Meriahkan Hari Anak Nasional, TK Siti Maryam Kenalkan Akar Budaya Keluarga kepada Siswa Sejak Dini

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di TK Siti Maryam, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat. (ist)

BACATODAY.COM – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di TK Siti Maryam, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, berlangsung meriah dan penuh makna. Puluhan siswa tampil mengenakan beragam pakaian adat Nusantara sambil mengenal asal-usul budaya keluarga masing-masing, Kamis (23/7).

Kegiatan ini menjadi cara sekolah menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak usia dini, sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.”

Di tengah derasnya pengaruh budaya populer global, TK Siti Maryam mengajak anak-anak memahami identitas budaya mereka melalui keterlibatan langsung orang tua. Beberapa hari sebelum acara, para siswa diberi tugas mencari informasi mengenai suku, daerah asal, hingga budaya keluarga dari kedua orang tuanya.

Keberagaman latar belakang keluarga siswa pun terlihat jelas. Orang tua mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sidoarjo, Makassar, Tuban, Betawi, Solok, Gresik, Ngawi, Jepara, Depok, Tegal, Yogyakarta, Serang, Surabaya, hingga wilayah Sunda.

Tak hanya mengenalkan daerah asal, para orang tua juga mengajarkan sapaan sederhana dalam bahasa daerah, seperti ucapan selamat pagi, permisi, dan terima kasih.

Kelas Berubah Menjadi Pameran Budaya

Pada hari pelaksanaan, ruang kelas disulap menjadi pameran budaya interaktif. Setiap siswa membawa benda yang mencerminkan daerah asal keluarganya, mulai dari anyaman Jepara, topeng ondel-ondel, keranjang tradisional, hingga permainan seperti congklak, kelereng, dan ketapel.

Sebagian siswa juga membawa foto Monumen Nasional (Monas), Abang None Jakarta, pakaian adat, kliping informasi daerah, hingga album foto keluarga yang mengenakan busana tradisional.

Secara bergantian, mereka mempresentasikan benda yang dibawa sekaligus menceritakan pengetahuan baru yang diperoleh dari orang tua.

Wali Kelas TK A, Ratna Hidayati, mengatakan metode pembelajaran tersebut dirancang agar anak lebih mudah memahami keberagaman budaya melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pembelajaran terbaik dimulai dari rumah. Ketika anak-anak menceritakan suku atau daerah asal orang tuanya di depan teman-temannya, mereka belajar menghargai perbedaan sejak usia dini,” ujarnya.

Orang Tua Antusias Terlibat

Program tersebut mendapat sambutan positif dari para orang tua. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenalkan sejarah keluarga sekaligus mempererat komunikasi dengan anak.

Salah satu wali murid, Candra Satriavi Putri atau Mama Asta, mengaku kegiatan tersebut membuat putrinya semakin tertarik mengenal budaya keluarga yang berasal dari daerah berbeda.

“Alhamdulillah Asta jadi mau lebih mengenal tentang kota kelahiran saya dan suami,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ayu Wulan atau Mama Elrumi. Ia mengenalkan perbedaan logat bahasa Jawa dari Yogyakarta dan Tegal, sekaligus memperkenalkan fungsi kain tradisional Yogyakarta kepada anaknya.

“Elrumi sangat antusias belajar bahasa Jawa dengan logat yang berbeda. Dia juga jadi tahu fungsi kain khas Yogyakarta, mulai untuk menggendong bayi hingga digunakan bakul jamu,” tuturnya.

Belajar Mencintai Alam

Selain mengenalkan budaya, sekolah juga tetap menjalankan kegiatan rutin yang bertujuan membentuk karakter peduli lingkungan. Para siswa diajak memberi makan burung merpati, kambing, ikan, serta menyiram tanaman di lingkungan sekolah.

Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional masih berlanjut dengan tugas membawa makanan tradisional dari daerah asal orang tua atau fotonya, kemudian menceritakan asal-usul kuliner tersebut di depan kelas.

Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, SE., menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga identitas budaya mereka agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Orang tua harus melindungi anak agar tidak tercerabut dari akarnya di era modern. Pendidikan anak merupakan kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Dari akar yang kuat itulah anak akan membangun masa depannya,” tegasnya.

Melalui pengenalan budaya keluarga, kepedulian terhadap lingkungan, serta kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua, TK Siti Maryam menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dibangun sejak usia dini dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh makna. (hum/had)