Mahasiswa Universitas Malahayati Edukasi Siswa SD Cegah Perundungan

Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati saat memberikan edukasi pencegahan perundungan kepada siswa SDN 5 Metro Selatan, Kota Metro, Lampung.(Foto : antara.com)

BACATODAY.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati menggelar kegiatan edukasi tentang pencegahan perundungan di SDN 5 Metro Selatan, Kota Metro, Lampung.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai perilaku bullying sekaligus mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

Ketua Tim KKL-PPM Kelompok 97 Universitas Malahayati, Rizky Firmansyah, mengatakan edukasi tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan yang masih dapat ditemui di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, siswa perlu dibekali pemahaman sejak dini agar mampu menghargai satu sama lain serta mengetahui cara menghadapi berbagai situasi yang berpotensi menimbulkan konflik.

“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diperkenalkan dengan bentuk-bentuk bullying, tetapi juga diajak memahami emosi, mengendalikannya, dan mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat dan positif,” ujarnya.

Ia berharap pengetahuan yang diberikan dapat membantu membentuk karakter anak yang lebih peduli, cerdas, dan memiliki sikap saling menghormati. Pemahaman tersebut juga dinilai penting untuk mencegah kekerasan maupun perilaku negatif lainnya ketika anak memasuki usia remaja.

Perundungan di tingkat sekolah dasar masih menjadi perhatian karena sejumlah tindakan, seperti mengejek, memberikan julukan yang tidak menyenangkan, hingga menjauhkan seseorang dari kelompok pertemanan, sering kali dianggap sebagai bentuk bercanda.

Padahal, tindakan semacam itu dapat memberikan pengaruh buruk terhadap korban. Dampaknya dapat berupa menurunnya rasa percaya diri, terganggunya kondisi psikologis, hingga kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.

Kepala SDN 5 Metro Selatan, Dwi Jayanti, mengapresiasi pelaksanaan edukasi yang diberikan oleh mahasiswa Universitas Malahayati.

Ia menilai pembelajaran mengenai pencegahan bullying serta pengenalan emosi sangat diperlukan bagi siswa sekolah dasar. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membantu anak membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran siswa untuk menghargai teman dan bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta ramah bagi anak,” katanya.

Perwakilan dewan guru SDN 5 Metro Selatan, Defi Meliyana, menambahkan bahwa penggunaan metode simulasi membuat materi lebih mudah dipahami oleh siswa.

Melalui praktik tersebut, siswa dapat melihat secara langsung perbedaan antara candaan yang masih dalam batas wajar dengan perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perundungan.

Menurutnya, sebagian anak terkadang belum memahami bahwa perkataan yang mereka anggap lucu bisa membuat teman merasa terluka. Simulasi juga membantu guru memberikan arahan ketika terjadi persoalan antarsiswa di dalam kelas.

Dalam sesi edukasi, siswa diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman serta menyampaikan perasaan mereka ketika berinteraksi dengan teman-teman di sekolah.

Mahasiswa juga mengenalkan sejumlah cara sederhana untuk mengelola emosi ketika menghadapi masalah. Materi tersebut meliputi pengendalian rasa marah, latihan pernapasan untuk membantu menenangkan diri, serta cara menyampaikan perasaan dengan bahasa yang sopan tanpa menggunakan kekerasan.

Salah seorang siswa kelas V berinisial N (11) mengaku memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Ia mengatakan sebelumnya cenderung diam ketika mendapatkan ejekan atau panggilan yang tidak menyenangkan dari teman. Bahkan, pengalaman tersebut sempat membuatnya merasa takut untuk datang ke sekolah.

Setelah mengikuti edukasi, N memahami bahwa dirinya dapat menenangkan diri dan menyampaikan persoalan kepada guru apabila mengalami tindakan yang membuatnya tidak nyaman.

Sementara itu, siswa kelas IV berinisial R (10) mengaku mulai menyadari bahwa ejekan yang dianggap sebagai candaan dapat memberikan dampak buruk bagi orang lain.

Melalui simulasi yang diberikan, ia memahami bahwa perkataan yang menurutnya lucu ternyata dapat membuat teman merasa sedih. Karena itu, R menyatakan keinginannya untuk tidak lagi mengejek teman dan berusaha meminta maaf atas perilaku tersebut.

Mahasiswa KKL-PPM Universitas Malahayati dan pihak SDN 5 Metro Selatan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai edukasi sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang menolak segala bentuk perundungan.

Dengan meningkatnya kesadaran siswa, lingkungan belajar diharapkan menjadi lebih aman, inklusif, dan menyenangkan. Kondisi tersebut penting agar anak dapat berkembang secara optimal, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kemampuan bersosialisasi serta mengelola emosi.(nrl/yog)