BACATODAY.COM – Perkembangan teknologi yang semakin cepat, terutama kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Kondisi tersebut juga berlaku bagi sivitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang perlu memperkuat kompetensi, kreativitas, serta kemampuan menghadapi perubahan teknologi.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, menyampaikan hal tersebut saat memberikan pembinaan kepada pegawai Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.
Kegiatan pembinaan tersebut digelar secara hybrid dengan menggabungkan pertemuan tatap muka dan daring. Peserta yang hadir langsung mengikuti kegiatan di Ruang Sidang Gedung O. Djauharuddin AR Lantai II UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sejumlah pimpinan universitas turut hadir, mulai dari rektor, wakil rektor, dekan, ketua lembaga, kepala bagian hingga ketua tim kerja. Sementara peserta yang mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting berasal dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan, termasuk wakil dekan serta pimpinan program studi dan jurusan.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Ali Ramdhani yang akrab disapa Kaban Dhani membawakan materi bertajuk “Dilema Penggunaan Generative AI pada Perguruan Tinggi”. Ia membahas berbagai peluang sekaligus persoalan yang muncul seiring semakin luasnya penggunaan AI dalam lingkungan akademik.
Menurut Kaban Dhani, AI telah membawa perubahan besar terhadap berbagai aktivitas manusia. Teknologi tersebut kini ikut memengaruhi pola kerja, proses pembelajaran, pengelolaan organisasi hingga pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pihak yang mengikuti perkembangan teknologi. Institusi pendidikan juga harus mampu memanfaatkan AI sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai lebih.
Ia menilai persoalan utama di masa depan bukan hanya mengenai kemungkinan AI menggantikan pekerjaan manusia. Tantangan yang lebih besar adalah munculnya kesenjangan antara orang yang mampu menggunakan teknologi tersebut dengan mereka yang tidak mampu beradaptasi.
“Anda tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI, tetapi Anda akan kehilangan pekerjaan karena orang yang menggunakan AI,” kata Kaban Dhani, mengutip pernyataan populer Jensen Huang mengenai perkembangan teknologi.
Menurutnya, peningkatan kemampuan dosen dan tenaga kependidikan menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi transformasi AI. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menggali ide, membandingkan berbagai alternatif, menganalisis kemungkinan, menggabungkan pengetahuan dari berbagai bidang hingga mempercepat pekerjaan administratif.
Dalam bidang pendidikan, AI juga dapat membantu dosen menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan mahasiswa serta menyusun kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Sementara bagi mahasiswa, AI dapat dimanfaatkan untuk menemukan referensi dan menjadi pendamping dalam proses belajar.
Meski menawarkan banyak manfaat, penggunaan AI tetap harus berada dalam kendali manusia. Prinsip Human-in-the-loop dinilai penting agar setiap keputusan yang memiliki dampak signifikan tetap melibatkan manusia.
Pengguna AI harus memastikan tujuan pemanfaatannya jelas dan sah, menjaga keamanan data ketika memberikan perintah atau prompt, memeriksa kembali fakta serta logika yang dihasilkan, dan tidak menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada sistem.
“AI membantu manusia yang bernilai,” tegasnya.
Waspadai Risiko Penggunaan AI
Kaban Dhani juga mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diperhatikan sivitas akademika ketika menggunakan AI. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap teknologi yang dapat membuat seseorang terbiasa mendapatkan jawaban secara instan tanpa melalui proses berpikir dan analisis yang mendalam.
Risiko lainnya berkaitan dengan integritas akademik. Penggunaan AI secara tidak tepat dapat menghasilkan informasi keliru atau halusinasi, bias, referensi yang tidak benar, plagiarisme hingga fabrikasi informasi.
Selain itu, persoalan keamanan data juga menjadi perhatian. Informasi pribadi maupun data internal lembaga berpotensi bocor apabila dimasukkan ke dalam aplikasi AI yang tidak memiliki otorisasi atau standar keamanan yang sesuai.
Nilai kemanusiaan juga tidak boleh diabaikan. Menurut Kaban Dhani, empati, tanggung jawab, serta pertimbangan manusia harus tetap menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan keputusan.
Ia meminta seluruh pegawai dan dosen melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh dari AI. Setiap data juga harus diklasifikasikan dengan cermat, khususnya informasi yang bersifat internal dan rahasia.
“Jangan pernah memasukkan data yang sifatnya sensitif ke dalam aplikasi secara sembarangan,” pesannya.
Ia mencontohkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), nilai mahasiswa, serta data kesehatan sebagai informasi sensitif yang tidak boleh dimasukkan ke platform AI yang belum mendapatkan persetujuan atau otorisasi khusus.
