
BACATODAY.COM – Menjaga kesehatan keluarga ternyata bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: bernapas dengan benar. Pesan itulah yang dibawa tim dosen keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Brawijaya (UB) melalui program pengabdian masyarakat bertajuk BERNAS (BERlatih NApas Sehat) di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Program ini menyasar para ibu rumah tangga sebagai garda terdepan kesehatan keluarga. Melalui pelatihan teknik pernapasan sederhana, peserta diajak mengelola kecemasan, mengurangi stres, sekaligus membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan akademisi terhadap penguatan kesehatan masyarakat dan gerakan Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) yang tengah dijalankan Pemerintah Desa Kalisongo.
Sebagai desa binaan yang berada di kawasan lingkar kampus FIKES UB, Kalisongo menjadi lokasi strategis bagi sivitas akademika untuk menerapkan hasil riset dan inovasi keperawatan secara langsung kepada masyarakat.
Program BERNAS dipimpin oleh Ns. Dewi Purnama Sari, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB, dosen sekaligus Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah FIKES UB. Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah dosen keperawatan, antara lain Prof. Dr. Ahsan, S.Kp., Ns., M.Kes., Ns. Tony Suharsono, S.Kep., M.Kep., Dr. Mukhamad Fathoni, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Dina Dewi Sartika Lestari Ismail, S.Kep., Ns., M.Kep., serta Ns. Setyoadi, S.Kep., M.Kep., bersama mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan.
Menurut Dewi, lahirnya program ini berangkat dari realitas yang kerap dihadapi para ibu rumah tangga. Rutinitas domestik yang berlangsung tanpa jeda sering kali memunculkan tekanan psikologis yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
“Peran ibu rumah tangga sangat penting dalam menjaga kesehatan keluarga. Ketika ibu sehat secara fisik dan mental, maka kesehatan seluruh anggota keluarga juga akan lebih terjaga. Melalui BERNAS, kami ingin memberikan keterampilan yang mudah dilakukan kapan saja, tanpa biaya dan tanpa alat khusus,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan teknik pernapasan terintegrasi yang mengombinasikan pernapasan diafragma (perut) dan pursed-lip breathing dengan pola 4-7-8. Teknik ini dilakukan dengan menarik napas melalui hidung selama empat hitungan, menahannya selama tujuh hitungan, lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut yang dikerucutkan selama delapan hitungan.
Latihan dilakukan sebanyak 10 kali pengulangan dalam satu sesi dan dianjurkan dipraktikkan selama tiga hingga lima menit, satu hingga tiga kali setiap hari. Untuk memastikan keberlanjutan program, tim pengabdian juga menyediakan modul digital, video demonstrasi, serta pengingat harian melalui grup WhatsApp.
Keunikan BERNAS tidak hanya terletak pada latihan pernapasan yang diajarkan, tetapi juga keterkaitannya dengan program kesehatan desa. Kegiatan ini mendukung kerja Tim Desa Siaga Tuberkulosis Desa Kalisongo yang telah dibentuk melalui Surat Keputusan Kepala Desa Nomor 400.10.2.2/17/35.07.2202002/2026.
Kepala Desa Kalisongo, Siswanto, S.S.P, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, ibu rumah tangga usia produktif memiliki peran strategis sebagai primary caregiver dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TBC di lingkungan keluarga.
Selain menjadi pendamping utama pasien dalam memastikan kepatuhan konsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sebagai Pengawas Minum Obat (PMO), para ibu juga berperan penting dalam memutus rantai penularan penyakit di lingkungan rumah tangga.
Meski demikian, Dewi menegaskan bahwa latihan pernapasan yang diberikan bukanlah pengganti pengobatan medis.
“Latihan napas ini bersifat sebagai terapi pendukung, bukan pengganti pengobatan. Bagi warga yang sedang menjalani pengobatan TBC, konsumsi obat tetap harus sesuai anjuran tenaga kesehatan. BERNAS hadir untuk membantu menenangkan pikiran, menstabilkan kondisi tubuh, dan menjaga daya tahan tubuh,” jelasnya.
Program ini juga didukung oleh hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya. Teknik pernapasan serupa pernah diterapkan Dewi saat menempuh pendidikan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Penelitian lanjutan bersama tim FIKES UB kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Q2 AIDS Care pada 2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan pernapasan mampu menurunkan tingkat kecemasan secara signifikan pada orang dengan HIV/AIDS, baik yang memiliki riwayat TBC maupun yang tidak.
Dalam pelaksanaan pengabdian ini, dampak program diukur menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk menilai tingkat kecemasan dan Perceived Immune Functioning (PIF) guna mengukur persepsi daya tahan tubuh peserta sebelum dan sesudah pelatihan.
Tak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, BERNAS juga menjadi ruang belajar lapangan bagi mahasiswa. Mahasiswa semester IV dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan, dokumentasi, hingga pendampingan kader kesehatan masyarakat. Kegiatan tersebut bahkan dapat dikonversi sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Sebagai langkah keberlanjutan, tim pengabdian membentuk kader kesehatan jiwa terlatih di Desa Kalisongo serta menyiapkan modul digital dan buku saku ber-ISBN yang dapat digunakan masyarakat sebagai panduan praktik mandiri.
Melalui BERNAS, tim dosen FIKES UB berharap para ibu rumah tangga memiliki bekal keterampilan sederhana untuk menjaga kesehatan mental dan fisik, sehingga mampu membangun keluarga yang lebih sehat, tangguh, dan produktif.
Program ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, serta target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.
“Napas yang sehat akan melahirkan keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat akan membentuk desa yang sehat,” pungkas Dewi. (yog)











