Resensi Novel
Oleh: Pietra Widiadi
Satu lagi buku baru karya Yanni Surya, yang mengusung aktor kontroversial yang lahir 900 abad yang lalu, yaitu Angrok. Judul novelnya Angkrok Cakra Samkya. Novel ini dibabar di Pendopo Kembangkopi, (30/5/2026) yang lalu, menjelang Waisyak di mana Purnama bersinar terang. Hadir komunitas budaya dan termasuk komunitas Jawikawi yang melestrarikan tradisi Jawi.
Ceritanya
Di tanah Jawa yang mulai kehilangan susila dan arah moralnya, lahirlah seorang anak di tengah pertanda gaib dan ramalan kekuasaan. Dibuang ke kuburan oleh ibunya sendiri, ia justru tumbuh di bawah asuhan seorang pencuri bernama Lembong, mengenal dunia dari sisi paling gelap kehidupan rakyat kecil: perjudian, perampokan, pelacuran, dan kerasnya jalanan. Dari situ Angrok belajar bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari ajaran para-Brahmana atau penguasa, sebab dunia seringkali berjalan menurut kekuasaan, tipu daya, dan siapa yang mampu bertahan hidup di tengah ketidakadilan.
Ketika beranjak dewasa, Angrok menjalani hidup sebagai pengembara yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bersentuhan langsung dengan wajah keras kehidupan rakyat bawah. Ia bertemu Bangau Samparan, seorang penjudi bangkrut, belajar sastra dari Tita si anak gembala, menghadapi berbagai kekuatan gaib di Alas Patangtangan, hingga menyaksikan penderitaan masyarakat di bawah bayang-bayang kekuasaan Tumapel yang menindas. Di telapak tangannya terdapat tanda misterius yaitu cakra di tangan kanan dan samkya di tangan kiri yang membuat banyak orang percaya bahwa nasib hidupnya telah digariskan untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi rakyat biasa.
Sementara itu, Tumapel tampak makmur di permukaan, tetapi di dalamnya menyimpan keretakan sosial dan moral yang semakin dalam. Di bawah kekuasaan Tunggul Ametung, hukum menjadi tajam kepada rakyat kecil namun tumpul terhadap para penguasa, sehingga kekuasaan berjalan lebih berdasarkan kehendak daripada keadilan. Puncaknya terjadi ketika Ken Dedes, putri seorang brahmana terhormat, diambil secara paksa tanpa restu keluarganya, sebuah peristiwa yang menjadi simbol rusaknya tatanan susila sekaligus menandai mulai runtuhnya legitimasi kekuasaan Tumapel dari dalam dirinya sendiri.
Pertemuan Angrok dengan Empu Lohgawe, seorang dang hyang dari Jambudwipa, menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Lohgawe melihat sesuatu yang tidak mampu dibaca orang lain: seorang begundal yang memahami retakan zaman dan melihat rapuhnya kekuasaan dari dalam. Di bawah bimbingannya, Angrok mulai membangun pengaruh secara diam-diam, membaca kelemahan para pejabat, memengaruhi prajurit, dan menyadari bahwa sebuah kerajaan tidak hanya ditegakkan oleh pedang, tetapi juga oleh kepercayaan rakyat; sementara ketika keris kutukan buatan Mpu Gandring jatuh ke tangannya, perubahan besar mulai menemukan jalannya sendiri.
Namun setiap perubahan selalu menuntut harga yang mahal. Untuk meruntuhkan dunia yang busuk, Angrok harus masuk ke wilayah abu-abu antara dharma dan ambisi, antara wahyu dan manipulasi, serta antara pembebasan dan pengkhianatan, karena kekuasaan tidak pernah lahir dari jalan yang sepenuhnya suci. Berangkat dari kisah Pararaton yang dipadukan dengan mistisisme, filsafat Jawa kuno, dan intrik politik yang gelap, ANGROK: Cakra Samkhya menghadirkan kisah tentang lahirnya seorang pendiri kerajaan dari luka sosial dan kerusakan moral zamannya, sekaligus menunjukkan bahwa sejarah besar seringkali justru dimulai oleh mereka yang paling dipandang hina oleh dunia tempat mereka hidup.
*) Penulis : Pietra Widiadi seorang sosiolog, Alumnus Universitas Airlangga, pegiat lingkungan, dan pendiri Yayasan DIAL dan Community Learning Pendopo Kembangkopi.
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis












