Band D’Kross Mundur dari Festival Mbois 11, Bela Mural “Malang The Glory Land”

Personel grup band d'Kross. (ist)

BACATODAY.COM – Polemik penimpaan mural “MALANG THE GLORY LAND” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, mendapat respons dari d’Kross Official. Band yang lekat dengan kultur Arek Malang dan Aremania itu memutuskan mundur dari rangkaian Festival Mbois 11.

Sikap tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap mural yang dianggap bukan sekadar karya visual di ruang publik. Bagi d’Kross, tulisan “MALANG THE GLORY LAND” memuat identitas, sejarah, semangat, dan rasa memiliki masyarakat Malang, terutama Aremania.

“Menanggapi polemik terkait penimpaan mural ‘MALANG THE GLORY LAND’, d’Kross Official menyatakan sikap untuk mengundurkan diri dan tidak tampil dalam rangkaian Festival Mbois 11,” tulis d’Kross Official dalam pernyataannya.

Sebagai band yang lahir dan tumbuh bersama semangat Arek Malang, d’Kross menyebut keputusan itu sebagai bentuk solidaritas kepada Aremania serta seluruh pihak yang memiliki ikatan emosional dengan mural tersebut.

Mereka menegaskan, mundurnya dari Festival Mbois 11 bukan untuk memperkeruh situasi. Langkah itu dipilih sebagai penghormatan terhadap karya, identitas, sejarah, serta ruang publik yang memiliki arti bagi warga Malang.

“Keputusan ini bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kami terhadap kawan-kawan Aremania serta seluruh pihak yang merasa memiliki ikatan dengan ‘MALANG THE GLORY LAND’,” lanjut pernyataan tersebut.

Sebelumnya, mural “MALANG THE GLORY LAND” ditimpa pada Kamis (20/8/2026) siang. Peristiwa itu memicu protes setelah foto dan videonya beredar luas di media sosial. Mural karya Aremania tersebut selama ini telah menjadi bagian dari lanskap kota sekaligus simbol kebanggaan bagi sebagian masyarakat Malang.

Panitia Festival Mbois 11 kemudian menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram resmi festival. Pernyataan itu disampaikan oleh Koordinator Malang Creative Fusion (MCF) sekaligus panitia Festival Mbois 11, Dadik Wahyu Chang.

Panitia mengakui tulisan “MALANG THE GLORY LAND” memiliki cerita, makna, semangat, dan kebanggaan bagi warga Malang maupun Aremania. Mereka juga berkomitmen mengembalikan mural tersebut seperti semula, serta membuka ruang keterlibatan bagi pihak yang ingin ikut dalam proses pengecatan ulang.

Namun, di tengah upaya penyelesaian polemik itu, d’Kross tetap memilih tidak ambil bagian dalam Festival Mbois 11.

Meski demikian, band tersebut menegaskan kecintaannya kepada Kota Malang, Aremania, seni, musik, dan semangat kebersamaan yang telah menyertai perjalanan mereka.

“Kami tetap mencintai Malang, Aremania, seni, musik, dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan d’Kross,” tegasnya. (had/red)