Tasawuf Jadi Jawaban Krisis Spiritual Generasi Modern, UNPAB Medan Gelar Rangkaian Seminar dan Workshop

Kegiatan mengupas tasawuf untuk generasi kontemporer. (ist)

BACATODAY.COM – Di tengah derasnya arus modernitas dan kemajuan teknologi, krisis spiritual menjadi fenomena nyata yang melanda manusia kontemporer. Kehidupan materialistis dan individualistis kerap menimbulkan kehampaan batin, membuat banyak orang kehilangan arah hidup.

Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) Medan berkolaborasi dengan Lembaga Ilmiah Metafisika Tasawuf Islam (LIMTI) menggelar rangkaian seminar dan workshop tasawuf pada 10, 14, dan 15 Agustus 2025.

Kegiatan ini mengangkat kembali pemikiran ulama besar Indonesia, Sayyidi Syeikh Prof. Dr. Kadirun Yahya, M.Sc., sebagai upaya membumikan tasawuf agar tetap relevan bagi generasi modern.

Dzikrullah dan Pemberdayaan Komunitas

Acara perdana berlangsung di Surau Baitul Muthahar, Kabupaten Langkat, Minggu (10/8). Seminar ini menghadirkan Syeikh Dr. H. Ahmad Baqi Arifin dan Prof. Dr. Vivi Purwandari.

Ahmad Baqi menekankan pentingnya dzikrullah sebagai pilar kemajuan masyarakat. Menurutnya, krisis spiritual terjadi karena manusia kerap melupakan Tuhan hingga usia senja. Ia juga menegaskan perlunya pembuktian kebenaran agama secara ilmiah, bukan sekadar dogma.

Sementara itu, Prof. Vivi memperlihatkan bagaimana tasawuf dapat membumi melalui pengolahan sumber daya alam, seperti daun kelor dan telang, yang memiliki manfaat kesehatan sekaligus nilai ekonomi.

Tasawuf dan Pencarian Kedamaian Batin

Workshop kedua berlangsung di Aula Gedung Al Huda-UNPAB Medan, Kamis (14/8). Mengusung tema Tips dan Trik Menemukan Kedamaian Batin, kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Ris’an Rusli (UIN Raden Fatah Palembang), Syeikh H. Ahmad Syukran Bestari (cucu Kadirun Yahya), dan Dr. Agus Himmawan Utomo (UGM).

Diskusi menegaskan tasawuf sebagai jalan menuju ketenangan jiwa. Ahmad Syukran menekankan bahwa dzikir dan muraqabah adalah cara efektif untuk mencapai kedamaian hati, sementara Dr. Agus mengingatkan pentingnya filsafat agama agar manusia tidak kehilangan makna hidup di tengah rutinitas modern.

Membumikan Tasawuf di Era Modern

Rangkaian ditutup dengan seminar Membumikan Tasawuf di Era Modern di Rumah Suluk Baitul Jafar, Deli Serdang, Jumat (15/8).

Ahmad Baqi kembali menegaskan bahwa tasawuf harus didekati dengan cara ilmiah agar dapat diterima generasi kontemporer. Hal ini sejalan dengan warisan pemikiran Kadirun Yahya yang menekankan bukti spiritual berbasis fakta.

Assoc. Prof. Ir. Syarifuddin menambahkan perspektif akademis mengenai dimensi metafisika tasawuf, menegaskan bahwa ajaran ini tetap relevan menjawab krisis spiritual di era digital.

Spiritualitas sebagai Jalan Transformasi

Melalui tiga rangkaian acara ini, tasawuf diposisikan bukan sekadar ajaran mistis, melainkan kekuatan transformatif yang mampu menjembatani kebutuhan spiritual dengan realitas modern.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran spiritual masyarakat sekaligus membuktikan bahwa ajaran tasawuf tetap aplikatif untuk menjawab tantangan globalisasi. (rmp/red)