
BACATODAY.COM – Indonesia dikenal sebagai rumah bagi 114 jenis hiu dari total 500 spesies yang ada di dunia. Namun di balik kekayaan lautnya, negeri ini juga menyandang predikat ironis: negara penangkap hiu terbesar di dunia, dengan tangkapan mencapai 110 ribu ton per tahun. Kondisi ini menempatkan banyak spesies hiu di ambang kepunahan.
Krisis konservasi itulah yang menggerakkan Oka Bayu Pratama, pemuda asal Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi. Bersama timnya di organisasi kepemudaan Garda Lestari, Oka menciptakan SeeShark, aplikasi berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang mampu mengidentifikasi spesies hiu secara cepat dan akurat, bahkan hanya dari potongan tubuhnya.
Krisis Identifikasi: Masalah Utama di Pelabuhan
Gagasan SeeShark berawal dari pengamatan Oka di pelabuhan pendaratan ikan seperti Muncar (Banyuwangi), Lamongan, dan Lombok Timur. Di sana, ia menyaksikan petugas enumerator kesulitan mengidentifikasi spesies hiu karena sebagian besar sudah dalam kondisi terpotong, hanya menyisakan kulit atau sirip.
“Bagaimana kita bisa melindungi spesies kalau kita bahkan tidak tahu spesies apa yang sedang didaratkan?” tutur Oka, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Airlangga. “Krisis identifikasi ini membuat seluruh kebijakan konservasi menjadi lemah.”
Situasi di lapangan ini mendorong Oka memanfaatkan kemampuannya di bidang AI, IoT, dan web development untuk membangun sistem cerdas yang bisa menutup “titik buta identifikasi” di pelabuhan.
Dari Kolam Lele ke Inovasi AI
Menariknya, pengembangan SeeShark tidak didukung pendanaan besar. Oka membiayai riset dan pengumpulan data sendiri dari hasil usaha budidaya lele yang ia kelola di kampung halamannya.
“Saya gunakan keuntungan dari usaha lele untuk biaya survei ke pelabuhan, pengumpulan data, dan pelatihan model AI,” ungkapnya.
Hasil perjuangan itu kini berbuah nyata. SeeShark telah dibangun menggunakan 9.600 data foto dari 10 spesies hiu paling rentan, dengan akurasi identifikasi mencapai 95,3% hanya dalam hitungan detik. Aplikasi ini juga menampilkan status konservasi IUCN dan perlindungan CITES, memberi peringatan instan bagi petugas jika spesies yang didaratkan tergolong dilindungi.
Saat ini, SeeShark telah diuji coba di tiga pelabuhan utama dan berhasil mencatat lebih dari 1.000 gambar hiu di lapangan. Inovasi ini juga telah mendapatkan dua hak cipta dan satu permohonan paten, serta validasi teknis dari BRIN.
Kelestarian Dimulai dari Kesejahteraan
Di bawah naungan Garda Lestari, Oka dan tim mengusung filosofi “Kelestarian Sejati Dimulai dari Kesejahteraan.”
Ketua Garda Lestari, Andri Saputra, menegaskan bahwa inovasi seperti SeeShark bukan hanya alat konservasi, tapi juga sarana pemberdayaan masyarakat.
“Dengan data akurat, pengelolaan sumber daya laut bisa lebih adil dan berkelanjutan,” ujar Andri.
“Kami ingin teknologi menjadi jembatan antara kesejahteraan nelayan dan kelestarian ekosistem.”
Selain di sektor maritim, Garda Lestari juga aktif mengembangkan ekonomi hijau kehutanan, seperti proyek “Kampung Aren (Si Macan)” di Banyuwangi yang mengembangkan hilirisasi nira aren untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
Dari Banyuwangi ke Panggung Nasional
Perjuangan Oka Bayu Pratama kini berbuah pengakuan nasional. Inovasi SeeShark berhasil menjadi salah satu dari 10 Finalis Nasional SATU Indonesia Awards 2025 kategori Teknologi Tepat Guna, setelah menyisihkan lebih dari 17 ribu peserta dari seluruh Indonesia.
“Saya tidak menyangka usaha kecil dari Banyuwangi bisa sampai sejauh ini. Tapi ini bukti bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, bahkan dari kolam lele,” ujar Oka. (had/red)











