
BACATODAY.COM – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengantar keberangkatan Presiden Prabowo Subianto menuju Washington D. C., Amerika Serikat, dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Senin. Prosesi pelepasan berlangsung di area Base Ops, di mana Wapres bersama sejumlah pejabat tinggi negara berdiri di sisi tangga pesawat kepresidenan.
Sebelum menaiki pesawat, Presiden Prabowo menyalami Wapres Gibran serta para pejabat yang hadir, di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala Badan Intelijen Negara M. Herindra. Dalam kunjungan tersebut, Presiden turut didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.
Selama berada di Washington D. C., Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump Jr. Agenda pembahasan mencakup penguatan hubungan bilateral Indonesia–Amerika Serikat serta peningkatan kerja sama di sejumlah sektor strategis. Kedua pemimpin juga direncanakan menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) yang proses perundingannya telah berlangsung sejak 2025.
Selain agenda bilateral, Presiden Prabowo juga memenuhi undangan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) di Washington D. C.
Menjelang keberangkatan, Presiden sempat menggelar rapat terbatas di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (15/2). Rapat tersebut dihadiri sejumlah menteri, antara lain Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Dalam pertemuan itu, Presiden membahas strategi Indonesia menghadapi negosiasi ekonomi dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan dua prinsip utama, yakni setiap posisi Indonesia dalam perundingan internasional harus memberikan keuntungan optimal bagi kepentingan nasional, serta kerja sama ekonomi yang dibangun tidak bersifat sementara, melainkan dirancang untuk memperkuat fondasi industri dalam negeri secara berkelanjutan. (nrn/yog)











