BACATODAY.COM — Sore itu, seorang maestro, lelaki berusia 70-an tahun, dan seorang anak kecil menari dalam satu ruang.
Rianto, maestro Lengger Lanang Banyumas, tengah menari di Rumah Cibun, Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Banyumas. Iringan gamelan masyarakat setempat mengalun.
Tiba-tiba Pak Kedi, lelaki berusia sekitar 70 tahun, masuk dan ikut menari. Tak lama kemudian, Nanang, siswa kelas II sekolah dasar, menyusul.
Keduanya mengambil peran sebagai badut.
Tiga generasi bertemu dalam sebuah tarian.
Beberapa jam kemudian, pemandangan serupa kembali terjadi. Kali ini bukan tarian, melainkan suara.
Di ruang terbuka Rumah Cibun, tiga anak berdiri di atas batu dan melantunkan Macapat Babad Pasir Luhur.
Mereka adalah Aditia Rifqi, 10 tahun, cucu Mbah Sikun; Dwi Nanang Setiawan, 8 tahun; dan Ismey Jumiati, 12 tahun.
Adegan sederhana itu sesungguhnya menggambarkan sebuah perjuangan panjang: tradisi yang hampir terputus sedang mencari jalan untuk kembali hidup melalui generasi baru.
Sabtu, 8 Agustus 2026, Rumah Cibun menggelar Nyore Sandekala | Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen.
Sekitar 30 orang hadir. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai masyarakat Cibun, seniman, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis, hingga para pelestari budaya.
Kinanthi, tari, rembug budaya, jamuan pangan lokal, live painting lanskap Cibun, suling bambu Rahman Khan, hingga lantunan Babad Pasir Luhur menjadi bagian dari rangkaian acara.
Namun lebih dari sekadar pertunjukan, seluruh kegiatan malam itu seperti mengirimkan satu pesan: budaya Cibun bukan sesuatu yang hanya dipentaskan, tetapi sesuatu yang masih hidup dalam keseharian masyarakat.
Dari Satu Pemaca yang Tersisa
Babad Pasir Luhur bukan sekadar cerita rakyat.
Ia merupakan bagian dari ingatan sejarah masyarakat Banyumas.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyebut Babad Pasir Luhur sebagai salah satu babad tertua Banyumas. Kabupaten Banyumas, yang dahulu merupakan Kadipaten Banyumas, berdiri pada 1571. Sementara salah satu naskah penting Babad Banyumas, Serat Babad Banyumas Mertadiredjan, ditulis sekitar 1816–1824.
Namun ironisnya, tradisi melantunkan Babad Pasir Luhur hampir saja hilang.
Di Cibun, pernah hidup Mbah Sikun, salah seorang pemaca Babad Pasir Luhur. Ketika Nisa Roiyasa mengenal Cibun pada 2019, tradisi itu sudah berada di ujung tanduk.
Nisa bukan warga Cibun.
Ia adalah ibu dua anak, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, dan berasal dari Kabupaten Tegal.
Langkah pertamanya bukan mengumpulkan anak-anak untuk membaca babad.
Ia justru mencari jejak teksnya.
Naskah Babad Pasir Luhur yang dahulu hidup di tengah masyarakat Cibun ternyata sebagian besar sudah dibuang. Sebagian lainnya terserak dan hilang.
Yang tersisa antara lain beberapa bagian yang telah dilatinkan serta buku tulisan tangan Mbah Sikun dalam aksara Jawa.
Dari jejak yang tersisa itulah perjalanan dimulai.
Nisa menelusuri berbagai literatur, menemui Prof. Sugeng Priyadi, salah satu peneliti penting Babad Pasir, hingga mendatangi penerbit di Yogyakarta yang menerbitkan teks Babad Pasir Luhur yang kemudian digunakan di Cibun.
Dalam penelitian mengenai Babad Pasir, peneliti Belanda J. Knebel menerbitkan Babad Pasir pada 1900 berdasarkan manuskrip Banyumas.
Menurut Nisa, teks yang kini dibaca di Cibun merupakan hasil kompilasi Knebel yang kemudian direvitalisasi Prof. Sugeng Priyadi.
Dalam proses awal tersebut, Nisa mendapat pendampingan dari dalang jemblung Agung Wicaksana, Iang Kie Bae yang melatih anak-anak untuk Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah, serta dua koleganya di kampus, Dr. Chusni Hadiati dan Enni Nur Aeni, M.A.
Perlahan, kelompok pemaca kembali dibentuk dari kalangan orang dewasa.
Setelah itu, pewarisan mulai diarahkan kepada anak-anak.
Tahun 2022 menjadi titik penting.
Mbah Sikun meninggal dunia.
Tetapi pengetahuannya tidak ikut terkubur.
Anak-anak Cibun justru mulai mengambil alih peran sebagai generasi penerus.
Pada tahun yang sama, mereka tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang.
Mereka membawakan kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa melalui maca babad dan jemblungan, tradisi akapela yang dikenal dalam kebudayaan Banyumas.
Tradisi yang hampir padam itu perlahan kembali mendapatkan suara.
Babad yang Tidak Hanya Dibaca
Di Cibun, Babad Pasir Luhur tidak berhenti sebagai teks.
Sebagian pengetahuan dan praktik kehidupan yang terkandung dalam kisahnya masih dijalankan masyarakat hingga hari ini.
Era Prima Nugraha dari komunitas Sthanaluhur Indonesia menjelaskan hal tersebut ketika memperkenalkan sajian dalam Twilight Dinner.
Salah satunya adalah ikan hasil marak, yakni ikan yang ditangkap dengan cara membendung atau mengalihkan aliran sungai.
