Oleh: Agustinus Tedja
Enam Tahun Berlatih, Menghadapi Lawan dari Berbagai Negara, hingga Meraih Juara 3 Kumite Elite Men Under 65 Kg di Singapura
Setiap medali memiliki cerita. Di balik podium dan sorotan kemenangan, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat: latihan, kelelahan, pengorbanan, kegagalan, keterbatasan, hingga berbagai situasi tak terduga.
Kisah itu dialami Mochammad Jirzi Bayanaka Al-Haris, atlet muda Mushikawa Karate Indonesia. Di usia 18 tahun, Jirzi berhasil meraih Juara 3 Kumite Elite Men Under 65 Kg pada IKAK Lion City Championships 2026 tingkat Asia di Singapura.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan kariernya. Namun, keberhasilan itu bukan hasil dari proses singkat. Ada enam tahun latihan, dukungan keluarga, bimbingan pelatih, serta perjuangan menghadapi berbagai tantangan sebelum akhirnya berdiri di podium Asia.
Enam Tahun Menempa Diri
Perjalanan Jirzi sebagai atlet karate dimulai sejak ia masih duduk di kelas X MA Al Umm. Saat ini, ia merupakan santri kelas XII dan telah menekuni karate selama kurang lebih enam tahun.
Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang remaja.
Selama menjalani latihan, Jirzi harus membagi waktu antara pendidikan dan olahraga. Rasa lelah, latihan yang berulang, tekanan pertandingan, serta keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan menjadi bagian dari proses yang harus dijalaninya.
Pengalaman bertanding di berbagai kejuaraan tingkat nasional turut membentuk kemampuan dan mentalnya.
Sejumlah prestasi telah diraih Jirzi, di antaranya Juara 2 Kyokushin Nakamura Open Friendship Cup II tingkat nasional di Jember pada 2023, Juara 3 SLC Cup 2024 Road to Thailand di Surabaya, serta Juara 2 IBKO 1st All Indonesia Open Tournament pada 2026.
Pencapaian di Singapura kemudian menjadi salah satu prestasi penting dalam perjalanan tersebut.
Namun bagi Jirzi, podium bukanlah akhir. Justru menjadi motivasi untuk menghadapi tantangan berikutnya dengan target yang lebih tinggi.
Liburan yang Berubah Menjadi Masa Persiapan
Menjelang pertandingan di Singapura pada 15 Agustus 2026, masa libur sekolah tidak sepenuhnya digunakan Jirzi untuk beristirahat.
Hampir setiap hari diisi dengan latihan.
Pada sejumlah kesempatan, ia berlatih bersama Sensei Agus Yulianto. Di waktu lain, Jirzi menjalani latihan secara mandiri.
Bagi seorang atlet, latihan tidak hanya soal teknik. Fisik, mental, konsistensi, disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri juga menjadi bagian penting dalam persiapan.
Di atas tatami, seorang petarung tidak hanya dituntut mampu menyerang. Ia juga harus mampu membaca situasi, mengendalikan emosi, menghormati lawan, serta mengambil keputusan dalam tekanan.
Persiapan menuju Singapura menjadi bagian dari proses panjang tersebut.
Tantangan di Atas Tatami
Pertandingan di Singapura akhirnya tiba.
Jirzi memasuki arena dengan membawa pengalaman latihan selama bertahun-tahun. Ia harus menghadapi lawan-lawan yang juga datang dengan persiapan terbaik.
Salah satu pertandingan yang paling membekas adalah ketika Jirzi berhadapan dengan atlet dari kalangan tentara Gurkha.
Situasi tersebut menjadi ujian tersendiri bagi mentalnya. Rasa gugup dan tekanan pertandingan harus dikelola agar tidak mengganggu konsentrasi.
Jirzi akhirnya mampu melewati pertandingan dan mengamankan posisi ketiga.
Medali Juara 3 tingkat Asia pun berhasil dibawa pulang.
Namun, perjalanan belum sepenuhnya selesai.
Setelah Pertandingan, Ujian Berlanjut
Tantangan berikutnya justru muncul di luar arena pertandingan.
Kesalahan dalam pemesanan hotel membuat kamar hanya tersedia hingga 14 Agustus 2026, sementara pertandingan berlangsung pada 15 Agustus.
Kondisi tersebut membuat Jirzi dan pelatih harus mencari solusi untuk tempat beristirahat sekaligus mengatur barang-barang dan transportasi.
Dalam kondisi tubuh yang sudah lelah setelah bertanding, mereka masih harus berpindah tempat dan mencari kendaraan.
Mencari taksi maupun kendaraan daring pun tidak selalu mudah. Aturan lalu lintas di lokasi penjemputan membuat kendaraan tidak dapat berhenti sembarangan sehingga mereka harus mencari titik penjemputan yang memungkinkan.
