BACATODAY.COM – Musim gugur di Kanada tahun ini bergema dengan suara air dan bambu dari Nusantara. Seniman suara dan aktivis ekologi asal Indonesia, Rani Jambak, tengah menjalani tur bertajuk “Kincia Aia: A Living Heritage” di enam kota Kanada, menghadirkan kritik ekologis lewat musik eksperimental berbasis warisan budaya Minangkabau.
Rani, komposer asal Medan berdarah Minangkabau ini, mengubah kincir air tradisional yang dahulu digunakan untuk mengairi sawah menjadi instrumen sonik interaktif. Karya inovatif tersebut bukan sekadar eksplorasi artistik, tapi juga pesan lingkungan yang kuat.
“Air adalah kunci bagi Minangkabau; ia pengarsip memori. Kini sungai-sungai kita kering dan dipenuhi mikroplastik. Kincia Aia adalah suara peringatan,” ujar Rani dalam sesi diskusi di Kanada.
Melalui instrumen yang dilengkapi sensor suara elektronik, Rani memadukan bunyi alami aliran air dengan lanskap suara digital. Ia menyebut karyanya sebagai bentuk “futurisasi kearifan lokal”, upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam yang kini kian rapuh akibat krisis iklim.
Dari Guelph ke Toronto: Musik sebagai Ruang Perlawanan
Tur Rani dibuka di Guelph Jazz Festival pada pertengahan September 2025, menampilkan pertunjukan tunggal Kincia Aia serta diskusi Wet Sounds Series bersama Musagetes Foundation. Ia juga berkolaborasi dengan duo perkusi elektronik Turning Jewels into Water dalam pertunjukan lintas budaya.
Selanjutnya, Rani tampil di SOUNDplay Festival Toronto yang berfokus pada isu perubahan iklim dan air. Musiknya disebut para pengamat sebagai “jembatan sonik antara tradisi dan teknologi”, menegaskan bahwa seni dapat menjadi ruang perlawanan terhadap krisis ekologi.
Dosen Tamu dan Kolaborator Global
Di sela tur, Rani juga diundang menjadi dosen tamu di OCAD University, Toronto, bersama seniman video asal Haiti, Esery Mondesir. Keduanya membahas seni sebagai alat kritik terhadap amnesia sejarah dan ekologis.
“Suara seperti Rani penting didengar oleh dunia. Ia menyatukan memori budaya dengan kesadaran lingkungan,” ujar Mondesir.
Tur kemudian berlanjut ke Montreal, Ottawa, dan Hamilton, di mana Rani tampil di sejumlah festival, termasuk Pop Montreal dan Strangewave Fest. Di panggung terakhirnya, ia berkolaborasi dengan aktivis pribumi Kanada, Cody Lookinghorse, dalam dialog musikal bertema tanah dan air.
Kembali ke Tanah Air, Hadir di Biennale Jogja
Usai tur, Rani kembali ke Indonesia untuk melanjutkan studi doktoralnya di UGM Yogyakarta. Ia kini tengah menyiapkan instalasi interaktif Kincia Aia untuk ditampilkan di Babak II Biennale Jogja 18: Kawruh Lelaku pada 5 Oktober–20 November 2025 di Desa Panggungharjo, Bantul.
Karya tersebut menjadi simbol kesinambungan antara pengetahuan lokal dan kesadaran ekologis global. Rani menegaskan bahwa warisan budaya Minangkabau bukan sekadar masa lalu, tetapi sumber inspirasi bagi masa depan yang berkelanjutan.
“Saya tidak hanya merekam masa lalu. Saya ingin bertanya: nenek moyang seperti apa yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang?” katanya. (yog/red)












