
BACATODAY.COM – Bank Sampah Malang (BSM) mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah di tingkat lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengembangkan kegiatan bersama nasabah sebagai sarana edukasi sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan sampah.
Sabtu (26/9), nasabah BSM bersama para nasabah menggelar kegiatan “Nglencer Bareng” di Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur dan Pantai Bajulmati, Kecamatan Gedangan. Di kegiatan yang juga disupport DLH Kota Malang dan Pertamina ini juga disisipi kegiatan pelepasan tukik di pantai.
“Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda awal yang diharapkan dapat dilakukan secara rutin sebagai bentuk apresiasi sekaligus edukasi bagi masyarakat yang selama ini aktif menghimpun sampah,” kata Pembina BSM Malang, Wasto.
Dia memaparkan, para nasabah BSM selama ini menghimpun sampah dari lingkungan masing-masing, baik di tingkat RT maupun RW. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah dan ditransaksikan melalui unit-unit bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi dan dicatat sebagai tabungan nasabah.
“Harapannya masyarakat belajar menabung dari sampah. Menjelang Lebaran, sebagian nasabah bisa memiliki tabungan dari hasil sampah yang mereka kumpulkan. Dalam satu unit bank sampah, terdapat sekitar 20 nasabah,” terangnya.

Penghimpunan sampah dilakukan di tingkat RT atau RW, dengan pengumpulan yang umumnya berlangsung sebulan sekali. Namun, apabila volume sampah meningkat, pengangkutan dapat dilakukan lebih sering, bahkan berpotensi dua minggu sekali.
“Nilai transaksi dalam satu unit bermacam-macam. Nasabah sendiri bisa mengantongi uang dari hasil sampah yang masuk sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta,” lanjut pria yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang itu.
Dia mengungkapkan, pengembangan bank sampah tidak semata-mata diarahkan pada keuntungan ekonomi. BSM juga menempatkan edukasi lingkungan sebagai bagian penting dari kegiatan, terutama untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Keterbatasan kapasitas TPA menjadi salah satu alasan penting mengapa pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga perlu diperkuat. Masyarakat didorong agar tidak hanya membuang sampah, tetapi mulai memilah dan menjadikannya memiliki nilai ekonomi,” tegasnya.
Program tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk melalui fasilitas dan pendekatan kemitraan dengan masyarakat serta pembeli bahan baku sampah.
“Orientasi BSM bukan semata-mata profit, tetapi bagaimana edukasi bisa tumbuh dan mengurangi tingkat sampah,” ujar mantan Sekda Kota Malang itu.
Karena itu, kegiatan healing bersama para nasabah tersebut disebut sebagai awal dari agenda rutin yang akan dikembangkan BSM.
Di sisi lain, Wasto mengungkapkan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Keterlibatan komunitas menjadi penting karena pemerintah memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh lingkungan masyarakat.
Karena itu, keberadaan bank sampah dipandang sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat dalam membantu pemerintah menangani persoalan lingkungan.
“Pemerintah memiliki keterbatasan. Karena itu komunitas masyarakat juga harus bergerak. Sepanjang ada intervensi dan dukungan pemerintah, gerakan masyarakat bisa semakin kuat,” ungkapnya.
Pengembangan BSM ke depan juga diarahkan pada perluasan kemitraan, termasuk mencari dukungan CSR dari berbagai pihak. Transaksi sampah tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Masyarakat juga didorong untuk memastikan sampah yang memiliki nilai ekonomi disalurkan melalui bank sampah, bukan semata-mata dijual kepada lapak yang tidak terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat gerakan lingkungan di tingkat masyarakat.
“Bahkan, keberadaan dan aktivitas bank sampah dapat menjadi salah satu indikator pendukung dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, termasuk dalam konteks penilaian Adipura,” tutup Wasto. (mrg)











