
BACATODAY.COM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong pergerakan ekonomi sektor pendukung.
Salah satu contoh yang disorot adalah meningkatnya usaha produksi sabun pencuci peralatan makan, termasuk wadah makanan atau ompreng yang digunakan dalam program MBG.
Menurut Dadan, kehadiran MBG memicu tumbuhnya berbagai industri kecil, khususnya produsen sabun, seiring meningkatnya kebutuhan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Program MBG sudah menggerakkan ekonomi, bukan hanya dari sisi bahan pangan, tetapi juga kebutuhan penunjangnya. Sekarang banyak wirausaha baru di bidang sabun karena kebutuhan SPPG cukup besar,” ujar Dadan usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, setiap SPPG membutuhkan sekitar 25 liter sabun cuci per hari untuk membersihkan peralatan makan, termasuk ompreng MBG. Kebutuhan tersebut membuat peluang usaha sabun semakin terbuka lebar.
“Dalam sehari, satu SPPG bisa menghabiskan sekitar 25 liter sabun. Ini menjadi peluang bagi banyak pelaku usaha baru di berbagai daerah yang kini merasakan manfaat dari program MBG,” jelasnya.
BGN mencatat, sepanjang Januari 2026 anggaran sebesar kurang lebih Rp19,5 triliun telah disalurkan untuk mendukung pelaksanaan MBG. Dana tersebut dinilai memberikan dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi lokal, terutama bagi pelaku UMKM dan pengusaha daerah. Meski demikian, Dadan menegaskan evaluasi terus dilakukan agar pelaksanaan program semakin optimal.
“Selain intervensi gizi, program ini nyata mendorong ekonomi masyarakat karena anggaran yang disalurkan langsung ke bawah. Hingga Januari 2026 saja, BGN sudah merealisasikan Rp19,5 triliun,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa program MBG telah menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
“Saya buktikan sebagai Presiden Republik Indonesia, saat ini sudah tercipta satu juta lapangan kerja hanya dari program MBG,” ujar Prabowo.
Ia menerangkan, lapangan kerja tersebut berasal dari 22.275 dapur SPPG yang telah dibangun dan beroperasi. Setiap dapur rata-rata menyerap sekitar 50 tenaga kerja, sehingga total pekerja yang terlibat mencapai sekitar satu juta orang.
Selain itu, efek berantai juga dirasakan dari sektor pemasok bahan pangan. Setiap dapur membutuhkan pasokan sayur, telur, ikan, daging, hingga bahan makanan lainnya yang melibatkan banyak tenaga kerja di tingkat desa.
“Setiap dapur bisa menumbuhkan 10 sampai 20 pemasok. Jika target penerima mencapai 82 juta orang, maka kita bisa menciptakan antara 3 hingga 5 juta lapangan kerja. Kita semua tahu, rakyat membutuhkan pekerjaan,” kata Prabowo.
Prabowo menambahkan, hingga saat ini penerima manfaat MBG telah mencapai sekitar 60 juta orang. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 82 juta penerima, mencakup anak-anak dan ibu hamil, paling lambat pada Desember 2026.(nrn/yog)











