Netizen Ramai-Ramai Ragukan Isu “Super Flu Lebih Parah dari Covid-19”: Disebut Bisnis Vaksin hingga Pembodohan Publik

ilustrasi Super Flu. (ist)

BACATODAY.COM — Isu kemunculan penyakit yang disebut Super Flu dan diklaim lebih berbahaya dibanding Covid-19 ramai diperbincangkan di ruang digital. Namun alih-alih menimbulkan kepanikan, isu tersebut justru menuai respons skeptis dari warganet. Banyak netizen meragukan kebenaran klaim tersebut dan menilai narasi Super Flu sebagai bentuk penggiringan opini publik, bahkan dikaitkan dengan kepentingan bisnis vaksin.

Di kolom komentar media sosial @malangraya_info, sejumlah netizen menyampaikan kritik tajam. Akun @its.kikhy secara singkat menulis, “Bisnis vaksin ????????????,” yang langsung mendapat banyak respons dari pengguna lain. Nada serupa disampaikan akun @hish.saja yang menyebut isu tersebut sebagai “pembohongan dan pembodohan publik.”

Sindiran juga disampaikan dalam bahasa daerah. Akun @muhammad.fariz.yulianto mengimbau masyarakat agar tidak mudah panik dan mengaitkan isu ini dengan pengalaman program vaksinasi sebelumnya. “Wes ojok digubris… timbang vaksin peng 100, duwek sak vaksinasi gede,” tulisnya.

Komentar bernada satire turut bermunculan. Akun @adixwakul menyebut isu Super Flu hanya sebagai keributan tahunan yang selalu muncul tanpa kejelasan. “Onok ae ontran-anyar tas ganti tahun, kurang kebek ta kesak’e,” tulisnya.
Tak sedikit pula netizen yang mempertanyakan motif ekonomi di balik isu tersebut. “Golek cwan lewat penyakit maneh???” tulis akun @iroeldrawing.

Sementara akun @sabda.aziz_dm menanggapi dengan nada religius, “AQ wedine namung Ten Gusti Allah SWT,” menegaskan bahwa ketakutannya hanya kepada Tuhan. Bahkan ada pula yang menganggap isu ini sekadar lelucon. “Lelucon apa lagi ini ????,” tulis akun @morris_situmorang.

Di tengah derasnya perdebatan publik, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya angkat bicara untuk meluruskan informasi. Juru Bicara Kemenkes Widyawati menegaskan bahwa influenza A (H3N2) subclade K yang dijuluki Super Flu tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding flu musiman.

“Berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan. Gejalanya umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar Widyawati, dikutip dari Antara, Kamis (1/1/2026).

Ia juga memastikan bahwa vaksin flu yang tersedia saat ini masih efektif untuk mengurangi risiko sakit berat hingga kematian akibat influenza A (H3N2). Meski demikian, pemerintah tetap melakukan surveilans, pelaporan rutin, serta menyiapkan langkah kebijakan sesuai perkembangan situasi.

Widyawati menjelaskan bahwa secara global, peningkatan kasus influenza A memang sempat terjadi di Amerika Serikat pada minggu ke-40 tahun 2025 atau sekitar Oktober, seiring masuknya musim dingin. Namun pola tersebut dinilai serupa dengan tren tahun-tahun sebelumnya.

Sementara di kawasan Asia, subclade K dilaporkan muncul di sejumlah negara seperti China, Korea, Jepang, Singapura, dan Thailand. “Dalam dua bulan terakhir, tren di negara-negara Asia justru mengalami penurunan, begitu juga di Indonesia,” jelasnya.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) di 8 provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Kemenkes menegaskan bahwa seluruh varian yang ditemukan merupakan varian yang sudah dikenal dan bersirkulasi secara global.

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan, beristirahat cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi. (yog/red)