
BACATODAY.COM – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk mengambil peran strategis dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Komitmen itu ditegaskan dalam pelantikan pengurus DPD PERSAGI Jawa Timur periode 2026–2030 yang digelar di Malang.
Ketua DPD PERSAGI Jawa Timur, Prof. Dian Handayani, SKM, MKes, PhD, menyampaikan bahwa amanah kepemimpinan ini bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab moral dan profesional untuk memperkuat peran ahli gizi dalam pembangunan kesehatan nasional. “Amanah ini adalah tanggung jawab besar untuk memastikan Ahli Gizi hadir secara nyata dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Prof. Dian.
Ia menegaskan, di tengah transformasi besar sistem kesehatan nasional, gizi dan kesehatan menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang menekankan pendekatan promotif dan preventif berbasis kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, Ahli Gizi kini tidak lagi sekadar pelaksana teknis, tetapi telah menjadi aktor kunci dalam pencegahan penyakit, peningkatan kualitas hidup, pengendalian faktor risiko, hingga perumusan kebijakan kesehatan.
MBG dan SPPG, Peran Ahli Gizi Sangat Krusial
Prof. Dian menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program strategis nasional yang sangat membutuhkan peran Ahli Gizi, khususnya yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “MBG bukan sekadar distribusi makanan, tetapi intervensi gizi berskala nasional. Tanpa Ahli Gizi, program ini berisiko menjadi administratif semata, bukan upaya promotif-preventif yang efektif,” tegasnya.
Ahli Gizi berperan mulai dari perencanaan menu, pemenuhan standar gizi, keamanan pangan, hingga pemantauan mutu dan dampak program. Namun, mereka juga menghadapi tantangan besar berupa beban kerja tinggi, keterbatasan sumber daya, hingga risiko keselamatan kerja. Karena itu, PERSAGI menilai penting adanya dukungan organisasi, pelatihan berkelanjutan, serta pendampingan agar Ahli Gizi dapat bekerja secara profesional dan aman sesuai standar.
Krisis Tenaga Gizi dan Tantangan Stunting
Selain MBG, persoalan ketersediaan tenaga gizi dan tingginya angka stunting menjadi isu utama. Berdasarkan telaah data BPS Provinsi (2024–2025), Proyeksi Penduduk BPS (2023), dan Dokumen Target Rasio Tenaga Kesehatan Kemenkes (2022), disebutkan bahwa: 84 persen wilayah di Jawa Timur belum memenuhi rasio ideal tenaga gizi, yaitu ≥ 0,35 per 1.000 penduduk. Hanya 16 persen wilayah yang telah mencapai rasio ideal.
Ketimpangan distribusi tenaga gizi, terutama di wilayah padat penduduk, mencerminkan beban layanan yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga. Sebaliknya, wilayah dengan kepadatan rendah tampak lebih ideal secara rasio, meski tetap menghadapi tantangan jarak dan akses layanan.
PERSAGI pun menegaskan komitmennya menjadi mitra strategis pemerintah daerah untuk memastikan kompetensi Ahli Gizi sesuai standar nasional, baik di puskesmas, rumah sakit, maupun layanan komunitas.
Program Unggulan dan Visi PERSAGI Jatim
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, DPD PERSAGI Jawa Timur mengusung visi menjadi organisasi profesi gizi yang unggul dalam meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan praktik berbasis standar nasional.
Salah satu program unggulan adalah percepatan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Profesi, khususnya RPL Dietisien, guna memenuhi kebutuhan tenaga gizi di layanan kesehatan. Selain itu, PERSAGI juga memberikan dukungan bagi Ahli Gizi di SPPG serta mendorong inovasi dan kemitraan strategis.
“Kepemimpinan ini adalah kepemimpinan kolektif dan kolaboratif. Setiap anggota memiliki peran penting,” ujar Prof. Dian yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya Malang.
Dihadiri Tokoh Nasional dan Lintas Profesi
Pelantikan ini turut dihadiri Ketua DPP PERSAGI Ir. Doddy Iswardi, MA, PhD, Sekretaris DPP Furqon, SKM, MKM, serta Kadinkes Provinsi Jawa Timur secara daring. Hadir pula perwakilan organisasi profesi kesehatan seperti HAKLI, IKATEMI, IBI, PORMIKI, para Ketua DPC se-Jawa Timur, ILMAGI, IKAMAGI, himpunan seminat (AsDi, AsNI, IsNA), serta akademisi dan praktisi kesehatan.
Dengan kolaborasi, profesionalisme, dan integritas, PERSAGI Jawa Timur optimistis dapat menjadi motor penggerak penguatan gizi nasional demi terwujudnya Indonesia Emas 2045. (yon/yog)











