
BACATODAY.COM — Pelukis remaja asal Malang, Aliya Sakina Murdoko, berhasil meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025, penghargaan tertinggi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, Rabu malam (17/12/2025), bersama 31 penerima AKI 2025 lainnya.
Remaja kelahiran 2010 ini dikenal unik karena konsisten mengeksplorasi Cerita Panji, kisah klasik asli Jawa Timur berlatar Kerajaan Daha atau Kadiri, yang mengisahkan cinta sejati Pangeran Panji Inu Kertapati dari Kerajaan Kadiri (Panjalu) dengan Galuh Candrakirana atau Dewi Sekartaji dari Kerajaan Jenggala. Cerita Panji sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) sejak 2017.
Siswa kelas X SMA National Leader School Malang ini sebelumnya telah menggelar dua pameran tunggal. Pameran pertama bertajuk “Panji Sacrifice” dengan 12 karya lukisan akrilik dan cat minyak di atas kanvas digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Januari 2024. Pameran tunggal keduanya bertajuk “Cerita Panji, Menafsir Tradisi Topeng Malangan” kembali digelar di MCC pada Agustus 2025.
“Saya tentunya sangat bersyukur dan senang atas penghargaan tertinggi ini,” ujar Aliya, penerima AKI 2025 kategori Anak dan Remaja bidang Seni Rupa, saat diwawancarai BacaToday.com di Malang, Senin (22/12/2025).
Aliya mengaku telah mengincar penghargaan tersebut sejak pameran tunggal pertamanya pada 2024. Meski sempat gagal pada kesempatan sebelumnya, ia tetap mencoba kembali di tahun 2025. “Waktu itu saya sangat berharap tapi belum lolos. Tahun ini saya maju dengan lebih santai, nothing to lose, dan alhamdulillah malah dapat,” tuturnya.

Remaja yang telah melukis sejak balita ini tercatat meraih lebih dari 150 penghargaan internasional dan pernah berpameran di berbagai ajang seni dan festival budaya anak di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Rusia, Latvia, Bulgaria, dan India.
Sebelum menerima anugerah di Jakarta, Aliya didatangi tim AKI 2025 untuk pembuatan video dokumentasi karya-karyanya. Pada malam penganugerahan, ia bahkan mendapat special private stage untuk menunjukkan kemampuan melukis secara langsung. “Selama dua jam saya melukis kembali salah satu karya favorit saya, Pelarian Chandra Kirana, dengan pendekatan berbeda,” ungkapnya.
Kebanggaan lain yang dirasakan Aliya adalah dapat bertemu langsung dengan penyair senior asal Madura, D. Zawawi Imron, yang dikenal sebagai “Si Celurit Emas”.
Anak didik Sanggar DAUN ini turut menyampaikan terima kasih kepada orang tua, guru, teman sekolah, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Ia juga secara khusus menyebut peran Arik S. Wartono dari Sanggar DAUN yang telah mengenalkannya pada Cerita Panji sekaligus menjadi kurator dua pameran tunggalnya.
Ke depan, Aliya menegaskan akan tetap fokus mengeksplorasi Cerita Panji dalam karya lukisnya. “Saya akan terus mencari referensi, salah satunya dari Pak Henri Nurcahyo, Ketua Komunitas Seni Budaya BrangWetan sekaligus inisiator Pusat Konservasi Budaya Panji,” katanya.
Aliya juga mengaku senang mendapatkan uang pembinaan dari AKI 2025. “Bisa buat beli laptop dan sisanya ditabung,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, pendiri dan pembina Sanggar DAUN, Arik S. Wartono, mengaku bangga atas capaian Aliya. Menurutnya, Anugerah Kebudayaan tidak bisa diraih hanya dengan keberuntungan semata. “Penghargaan ini membutuhkan program yang terukur. Keberuntungan hanya datang kepada mereka yang siap menerimanya,” tegasnya.
Arik menambahkan, Sanggar DAUN yang berpusat di Gresik telah meloloskan sejumlah anak didiknya dalam AKI, termasuk dari Surabaya dan Malang. Ia juga berencana menyiapkan program lanjutan Cerita Panji yang disesuaikan dengan jadwal sekolah Aliya.
“Penghargaan ini membuktikan bahwa Cerita Panji masih hidup dan relevan dengan perkembangan zaman serta alam pikir generasi anak dan remaja hari ini,” pungkas Arik. (ned/yog)











