadi simbol ilmu pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, serta karakter yang akan ditanamkan selama menempuh pendidikan di SMK PGRI 3 Malang.
“Kami ingin mengisi ‘wadah’ para siswa dengan ilmu, karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Proses itu tidak berhenti di KCS, tetapi berlanjut selama mereka belajar hingga lulus sebagai lulusan terbaik,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi SMK Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah Kota Malang dan Kota Batu, Frenky Minggaryana Dwi Putra mengaku mengapresiasi pelaksanaan Kegiatan Cinta Sekolah (KCS) di SMK PGRI 3 Malang.
Menurutnya, program itu menjadi salah satu praktik baik dalam menumbuhkan rasa cinta peserta didik terhadap sekolah sejak awal mereka mengawali pendidikan.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak akan semakin mencintai sekolah, lebih bersemangat belajar, dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran,” ujarnya.
Ia menilai konsep KCS yang sudah diterapkan SMK PGRI 3 Malang dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan pendidikan karakter. Namun, implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing – masing sekolah.
“Ini merupakan salah satu praktik baik yang bisa diadopsi atau dimodifikasi oleh sekolah lain, karena setiap sekolah memiliki karakter yang berbeda,” katanya.
Selain memberikan apresiasi, ia juga mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di lingkungan sekolah. Menurutnya, keberadaan tim tersebut harus benar-benar diaktifkan agar mampu mencegah sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang berpotensi terjadi selama proses pendidikan.
“Dengan TPPK yang berfungsi secara optimal, sekolah akan semakin mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik,” pungkasnya. (mrg)











