Peradaban yang Lelah: Ketika Algoritma Menguasai Pikiran dan Kesehatan Mental Menjadi Krisis Kemanusiaan

ilustrasi. (ist)

Oleh: Agustinus Tedja, Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)

Kesehatan mental bukan sekadar persoalan medis. Ia merupakan cermin sebuah peradaban. Ketika semakin banyak orang diliputi kecemasan, kehilangan makna hidup, terjebak dalam perbandingan sosial, bahkan merasa gagal hanya karena tidak mampu menyamai kehidupan yang mereka lihat di layar telepon genggam, sesungguhnya yang sedang sakit bukan hanya individu. Yang mengalami gangguan adalah cara sebuah peradaban membentuk kesadaran manusia.

Kita hidup pada zaman ketika algoritma lebih sering menentukan arah perhatian daripada hati nurani. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan telah berkembang menjadi ruang yang membentuk cara manusia berpikir, menginginkan sesuatu, bahkan menilai dirinya sendiri. Apa yang terus-menerus muncul di layar perlahan dianggap sebagai kenyataan, padahal kenyataan tersebut telah dipilih, disaring, dan direkayasa oleh sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian kita selama mungkin.

Akibatnya, manusia tidak lagi menjalani hidup berdasarkan pengalaman pribadinya, melainkan berdasarkan kehidupan orang lain yang terus dipertontonkan. Kita tidak sedang membandingkan kenyataan dengan kenyataan, tetapi membandingkan kehidupan nyata dengan panggung yang telah dipoles sedemikian rupa.

Inilah bentuk baru penjajahan—bukan penjajahan atas wilayah, melainkan penjajahan atas kesadaran.

Filsuf Prancis Jean Baudrillard menggambarkan kondisi ketika manusia lebih mempercayai citra daripada kenyataan. Ia menyebutnya sebagai hiperrealitas, yakni keadaan ketika simulasi terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri. Di era digital, gagasan tersebut menemukan relevansinya. Banyak orang lebih percaya pada foto yang sempurna daripada kehidupan yang sebenarnya. Mereka mengejar citra, bukan makna.

Di sisi lain, Viktor Frankl mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya tidak terutama membutuhkan kenyamanan, melainkan makna. Ketika hidup kehilangan makna, kekosongan batin akan diisi oleh apa saja: popularitas, konsumsi, validasi, atau ambisi tanpa batas. Namun, semuanya hanya menghadirkan kepuasan sesaat. Setelah euforia berlalu, yang tersisa hanyalah kehampaan.

Di titik inilah kesehatan mental mulai mengalami keretakan.

Masalahnya bukan karena manusia terlalu banyak bermimpi. Persoalannya adalah ketika mimpi dipisahkan dari kenyataan. Ambisi tidak lagi berjalan berdampingan dengan logika. Keinginan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan, sementara imajinasi melesat jauh meninggalkan kesiapan mental.

Ibarat seseorang yang ingin memanen buah setiap minggu, tetapi enggan menanam pohon. Ia iri melihat kebun orang lain yang rindang tanpa pernah menyadari puluhan tahun yang dibutuhkan agar pohon itu berbuah. Ketika hasil instan tak kunjung datang, ia menyimpulkan dirinya gagal. Padahal yang keliru bukan dirinya, melainkan cara berpikirnya.

Fenomena ini semakin diperparah oleh budaya konsumsi. Nilai manusia perlahan bergeser. Keberhasilan diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari karakter yang dibangun. Pengakuan lebih dihargai daripada integritas. Penampilan dianggap lebih penting daripada kedalaman berpikir.

Tidak mengherankan jika banyak orang merasa lelah meski tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Yang kelelahan bukan tubuh, melainkan pikiran yang terus dipaksa mengejar standar yang tak pernah berakhir.

Lebih jauh lagi, krisis kesehatan mental bukan semata persoalan individu. Ia merupakan persoalan sistem. Anak-anak tumbuh di tengah budaya perbandingan. Dunia pendidikan sering kali lebih menghargai angka daripada karakter. Dunia kerja mengagungkan produktivitas tanpa memberi ruang yang cukup bagi kemanusiaan. Politik kerap memelihara polarisasi, sementara media lebih mengejar perhatian daripada kebijaksanaan. Semua itu membentuk ekosistem yang membuat manusia sulit merasa cukup.

Karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada terapi atau konseling. Keduanya memang penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Yang lebih mendasar adalah membangun budaya yang mengembalikan manusia pada kenyataan. Kita perlu mengajarkan bahwa proses lebih berharga daripada pencitraan, bahwa kegagalan merupakan bagian dari pertumbuhan, dan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk berkembang.

Sebagai pelaku perlindungan anak, perempuan, dan kemanusiaan, saya melihat semakin banyak individu yang sebenarnya bukan kehilangan kemampuan, melainkan kehilangan arah. Mereka hidup di bawah bayang-bayang ketakutan karena merasa harus selalu tampak berhasil. Mereka takut menjadi manusia biasa, padahal sebagian besar kehidupan memang dijalani dalam kesederhanaan. Justru dari kesederhanaan itulah lahir ketangguhan, empati, dan kebijaksanaan.

Kita juga perlu berani mengkritik budaya yang menganggap setiap kesedihan sebagai gangguan, setiap kegagalan sebagai akhir kehidupan, dan setiap keberhasilan sebagai satu-satunya ukuran nilai manusia. Tidak semua kesedihan adalah penyakit. Tidak semua tekanan harus dihindari. Sebagian penderitaan justru membentuk kedewasaan. Yang perlu dihindari bukan tantangan hidup, melainkan hilangnya kemampuan untuk menemukan makna di balik setiap tantangan.

Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang menghapus seluruh penderitaan, melainkan peradaban yang membekali manusia dengan kemampuan menghadapi penderitaan secara bermartabat.

Pada akhirnya, kesehatan mental adalah persoalan keseimbangan: keseimbangan antara ambisi dan logika, antara mimpi dan kerja nyata, antara teknologi dan kebijaksanaan, serta antara kebebasan individu dan tanggung jawab sosial.

Selama algoritma lebih dipercaya daripada akal sehat, selama validasi publik lebih dicari daripada kedamaian batin, dan selama pencitraan lebih diutamakan daripada kejujuran kepada diri sendiri, krisis kesehatan mental akan terus berkembang menjadi krisis kemanusiaan.

Sudah saatnya kita membangun peradaban yang tidak hanya melahirkan manusia-manusia cerdas, tetapi juga manusia yang mampu berpikir jernih, menerima kenyataan dengan rendah hati, mengelola ambisi secara bijaksana, serta menemukan makna hidup bukan dari tepuk tangan dunia, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Sebab, kesehatan mental yang paling kokoh bukan lahir dari kehidupan yang sempurna, melainkan dari keberanian manusia untuk hidup apa adanya, bertumbuh setahap demi setahap, dan tetap memelihara harapan tanpa pernah meninggalkan realitas.