Di negeri orang, dengan kondisi fisik yang lelah dan membawa perlengkapan pertandingan, situasi tersebut menjadi pengalaman tersendiri.
Namun, semuanya tetap dijalani.
Bagi Jirzi dan Sensei Agus, perjalanan tersebut merupakan bagian dari perjuangan yang tidak terlihat ketika seorang atlet berdiri di atas podium.
Beristirahat di Bandara demi Melanjutkan Perjalanan
Perjalanan pulang ke Indonesia juga tidak berlangsung tanpa kendala.
Saat transit di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 22.00 WIB, penerbangan menuju Surabaya dijadwalkan sekitar pukul 06.00 WIB.
Untuk menghindari risiko keterlambatan, Jirzi dan rombongan memilih bertahan di bandara sambil menunggu penerbangan berikutnya.
Mereka beristirahat dan tidur seadanya.
Jadwal penerbangan kemudian mengalami keterlambatan hingga sekitar pukul 08.00 WIB.
Rasa lelah, mengantuk, dan lapar menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dalam kondisi itu, makanan sederhana, termasuk roti gandum, menjadi pilihan untuk mengisi tenaga.
Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi seorang atlet, perjalanan pulang setelah bertanding di luar negeri menjadi bagian dari cerita perjuangan yang jarang terlihat.
Medali yang dibawa pulang bukan hanya hasil dari pertandingan, tetapi juga perjalanan panjang yang penuh disiplin dan ketekunan.
Peran Pelatih di Balik Prestasi
Di balik keberhasilan seorang atlet, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam.
Dalam perjalanan Jirzi, salah satu sosok penting tersebut adalah Sensei Agus Yulianto, pelatih yang membimbing Jirzi dan para atlet Mushikawa Karate Indonesia di tempat latihan di Bandulan.
Pelatih bukan hanya bertugas mengajarkan teknik.
Seorang pelatih juga membangun mental atlet, memberikan motivasi ketika latihan terasa berat, mengingatkan ketika konsentrasi mulai menurun, serta mendampingi atlet ketika menghadapi tekanan pertandingan.
Perjalanan ke Singapura menjadi gambaran hubungan antara pelatih dan atlet.
Ketika Jirzi bertanding di atas tatami, Sensei Agus berada di belakangnya memberikan dukungan dan memastikan seluruh proses pertandingan dapat dijalani dengan baik.
Ketika medali akhirnya diraih, keberhasilan tersebut tidak berdiri sendiri.
Ada peran keluarga, pelatih, perguruan, sekolah, serta orang-orang yang memberikan dukungan sepanjang perjalanan.

Sebuah Penghormatan yang Tidak Direncanakan
Cerita perjalanan Jirzi kemudian berlanjut setelah ia kembali ke Tanah Air.
Pada 17 Agustus 2026, Jirzi bersama Sensei Agus mendapatkan kesempatan menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Balaikota Malang.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak mereka rencanakan sebelumnya.
Bagi Jirzi yang baru berusia 18 tahun, momen tersebut menjadi pengalaman berharga setelah membawa pulang prestasi dari ajang tingkat Asia.
Namun bagi keluarga, khususnya sang ibu, pencapaian tersebut memiliki makna yang lebih dalam.
Perjalanan Jirzi tidak terlepas dari dukungan dan doa keluarga. Sang ibu tetap memberikan dukungan kepada Jirzi setelah kehilangan suami tercinta yang juga merupakan ayah Jirzi.
Karena itu, setiap pencapaian Jirzi tidak hanya menjadi kebanggaan seorang atlet, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga.
Prestasi yang Lahir dari Dukungan Banyak Pihak
Kisah Jirzi bukan hanya tentang seorang anak muda yang memenangkan pertandingan.
Di dalamnya terdapat peran banyak pihak.
Ada seorang anak yang bersedia berlatih.
Ada pelatih yang membimbing.
Ada keluarga yang memberikan dukungan dan doa.
Ada sekolah yang memberikan ruang untuk berkembang.
Ada perguruan yang melakukan pembinaan.
Dan ada masyarakat yang memberikan apresiasi.
Semua unsur tersebut bertemu dalam sebuah proses yang kemudian melahirkan prestasi.
Karena itu, keberhasilan atlet seharusnya tidak hanya dilihat dari medali yang diperoleh. Proses pembentukan karakter juga menjadi bagian penting.
Melalui olahraga, seorang anak belajar disiplin, keberanian, sportivitas, tanggung jawab, kerja keras, serta bagaimana menghadapi kemenangan dan kekalahan.
Medali pada akhirnya menjadi simbol.
Karakter dan pengalaman yang terbentuk selama proses menjadi bagian yang jauh lebih panjang.
Dari Bandulan Menuju Asia
Perjalanan Mushikawa Karate Indonesia menunjukkan bahwa potensi atlet dapat tumbuh dari tempat latihan yang sederhana.