Praktik tersebut memiliki jejak dalam Babad Pasir Luhur.
Dalam kisahnya, terdapat cerita mengenai aktivitas menangkap ikan di Sungai Logawa dengan membendung aliran sungai. Dari aktivitas itu kemudian dikisahkan pertemuan Kamandaka dan Dewi Ciptarasa, dua tokoh utama Babad Pasir Luhur.
Di Cibun, kisah itu bukan sekadar masa lalu.
Sungainya masih digunakan.
Cara menangkap ikannya masih dikenal.
Dan hasilnya masih tersaji di meja makan.
Menu lainnya juga berasal dari pengetahuan pangan lokal Cibun, seperti Sega Tutu, Cimplung Dawegan, Ayam Burus, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak, dan Tempe Ireng.
Malam itu, Babad Pasir Luhur bukan hanya dibacakan.
Sebagian dunia yang diceritakannya masih dimakan.
Ketika Pohon Tua Mulai Hilang
Tetapi menjaga kebudayaan Cibun ternyata tidak cukup hanya dengan menjaga teks dan kesenian.
Ada lanskap yang juga harus dipertahankan.
Rianto menyebut Cibun memiliki energi yang berbeda. Baginya, tempat itu terasa sangat organik.
Ia pernah datang bersama Pak Tarmaji dan menari di tengah sawah.
Namun ketika kembali ke Cibun pada 8 Agustus, ia mendapati sesuatu telah berubah.
Sekitar dua bulan sebelumnya, Rianto masih melihat sebuah pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun.
Kini pohon itu sudah ditebang.
Yang tersisa hanya potongan kayu.
Masyarakat mencatat, dalam waktu kurang dari dua tahun sedikitnya empat pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun telah ditebang berkaitan dengan persiapan pembangunan jembatan.
Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam diskusi budaya malam itu.
Bangkit Ari Sasongko, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH), mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik berpotensi menghilangkan kekayaan alam Cibun.
“Kalau salah dalam merencanakan pembangunan, semua yang indah ini akan hilang,” ujarnya.
Karena itu, aspirasi masyarakat perlu disampaikan kepada para wakil rakyat agar rencana pembangunan jembatan dan pengaspalan jalan dapat dikaji lebih lanjut.
Sebab, bagi masyarakat Cibun, alam bukan sekadar latar belakang kebudayaan.
Alam adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri.
Dari Tradisi Menjadi Gerakan Bersama
Rembug budaya yang dipandu Dr. Nurul Hidayat, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Teknik Unsoed, kemudian membawa pembicaraan pada persoalan yang lebih luas.
Budaya masih sering ditempatkan bukan sebagai prioritas.
Padahal budaya bukan hanya kesenian.
Apa yang sedang diselamatkan Cibun merupakan bagian dari warisan kebudayaan masyarakat Banyumas, wilayah yang kini memiliki 27 kecamatan dengan 331 desa dan kelurahan.
Jika sebuah dusun kecil mampu menghidupkan kembali tradisi yang hampir punah, pemerintah daerah semestinya melihatnya bukan sebagai urusan segelintir warga, melainkan sebagai aset kebudayaan bersama.
Nasirun Purwokartun dari Bale Pustaka, pelestari Babad Banyumas, datang dengan pengalaman panjang menyelamatkan naskah.
Sejak 2014, ia mengumpulkan sekitar 100 naskah babad Banyumas dan menerjemahkan lebih dari 25 di antaranya. Dari proses itu kemudian berkembang lebih dari 100 judul Serial Babad Banyumas.
Menurut Nasirun, tradisi maca babad yang dilakukan anak-anak Cibun memiliki keistimewaan.
Bukan hanya karena tradisi tersebut langka, tetapi karena pengetahuan lama masih berhasil diwariskan secara langsung kepada generasi muda.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah.
Nisa dan para inisiator Rumah Cibun menghadapi pasang surut, kelelahan, hingga penolakan dari sebagian warga yang belum memahami pentingnya tradisi tersebut.
Ia harus mengawal latihan. Tidak jarang, ia berjalan kaki seorang diri melewati jembatan gantung menuju Cibun pada malam hari.
“Ketika saya merasa kecapekan dan hilang semangat, datang dukungan dari teman-teman yang lain,” katanya.
Kini dukungan itu semakin luas.
Ada Rianto, maestro Lengger Lanang Banyumas yang telah membawa seni tradisi Banyumas ke berbagai panggung nasional dan internasional.
Ada akademisi, seniman, pelukis, jurnalis, pegiat lingkungan, pelestari babad, mahasiswa, hingga pegiat budaya dari berbagai daerah.
Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi, komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat melalui kebudayaan dan lingkungan hidup, mengingatkan satu hal penting dalam sesi diskusi.
“Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?”
Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kalimat penutup.
Sebelum meninggalkan Cibun, para peserta menandatangani Prasasti Cibun sebagai komitmen untuk bergerak bersama melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Cibun.
Malam semakin larut.
Anak-anak kembali membaca Babad Pasir Luhur.
Di sebuah dusun kecil, suara leluhur yang nyaris hilang ternyata belum benar-benar padam.
Tetapi masa depan suara itu tidak hanya bergantung pada apakah anak-anak masih mau membaca.
Ia juga bergantung pada apakah sungai tetap mengalir, pohon-pohon tua tetap berdiri, lanskap tetap terjaga, dan pembangunan tidak menghapus ruang hidup masyarakat.
Sebab kebudayaan bukan ornamen pembangunan.
Kebudayaan adalah akar yang membuat sebuah masyarakat tahu dari mana mereka berasal.
Dan di Cibun, akar itu sedang berusaha tumbuh kembali. (*)