Menurutnya, kemajuan digital harus berjalan seiring dengan kemampuan berpikir kritis. Hasil yang diberikan AI tidak seharusnya langsung dianggap sebagai kebenaran akhir. Pengguna tetap perlu memeriksa fakta, alur logika, aspek hak cipta, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan akademik.
“Masalahnya bukan penggunaan AI tetapi siapa yang memegang kendali. AI mempercepat pekerjaan. Namun juga dapat mempercepat kesalahan, bias, kebocoran data dan kemunduran cara berpikir,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan AI harus memiliki pedoman yang berorientasi pada martabat manusia, integritas ilmiah, keadilan dan keberlanjutan.
Adaptasi Menjadi Keharusan
Kaban Dhani menyebut AI sebagai bagian dari perubahan yang tidak mungkin dihindari. Tantangan terbesar bukan sekadar mengenai kecanggihan teknologinya, melainkan bagaimana manusia mampu mengelola dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini menghadapi tuntutan untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar institusi pendidikan tetap relevan dan tidak tertinggal.
Ia mengibaratkan perubahan sebagai proses yang harus dihadapi, bukan dihindari. Mengutip pemikiran Charles Darwin, Kaban Dhani menyampaikan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan keberlangsungan hidup.
Ia juga mengutip pandangan Albert Einstein mengenai pentingnya kemampuan seseorang untuk berubah. Menurutnya, perkembangan manusia justru terjadi ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman dan menghadapi berbagai dinamika.
Dalam konteks perguruan tinggi, Generative AI menjadi salah satu bentuk perubahan besar yang harus dipahami. Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk mengolah data, melakukan analisis sentimen, machine learning dan deep learning, kini teknologi tersebut berkembang hingga mampu menghasilkan teks, gagasan, maupun berbagai bentuk konten baru.
Perubahan tersebut membuat Generative AI memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, perguruan tinggi perlu mempersiapkan sivitas akademikanya agar mampu menggunakan teknologi secara tepat dan bijaksana.
“Tanpa kemampuan beradaptasi, kita berisiko tertinggal dan perlahan menghilang ditelan perkembangan zaman,” ungkap Kaban Dhani.
Ia menegaskan bahwa adopsi AI secara bijak merupakan bagian dari proses transformasi perguruan tinggi. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat pendukung, sementara manusia tetap menjadi pihak yang menentukan arah dan bertanggung jawab terhadap penggunaannya.
Tujuan akhirnya, kata dia, bukan sekadar menghasilkan pengguna teknologi, tetapi membentuk Wisdom Leadership atau kepemimpinan yang mampu memadukan kekuatan teknologi, data, nilai kemanusiaan dan kepentingan publik.
“Yang harus kita bangun bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi manusia yang memiliki kompetensi dan kapasitas untuk memimpin perubahan. Mari kita buat komitmen bersama, AI hanyalah perangkat, tanggung jawab diemban oleh manusia,” ujarnya.
UIN Bandung Siapkan Tahun Akademik 2026/2027
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, mengatakan kegiatan pembinaan pegawai juga menjadi bagian dari persiapan universitas menghadapi berbagai agenda kelembagaan.
Ia mengajak seluruh unsur pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan memperkuat koordinasi menjelang pelaksanaan Tahun Akademik 2026/2027.
Rektor turut mengapresiasi proses penerimaan mahasiswa baru yang telah berlangsung. Sebagian besar kuota mahasiswa baru yang disediakan universitas disebut telah terisi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung masih mendapatkan kepercayaan dan perhatian dari masyarakat.
“Alhamdulillah, sebagian besar informasi yang sudah disiapkan oleh Bapak dan Ibu sudah terpenuhi. Tentu ini indikator yang kuat bahwa UIN Bandung masih menjadi pilihan masyarakat,” katanya.
Rosihon Anwar juga memberikan apresiasi kepada jajaran fakultas dan tim Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang telah berperan dalam menyukseskan proses penerimaan mahasiswa baru.
Setelah tahapan PMB selesai, universitas mulai mempersiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut mahasiswa baru. Salah satu agenda yang akan dilaksanakan adalah Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Kegiatan PBAK dijadwalkan berlangsung pada 25-27 Agustus 2026. Seluruh unsur universitas diminta memastikan berbagai persiapan berjalan dengan baik agar rangkaian awal tahun akademik dapat berlangsung tertib dan profesional.
Tahun Akademik 2026/2027 sendiri akan menjadi momentum bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk terus memperkuat kualitas layanan pendidikan sekaligus meningkatkan kesiapan sivitas akademika dalam menghadapi perubahan teknologi, termasuk perkembangan AI yang semakin pesat.(nrl/yog)












