Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, TK Siti Maryam Depok Cetak Generasi Pecinta Alam Lewat Aksi Nyata

Berfoto bersama dalam kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) 2026 di TK Siti Maryam Depok pada Jumat (5/6/2026). (Dok TK Siti Maryam)

BACATODAY.COM – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) 2026 di TK Siti Maryam Depok, Jumat (5/6/2026), menjadi momentum untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini. Kegiatan ini mengusung semangat tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” serta tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”.

Acara dikemas secara interaktif dengan memadukan peringatan hari lingkungan hidup dan agenda Trial Class bagi calon siswa baru. Melalui kegiatan ini, para peserta dapat merasakan langsung suasana pembelajaran berbasis alam yang menjadi ciri khas TK Siti Maryam.

Sejak pagi, suasana sekolah tampak semarak. Lebih dari 30 anak yang terdiri dari siswa aktif dan peserta Trial Class hadir membawa berbagai jenis bibit tanaman pilihan dari rumah. Bibit tersebut beragam, mulai dari sayuran hijau hingga tanaman obat keluarga (TOGA) yang kemudian ditanam di area hijau sekolah.

Kegiatan diawali dengan menanam bibit bersama di kebun edukasi sekolah. Tidak sekadar seremonial, tanaman yang ditanam akan menjadi “sahabat” baru bagi para siswa. Mereka diajak bertanggung jawab untuk menyiram, merawat, dan mengamati pertumbuhan tanaman setiap hari hingga berkembang dengan baik.

Setelah berkegiatan di kebun, anak-anak melanjutkan eksplorasi ke area kolam dan peternakan terpadu sekolah. Mereka bergantian memberi makan ikan lele dan koi, burung merpati, serta kambing yang dipelihara di lingkungan sekolah.

Sebagai puncak acara, seluruh siswa bergotong royong memandikan kambing peliharaan sekolah. Aktivitas ini tidak hanya melatih kemampuan motorik dan sensorik anak, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, serta kasih sayang terhadap makhluk hidup.

Peringatan HLHS 2026 ini menjadi cerminan kurikulum harian TK Siti Maryam yang konsisten mengedepankan pendidikan ramah lingkungan. Sejak dini, siswa dibiasakan memilah sampah organik dan nonorganik secara mandiri. Mereka juga diajak mengolah limbah plastik menjadi ecobrick yang bernilai guna sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian bumi.

Selain itu, sekolah menerapkan sistem pertanian terpadu yang telah menjadi program unggulan. TK Siti Maryam membudidayakan maggot Black Soldier Fly untuk mengurai sampah organik sekolah. Hasil penguraiannya dimanfaatkan sebagai pupuk kompos bagi kebun sayur, sementara maggot yang kaya protein digunakan sebagai pakan alami unggas dan ikan lele. Hasil panen lele kemudian diolah bersama dalam kegiatan cooking class yang selalu dinantikan siswa.

Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar anak-anak dapat mengeksplorasi lingkungan melalui metode deep learning. Pendekatan tersebut mendorong siswa menggunakan nalar logis dan kemampuan berpikir kritis untuk memahami ekosistem di sekitarnya.

“Melalui penyelarasan tema global dan nasional tentang aksi iklim, kami ingin anak-anak memahami sejak dini bahwa tindakan kecil mereka memiliki dampak besar. Merawat tanaman dan menyayangi hewan adalah bentuk kontribusi nyata sekaligus investasi penting bagi masa depan bumi,” ujarnya.

Menurut H. Sigit, anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan alam, mulai dari menyentuh tanah, memberi makan hewan, hingga melihat secara nyata bagaimana ekosistem bekerja saling mendukung.

Dampak positif pendidikan berbasis alam tersebut juga dirasakan para orang tua. Luki Arifiani, ibunda Nurma, siswa TK B, mengaku bangga melihat perubahan perilaku putrinya sejak bersekolah di TK Siti Maryam.

“Nurma sekarang senang merawat dan menyiram tanaman di rumah. Bahkan, dia sering mengingatkan keluarga untuk memilah sampah organik dan nonorganik,” ungkapnya.

Melalui perpaduan antara pembelajaran teori, praktik langsung, dan pembiasaan karakter, TK Siti Maryam membuktikan bahwa anak-anak usia dini bukan sekadar penonton di tengah krisis iklim global. Mereka adalah generasi masa depan yang mulai belajar menjaga bumi melalui aksi nyata sejak sekarang. (had)