Cangkrukan Ramadan Warkop Grajen, Solidaritas yang Menyusut dalam Prosesi Pemakaman

Suasana cangkrukan awal Ramadan 2026, di Warkop Grajen, Kepanjen, dengan gerimis tipis dan angin semilir, mengiringi obrolan hangat-santai tentang pergeseran solidaritas sosial dalam tradisi mengantar jenazah di pedesaan.(Imam for Baca Malang)

BACATODAY.COM – Gerimis tipis membasahi Kepanjen malam itu, angin semilir menambah kesejukan suasana awal Ramadan 2026, di Warkop Grajen milik Imam Sodikin. Sekitar pukul 19.45 WIB, Yusuf datang lebih dulu, disusul Wanto, lalu Hizam, dan terakhir Yosi. Obrolan ringan selepas Tarawih pun mengalir, namun topiknya justru menyentuh hal yang serius: pergeseran solidaritas sosial dalam tradisi mengantar jenazah ke pemakaman.

Hizam memulai obrolan menceritakan pengalamannya yang merasa prihatin akan fenomena melunturnya solidaritas sosial pada saat memakamkan warga yang meninggal. Saat usai disalati, jumlah pengiring masih banyak. Namun situasi memprihatinkan terjadi, saat jenazah diantar ke kuburan, jumlah peziarah berkurang karena mereka lebih memilih pulang ke rumah masing-masing.

“Sekarang ini, banyak pengantar jenazah yang akhirnya memilih pulang satu per satu, padahal dulu orang-orang rela ikut sampai liang lahat,” ujar Hizam membuka percakapan. Imam Sodikin menimpali dengan senyum getir, “Saya pernah lihat, modin sedang membacakan khutbah pengiring pemakaman, tapi peziarah malah sibuk ngobrol sendiri. Seolah pemakaman jadi ajang reuni tipis-tipis. Sejak saat itu saya sudah mulai kurang nyaman saat mengantar jenazah karena kesakralan itu sudah hilang.”

Hizam menghela napas panjang, wajahnya tampak kecewa. “Saya sedih, jumlah orang yang benar-benar ikut sampai ke makam makin sedikit. Padahal ini soal solidaritas terakhir untuk sesama.” Yosi menambahkan dengan nada bercanda, “Kalau mendiang seorang kiai, pasti banyak yang mengantar. Jadi kalau mau ramai jenazahnya di antar ke kuburan, ya harus jadi kiai dulu.”

Wanto mengungkapkan jika dalam prosesi pengantaran jenazah ke kuburan dilakukan ibaratnya oleh “pasukan” yang sistematis. “Di desa dulu, memikul keranda itu sudah seperti pasukan. Bergantian, estafet, siapa yang lelah mundur, langsung diganti orang di belakangnya. Sekarang malah ada kereta keranda, tapi rasa kebersamaan itu makin berkurang,” tegasnya.

Obrolan yang penuh canda itu tetap menyimpan pesan penting dan penuh hikmah. Imam mengingatkan, “Setiap mendiang, apapun status sosialnya, harus rela diinjak-injak tanah gundukan makam untuk meratakan. Tidak peduli pangkat, jabatan, atau kekayaan semasa hidup.”

Diskusi di Warkop Grajen malam itu menjadi cermin pergeseran nilai solidaritas sosial yang terjadi saat ini. Meski dibungkus kehangatan, tawa, dan canda, obrolan tersebut menyimpan hikmah: bahwa kematian adalah pengingat, dan solidaritas adalah warisan yang seharusnya tetap dijaga. (had/yog)