
BACATODAY.COM – Mantan Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri menjalani masa pensiunnya dengan cara yang jauh dari kesan mewah. Alih-alih menikmati fasilitas setelah tidak lagi menjabat, ia memilih mencari nafkah dengan berdagang beras di Pasar Glodok, Jakarta, sebuah aktivitas yang sempat luput dari perhatian publik.
Dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023) disebutkan bahwa pada era 1980-an, Saifuddin rutin berjualan beras. Setiap pagi setelah melaksanakan salat Dhuha, ia mengemudikan mobilnya sendiri untuk mengantarkan dagangan ke pasar dan menjalankan usahanya hampir setiap hari.
Menariknya, kegiatan tersebut sempat tidak diketahui oleh keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin selalu pulang membawa penghasilan, hingga akhirnya salah satu putranya tanpa sengaja melihat langsung sang ayah sedang berjualan di Pasar Glodok.
Dunia perdagangan sebenarnya bukan hal baru bagi Saifuddin. Dalam autobiografinya Berangkat dari Pesantren (1984), ia mengisahkan bahwa pada 1942, ketika anak pertamanya lahir, ia pernah berdagang berbagai barang demi mencukupi kebutuhan keluarga. Barang yang dijual pun beragam, mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga, hingga rokok.
Sikap hidup sederhana itu telah ia tunjukkan sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama. Saifuddin memandang jabatan sebagai amanah yang tidak boleh dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau menikmati berbagai keistimewaan.
Prinsip tersebut tercermin saat ia menolak menempati rumah dinas menteri. Meski memiliki hak atas fasilitas itu, Saifuddin memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di kawasan Kebayoran Baru. Bahkan ketika didorong untuk memanfaatkan rumah dinas, ia tetap bersikeras menolak karena tidak ingin bersikap berlebihan.
Sebagai gantinya, ia memilih membeli rumah sendiri dengan sistem cicilan di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru. Setelah seluruh cicilan lunas, rumah tersebut kemudian dihibahkan untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat.
Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari 1986 setelah menjalani perawatan akibat sakit. Semangat pengabdiannya seolah diteruskan oleh putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, yang kemudian dipercaya menjabat sebagai Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. (nrn/yog)