Dari lingkungan Bandulan, Jirzi menjalani latihan selama bertahun-tahun hingga akhirnya mampu bersaing di kejuaraan tingkat Asia.
Tidak banyak orang melihat proses panjang di balik sebuah medali.
Tidak semua orang mengetahui berapa banyak latihan yang harus dijalani, berapa kali seorang atlet mengalami kelelahan, atau bagaimana seorang pelatih terus memberikan motivasi.
Masyarakat biasanya hanya melihat momen ketika medali dikalungkan.
Padahal, untuk mencapai momen tersebut, seorang atlet telah menghabiskan bertahun-tahun untuk berlatih dan mempersiapkan diri.
Prestasi Daerah Membutuhkan Dukungan Berkelanjutan
Kisah Jirzi juga menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak anak muda dengan potensi besar.
Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak atlet yang berhasil meraih medali, tetapi juga berapa banyak talenta yang belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Pembinaan atlet membutuhkan ekosistem yang kuat.
Perguruan, pelatih, sekolah, keluarga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu mengambil peran secara bersama-sama.
Dukungan terhadap atlet seharusnya tidak hanya diberikan ketika mereka sudah menjadi juara.
Dukungan justru sangat dibutuhkan ketika mereka masih berada dalam proses pembinaan.
Ketika mereka masih berlatih di tempat sederhana, belum dikenal masyarakat, dan masih membutuhkan dukungan untuk mengikuti pertandingan, membeli perlengkapan, memperoleh pembinaan, serta mendapatkan kesempatan menguji kemampuan di tingkat yang lebih tinggi.
Dengan dukungan yang konsisten, atlet-atlet muda seperti Jirzi memiliki peluang untuk terus berkembang dan suatu hari dapat membawa nama Indonesia ke panggung kejuaraan yang lebih tinggi.
Sebuah Medali, Sebuah Pesan untuk Generasi Muda
Perjalanan Jirzi memberikan satu pelajaran penting: prestasi tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna.
Terkadang, prestasi justru lahir dari situasi yang penuh keterbatasan.
Ketika harus mencari tempat beristirahat di negeri orang.
Ketika perjalanan tidak berjalan sesuai rencana.
Ketika harus beristirahat di bandara.
Ketika penerbangan mengalami keterlambatan.
Ketika rasa lelah dan lapar datang bersamaan.
Dalam kondisi tersebut, seorang atlet tetap harus mampu menyelesaikan perjalanan.
Itulah mental seorang petarung.
Petarung bukan berarti tidak pernah takut atau lelah. Atlet tetap manusia yang memiliki keterbatasan.
Namun, seorang petarung belajar untuk tetap melangkah meskipun keadaan tidak selalu sesuai dengan rencana.
Meretas Prestasi di Tengah Tantangan Bangsa
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, kisah anak muda seperti Jirzi menjadi pengingat bahwa masih banyak generasi muda Indonesia yang memilih untuk berjuang melalui jalur prestasi.
Mereka berlatih.
Mereka bertanding.
Mereka membawa nama daerah.
Dan pada akhirnya, mereka membawa nama Indonesia ke arena internasional.
Jirzi baru berusia 18 tahun. Juara 3 tingkat Asia mungkin baru menjadi satu langkah dalam perjalanan panjangnya.
Namun, di balik satu medali tersebut terdapat enam tahun latihan, kerja keras seorang atlet, kesabaran seorang pelatih, dukungan keluarga, doa seorang ibu, serta kontribusi banyak pihak.
Karena itu, prestasi tersebut tidak seharusnya berhenti pada ucapan selamat.
Prestasi itu perlu menjadi momentum untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pembinaan atlet muda.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu berbicara tentang masa depan, tetapi juga bangsa yang mau menyiapkan, membina, mendukung, dan menghargai generasi mudanya.
Selamat kepada Mochammad Jirzi Bayanaka Al-Haris atas keberhasilannya meraih Juara 3 Kumite Elite Men Under 65 Kg tingkat Asia pada IKAK Lion City Championships 2026 di Singapura.
Apresiasi juga disampaikan kepada Sensei Agus Yulianto yang terus mendampingi dan membimbing Jirzi serta para atlet Mushikawa Karate Indonesia.
Penghargaan setinggi-tingginya juga layak diberikan kepada keluarga, khususnya sang ibu, yang terus memberikan doa dan dukungan dalam perjalanan prestasi Jirzi.
Terus berlatih.
Terus berjuang.
Tetap rendah hati dalam kemenangan.
Jangan takut menghadapi kekalahan.
Dan jangan berhenti mengejar mimpi.
Dari Bandulan menuju Asia.
Dari latihan menuju podium.
Dari seorang anak muda menuju inspirasi bagi generasi berikutnya.
MUSHIKAWA KARATE INDONESIA
Berproses. Berjuang. Berprestasi.












