UMM Kirim 3.010 Mahasiswa ke Seluruh Nusantara: Misi Besar Ketahanan Pangan Dimulai

Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, bersama perwakilan ATRBPN dan BPS saat menekan tombol tanda dilepasnya 3 ribu lebih mahasiswa untuk mengikuti KKN. (Rohim Alfarizi)

BACATODAY.COM — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melepas ribuan mahasiswanya dalam program KKN Berdampak dengan misi yang jauh melampaui sekadar pengabdian masyarakat. Tahun ini, sebanyak 3.010 mahasiswa diberangkatkan ke 12 provinsi dan 53 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, mengusung tema krusial: Ketahanan Pangan.

Dalam pelepasan resmi yang digelar Senin pagi, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si, menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen transformasi sosial, bukan sekadar pelaksana program tahunan.

“Mahasiswa harus hadir sebagai pabrik solusi, bukan pencipta masalah baru. Mereka akan menyelami berbagai persoalan nyata—dari hulu ke hilir—dan menghadirkan jawaban berbasis ilmu,” tegasnya.

Meski disebar dari Sabang sampai Merauke, mahasiswa sejatinya akan kembali ke wilayah asalnya masing-masing untuk menyelesaikan program selama satu bulan. Fokus utamanya adalah memperkuat ketahanan pangan lokal, selaras dengan agenda prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pendidikan Bertemu Realita: Bukan KKN Biasa

Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, M.P., menjelaskan bahwa tahun ini UMM tidak hanya mengedepankan kegiatan simbolik, tapi juga pendekatan interdisipliner. Setiap mahasiswa dibekali bibit tanaman sayur dan buah dalam sistem multikultur, yang harus ditanam di lokasi penugasan.

UMM juga menggandeng mitra strategis seperti ATRBPN dan BPS agar mahasiswa mampu membaca langsung dinamika kebijakan, persoalan data, serta sengkarut tata ruang yang kerap menghambat ketahanan pangan di akar rumput.

“Mereka harus bisa melihat bagaimana persoalan pertanahan atau data yang lemah bisa membuat program bantuan pangan salah sasaran,” ujar Sutawi.

Mahasiswa Teknologi Pangan 2023, Egita Dilafebrianti, yang akan melaksanakan KKN di Pasuruan, menyambut tema ini dengan semangat. Ia menilai relevansi ketahanan pangan sangat tepat, terutama dalam konteks dorongan pemerintah untuk kemandirian pangan desa.

“Kami sudah menyiapkan workshop keamanan pangan, pendampingan UMKM, hingga edukasi gizi balita lewat Posyandu. Tapi kami tahu, tantangannya tak mudah,” ujarnya.

Simbol dan Harapan: Dari Merpati hingga Multikultur

Acara pelepasan mahasiswa ditandai dengan penekanan tombol bersama, pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan pelestarian bumi, hingga pembagian bibit tanaman sayur dan buah.

Ribuan tanaman itu akan dibawa mahasiswa ke berbagai desa, bukan hanya untuk ditanam, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat agar menciptakan sistem pangan mandiri yang berkelanjutan.

KKN Sebagai Eksperimen Sosial

Lebih dari sekadar rutinitas akademik, KKN UMM tahun ini menjadi bagian dari eksperimen sosial besar—uji sejauh mana perguruan tinggi mampu mempertemukan teori dengan realitas, serta menghadirkan mahasiswa sebagai aktor perubahan nyata di tengah masyarakat.

“Tantangan hari ini bukan sekadar turun ke desa, tapi bagaimana membawa ilmu untuk menyelesaikan masalah riil,” pungkas Prof. Nazaruddin. (him/rmp)